Share It

Melihat kebenaran dari sudut pandang bejana tanah liat

Selamat membaca, merenungkan dan menggugah hati untuk menilik kedalaman hati yang sesungguhnya

Rabu, 07 November 2012

Bahaya Kesepian dalam Persekutuan

Bahan Renungan : Kejadian 4:6-16 dan 2 Korintus 2:5-11

Namanya Vicenzo Riccardi, ditemukan sudah mati selama 13 bulan di Southampton, New york. Tubuhnya tersandar di kursi di depan TV dan TVnya masih hidup.


Bagaimana mungkin orang yang hilang lebih dari setahun dan tidak ada seorang pun yang merasa kehilangan?

Dimanakah keluarganya? Mengapa listriknya masih hidup di rumahnya?
Ternyata, Riccardi adalah seorang yang buta, sehingga dia tidak pernah benar-benar menonton TV, sehingga ia hanya membutuhkan realitas maya itu untuk mengisi kebutuhan nyata akan teman.
Itulah kenyataannya. Ia menjadi pribadi yang kesepian. Terasing.

Selain keadaan yang memang benar-benar sendiri, kesepian bisa diakibatkan oleh beberapa hal seperti:
Pertama, dosa/kesalahan yang pernah dilakukan namun tidak dibereskan yang membuat diri merasa bersalah dan tidak layak sehingga yang ada adalah penolakan diri/menutup diri, contohnya: Kain setelah membunuh adiknya, Habel.
Kedua, Penderitaan/malapetaka yang sedang menimpa seseorang, contohnya : Ayub yang saleh namun kehilangan harta kekayaan dan anak-anaknya bahkan ia terjangkiti sakit borok yang memilukan. Kesepiannya bertambah dengan tuduhan dari sahabat-sahabatnya supaya dia bertobat karena menurut mereka ada dosa yang mungkin ia lakukan sehingga ia tertimpa musibah.
Ketiga, Tekanan hidup yang dialami tanpa dukungan orang lain, contohnya: Elia ketika melarikan diri ke Gunung Horeb setelah diancam akan dibunuh oleh Izebel karena 450 nabi palsunya telah dikalahkan Elia. Elia merasa kesepian karena ia menganggap hanya tinggal dirinya yang menyembah Tuhan Allah di Israel.

Kesepian tersebut membuat orang menjadi kosong/hampa. Seseorang yang kosong tidak akan dapat mampu mengisi makna hidup bagi orang lain. Yang ada hanya upaya dirinya untuk terus diperhatikan, dipedulikan dan dilayani. Seperti vacuum cleaner / penyedot debu demikian pula orang tersebut di tengah-tengah persekutuan. Apa saja akan ditariknya untuk memuaskan hasrat dalam dirinya yang tak terpuaskan.

Kesepian menimbulkan kekosongan dalam jiwa seseorang. Contohnya: seorang perempuan Samaria dalam Yohanes pasal 4 yang pernah bersuamikan 5  orang harus menimba air di sumur Yakub di tengah hari karena ingin menghindari perjumpaan dengan orang-orang yang biasa mengambil air di pagi atau sore hari. Namun Tuhan Yesus mau menjumpai dan bahkan menyapanya serta meminta air kepadanya. Dialog terjadi. Komunikasi dimulai oleh Yesus, seorang Yahudi. Perempuan itu mau mengakui bahwa ia adalah orang yang selalu kehausan, sehingga Ia meminta Tuhan Yesus memberikan Air Hidup yang akan memberikan kepuasan kekal.

Seorang yang kesepian akan terus mencari cinta bagi dirinya supaya bisa mengisi kekosongan jiwanya itu. Tapi apa yang terjadi bukanlah hubungan cinta kasih yang sejati tapi hubungan yang timpang – saling tergantung atau kodependensi. Relasi dengan orang lain tidak terjalin dengan sehat. Seperti contoh: Seorang yang kesepian bisa jadi akan menjadi aktifis gereja meskipun ia adalah seorang isteri seorang pemabuk. Dalam hati kecilnya ia ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia orang yang baik-baik saja meskipun bersuamikan seorang pemabuk. Tapi kenyataannya, ia marah akan keadaan yang tidak bisa ia ubahkan itu. Dirinya menjadi sangat tergantung dengan keberadaan suaminya yang pemabuk agar ia tetap terlihat “lebih saleh”.
Bisa jadi ia menjadi orang pertama yang akan sangat marah apabila suaminya itu bertobat dan berhenti mabuk. Ia marah karena semuanya telah dirusak oleh suaminya dan ia menjadi terbiasa dengan keadaan yang rusak itu.

Saya mau katakan bahwa kekosongan jiwa akibat kesepian tidaklah dapat ditutupi dengan tindakan-tindakan yang hanya terlihat / terkesan baik saja. Tapi harus ada perubahan dari dalam diri kita untuk sungguh mengakui bahwa kita sangat membutuhkan Pribadi yang penuh cinta kasih yang sanggup mengisi kekosongan jiwa kita itu. Pribadi yang mau menjadi sahabat kita, pribadi yang mau menerima kita apa adanya dan mengenal kita dengan baik. Itulah Kristus yang mau tinggal tetap dalam hati kita untuk menjadi sahabat kita.
Janganlah seperti Kain yang tidak mau menjadi sahabat bagi adiknya, Habel tapi malah membunuhnya. Sebagai akibatnya, ia malah terasing dan dibuang jauh dari hadirat Tuhan. Bahkan ketakutannya muncul ketika harus berelasi lagi dengan orang lain yang mungkin akan bertemu dengannya sehingga ia meminta tanda perlindungan dari Tuhan. Tanda itu memang diberikan tapi sayang ia tetap menjadi terasing. Kesepian.

Kristus pernah mengalami kesepian yang sangat amat lebih daripada kesepian yang pernah kita rasakan. Ia tergantung di salib untuk menebus dosa-dosa kita, namun demikian pada saat itu malahan murid-murid-Nya meninggalkan-Nya dan bahkan ada yang menyangkali-Nya dan  mengkhianati-Nya. Orang-orang yang mengelu-elukan Ia waktu masuk ke Yerusalem menjadi massa yang sama yang menyerukan “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”
Orang Farisi dan imam-imam kepala mengolok-olok Dia untuk turun dari salib supaya mereka menjadi percaya. Dan Bapa-Nya sesaat lamanya meninggalkan-Nya karena Ia harus menangggung dosa manusia.
 
Oleh karena itu, Yesus tahu akan keadaan kita bila kita kesepian, entah itu karena dosa, penderitaan atau tekanan hidup.
Ia ada bersama-sama kita saat kita berseru-seru dalam doa. Ia ada sebagai sahabat kita mendengar keluh kesah kita. Juga sebagai Tuhan yang sanggup memberikan jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita hadapi.

Bisa jadi orang yang kesepian adalah orang yang begitu kritis akan sesuatu hal yang ada dalam sebuah persekutuan. Tapi kekritisannya itu tidak dibarengi oleh kerelaan untuk mau menerima juga kritikan dari orang lain. Mau mengkritik tapi tidak mau dikritik. Apa yang dilakukannya itu hanyalah untuk menunjukkan eksistensi atau keberadaan dirinya semata. Semestinya kepedulian kepada orang lain haruslah didasari oleh kasih supaya juga membangun bukan sebagai upaya untuk merasa diri benar.

Orang yang kesepian dalam sebuah persekutuan bisa jadi juga adalah seorang aktifis yang sibuk dengan berbagai macam kegiatan dan peran. Kesibukan yang dilakukan tidak bisa menutupi kesepian seseorang. Kesibukan itu dilakukan hanyalah untuk mengisi kekosongan yang ada dalam dirinya. Dipikirnya dengan banyaknya peran dan aktifitas itu akan membuat orang lain peduli padanya dan membutuhkannya. Tanpa dia, orang lain tak berarti. Seakan-akan mau bilang”Aku ini orang penting”.

Sekarang, bagaimana kita sebagai gereja yang merupakan persekutuan orang-orang beriman menanggapi kesepian yang mungkin dialami oleh anggota jemaat?
Pertama, Gereja haruslah menjadi gereja yang “mengobati”
Kesepian itu berarti kehilangan makna hidup. Gereja harus mampu memberi jawab bagi anggotanya bahwa setiap orang itu memiliki peran masing-masing yang penting bagi pembangunan tubuh Kristus. Gereja perlu menunjukkan arah pembentukan pribadi yang sesuai dengan maksud dan kehendak Allah. Sehingga anggota jemaat mampu memaknai hidupnya dengan hal-hal yang berarti bukan malah terjerumus pada kekosongan hidup yang sia-sia seperti kehidupan dalam keterikatan kecanduan.

Kedua, Menciptakan persekutuan Kristen yang sejati.
Kita bisa saja mengadakan kegiatan-kegiatan yang mendorong orang untuk lebih akrab satu dengan yang lain seperti Minggu keakraban, Kebaktian Doa, Wisata/Piknik, Kebaktian Padang, Retreat, Jalan Santai, dll. Namun persekutuan sejati timbul dari dalam hati yang tulus yang mau saling menerima satu dengan yang lain. Jangan sampai kita menjadi asing di tengah kerumunan orang dalam persekutuan karena kesepian kita yang belum kita atasi. Oleh karena itu, dalam persekutuan Kristen perlu ditandai dengan saling mengasihi, saling memikirkan kesejahteraan yang lain dan saling menasehati dan menghibur. Itu pasti akan menguatkan persekutuan kita dalam Kristus.

Ketiga, Gereja haruslah menjadi persekutuan yang mengampuni.
Gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Orang-orang dipersatukan dalam iman kepada Kristus yang telah menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Orang-orang berdosa yang dibenarkan dalam Kristus itu tidak lagi bisa bermegah akan kesalehan pribadinya sebagai dasar menerima orang lain, namun hanya karena kasih karunia Allah.
Oleh karena itu, apabila dalam jemaat ada orang yang jatuh dalam dosa (yang bisa berakibat orang tersebut seperti Kain) maka gereja dipanggil untuk bisa mengampuni dan merangkul kembali dalam cinta kasih Kristus.
Bukan malah menjadikannya bahan gunjingan atau olok-olokan. Karena kita pun harus menyadari bahwa kita bukanlah orang yang sempurna dan rentan akan kelemahan. Mari kita baca surat Rasul Paulus:
2 Korintus 2: 5-11
Amin.

Tegal,
Septa Widodo Munadi
(disampaikan di Kebaktian Doa di GKI Tegal - Jumat, 24 Agustus 2012)

Lagu pujian :  
NKB  49 :1,3
NKB 201  :1,2

Tuhan yang pegang (NKB 49)


1.                  Tak kutahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya kuharapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ku gelisah akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus. Maka hatiku tenang.

Ref.
Banyak hal tak kufahami  dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.

2.                 Makin t’ranglah perjalanan, makin tinggi aku naik.
Dan bebanku makin ringan, makin nampaklah yang baik.
Di sanalah t’rang abadi, tiada tangis dan keluh;
Di neg’ri seb’rang pelangi, kita k’lak ’kan bertemu.

3.                 Tak kutahu ‘kan hari esok, mungkin langit ‘kan gelap.
Tapi Dia yang berkasihan melindungi ‘ku tetap.
Meski susah perjalanan, g’lombang dunia menderu.
DipimpinNya ‘ku bertahan sampai akhir langkahku.

di jalan hidupku (NKB 201)


1.                 Di hidupku ‘ku ada sobat yang setia,
yang s’nantiasa berjalan sertaku;
masa gelap dibuatNya terang ceria,
itulah Yesus, Jurus’lamatku.

Ref.
‘Ku tak cemas ‘kan jalan yang naik turun,
lewat lembah dan gunung yang terjal;
sebab Tuhan berjalanlah di sampingku,
memimpin ‘ku ke Neg’ri yang kekal.

2.                 O kasihNya besarlah tiada taranya
dengan rela Dia mati bagiku;
kepadaNya kus’rahkan jiwa dan raga,
sejak itu Dia bimbing ‘ku s’lalu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar