Melihat kebenaran dari sudut pandang bejana tanah liat

Selamat membaca, merenungkan dan menggugah hati untuk menilik kedalaman hati yang sesungguhnya

Selasa, 27 Juli 2010

Jumat Agung - sebuah puisi untuk sahabat

hari ini adalah hari peringatan akan sengsara, pengorbanan dan kematian Tuhan Yesus
Dia datang ke dunia untuk mati…
Dia yang suci mau sengsara tinggal di antara mereka yang najis
Dia yang benar diperhitungkan diantara orang berdosa
Dia yang harusnya menghakimi datang jadi pembela
datang jadi terhukum…
terkutuk…
terhina…
ditolak…
rela menderita melakukan kehendak Bapa
bergumul dalam doa
diam saat dicaci maki
tunduk ketika didera dan disiksa
menjerit “Eloi, Eloi, lama sabaktani”
Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku”…
ditolak bumi
ditolak surga
tergantung diatas bumi
di bawah langit
kenapa harus mati
kenapa salib
tak cukupkah Engkau berfirman:
“Aku telah mengampuni dosa-dosamu bahkan dosamu
yang setinggi langit dan sedalam lautan”
Tak cukupkah Engkau berfirman:
“Hai dosa, pergilah dari dunia ini”
cara-Mu, Tuhan tak bisa kumengerti
lihat aku yang lemah ini
ketika aku berkata-kata:
“aku mau berkorban untuk sahabatku ini”
aku selalu mengharapkan ia membalas kasihku
saat aku berkata:
“aku cinta padamu”
aku menanti dia juga peduli
aku pernah berpikir aku rela ditolak bumi dan sorga
aku mau terbuang dan tersiksa dalam lautan api untuk sahabatku
namun saat yang sama
aku marah, jengkel, dan sebel bila ia tak menghargaiku
kuingat semua salahnya
kuungkit segala lemahnya
kuhakimi ” kau salah, harusnya begini…
tak semestinya kamu melakukan semua itu….”
aku mengasihimu tapi…
aku peduli padamu kalau…
aku begitu sayang,
aku begitu rindu memperhatikanmu
bila..
kau juga sama sepertiku
aku mencintaimu namun jangan sampai kau melukai hatiku….
seperti itulah aku
demikianlah sikapku
itulah kasihku yang semu
dorongan hati yang palsu
motivasi abu
akankah aku bisa mengasihi saudaraku dengan cara-Mu, Tuhan?
mencinta dengan cinta-Mu
memberi dengan anugerah-Mu
peduli dengan hati-Mu
sanggupkah aku meninggalkan kasih egoku
mengenakan hati-Mu
melihat dengan mata-Mu
mencari dengan tangan-Mu
temukan dalam langkah-Mu
oh, Tuhan….
kasihku tak sempurna
cintaku tak abadi
haruskah aku terus berkata:
“Yesus baik, Yesus ajaib, Yesus luar biasa
Dia kan Allah yang Mahakuasa
bukankah Dia manusia sempurna
Siapakah aku hanya debu
wajarlah kalau aku gagal
biasa saja kalau kukalah
sampai kapan aku menjerit
aku tak sanggup…
aku tak bisa…”
sering kubertanya:
“bukankah aku orang percaya
tapi kenapa aku tak miliki kasih-Mu
kurang percayakah aku
atau sia-siakah imanku
tiada sungguhkah keyakinanku…”
dimanakah Engkau, Tuhan…
saat kusakiti hati mereka
kemanakah Engkau
bila saat kukalah oleh nafsuku
kulemah oleh inginku
jatuh dalam pemikiranku
sudahkah Kau tinggalkan aku
dengan lembut Engkau berkata:
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu
maka kamu akan berbuah banyak.
sebab kamu tak dapa berbuat apa-apa
jikalau kamu di luar Aku….”
Bogor, JumaT Agung – 13 April 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar