Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Rabu, 13 Oktober 2010

Turunlah dari Salib itu! (Menghadapi Tekanan dalam Penderitaan)


Orang-orang yang lewat disana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata : “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam 3 hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” (Matius 27 : 39 – 40)
Perkataan hujat itu ditujukan pada Yesus yang tergantung di atas kayu salib. Yesus bergeming. Tidak menjawab. Diam. Mereka menyangsikan Dia, Dia menolak untuk berdebat. Mereka menuntut tanda Dia tak memberikannya. Bisakah Dia turun dari salib itu? Sangat bisa. Dia Tuhan. Dia berkuasa. Tapi kenapa Dia tak melakukannya?
Kata-kata hujat itu sebanding dengan kata-kata cobaan yang dilontarkan Iblis terhadap Yesus ketika pencobaan di padang gurun,”Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis : Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya : Ada pula tertulis : Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Mat 4 : 6–7. Penafsiran akan firman Tuhan yang dipaksakan akan menjerumuskan seseorang pada pemutarbalikkan kebenaran seperti yang pernah diingatkan oleh Rasul Petrus (2 Pet 3 : 15-16). Kebenaran firman Tuhanlah yang kita turuti bukan kebenaran kita yang kita cari pembenarannya di Alkitab. Mereka tahu tentang firman Tuhan – yaitu apa yang dikatakan-Nya - tapi pengetahuan itu mereka pakai untuk menyangsikan Tuhan sendiri. Mereka meragukan kekuasaan Allah. Yang mereka pikirkan adalah hanya kepuasan intelektualitas semata. Bahwa segala sesuatu harus dibuktikan menurut kebenaran menurut ukuran mereka. Mereka menarik Allah untuk memenuhi hasrat ketidakpercayaan atas apapun tanpa bukti. Mereka butuh tanda.
Aneh. Tapi mungkin itu bisa jadi menjadi tuntutan kita. Seperti orang-orang yang tak percaya Tuhan Yesus, seringkali kita menuntut tanda kekuasaan Allah dalam hidup kita ketika kita berada dalam penderitaan. Dan malah seperti orang Yahudi yang mengolok-olok Dia yang berkata :”... Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.” Mat 27 : 42b. Kita minta sesegera mungkin untuk mendapat kelepasan dari penderitaan barulah kita mau percaya pada-Nya. Sepicik itukah kita?
Rasul Paulus menyatakan dalam 1 Kor 1:22-23 : “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan : untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang Yunani suatu kebodohan.” Ketidakmampuan orang-orang Yahudi untuk percaya pada Yesus sebagai Tuhan dikarenakan mereka menuntut tanda sebagai prasyarat untuk mereka bisa percaya pada Dia yang disalibkan itu. Bagi mereka, mana mungkin Mesias yang dijanjikan itu menderita di atas kayu salib? Seakan-akan tak berdaya di dalam penderitaan. Lemah. Tak berdaya dipaku kaki dan tangan-Nya. Tergantung.
Kristus yang disalibkan. Itu menjadi pokok pengajaran Rasul Paulus (1 Kor 2 : 1-2). Mengapa malah salib yang adalah hukuman paling berat bagi orang yang melakukan kejahatan? Berat, karena sebelum dihukum mati harus menerima cabukan dan menanggung sakit dipaku tangan dan kaki lalu menahan penderitaan tak terkirakan dia atas kayu salib. Sakit yang bukan main (Maz 22 : 15-16). Salib menjadi lambang penderitaan. Salib melambangkan kematian. Kok, salib? Kenapa lebih enak menekankan pada pengajaran jikalau Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan orang-orang sakit, melakukan mukjijat dan lain-lain yang membuat orang takjub dan tertarik untuk percaya pada-Nya? Tapi malah Mesias yang disalibkan? Mesias yang menderita?
Mesias yang menderita itulah yang dia sebut sebagai kekuatan Allah dan hikmat Allah (1 Kor 1:24b). Sebuah paradoks. Dia yang diurapi, yang dijanjikan akan membebaskan malah menderita. Coba tanyakan pandangan dunia? Mereka akan memandang aneh. Mereka pikir yang sukses, makmur dan tidak mengalami penderitaan adalah orang yang diberkati. Orang kuat berarti berkuasa. Orang kuat berarti bebas berbuat sesuka hati, tanpa kontrol, tanpa kendali dan puas mengumbar hawa nafsu. Seperti Jim Bakker –mantan penginjil Teologi Sukses- berkata :”Banyak orang percaya bahwa bukti berkat Allah atas mereka adalah mobil baru, rumah baru, pekerjaan baru, dan sebagainya. Jika itu yang dicari maka pemilik kasino, gembong obat-obat terlarang, dan para bintang film diberkati Allah.... Jika Anda menyimak Firman Tuhan dengan seksama, anda tidak akan menyamakan materi sebagai tanda berkat Allah.
Rasul Paulus berkata : “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” (Kol 5:24). Penyaliban Yesus adalah penyaliban daging. Hawa nafsu dan keinginannya disalibkan juga. Dikendalikan di bawah kehendak Allah. Hawa nafsu manusia masih ada. Keinginan manusia masih banyak. Tapi itu semua diserahkan pada ketetapan Allah. Tidak diumbar. Tidak dibiarkan menguasai hati manusia. Hawa nafsu dan keinginan adalah bagian yang tak terpisahkan pada diri manusia. Dengan hal itu, manusia ingin meraih sesuatu. Bila ternyata apa yang diraihnya itu dikekang apa rasanya? Sakit. Menderita. Pengendalian diri dan penguasaan diri oleh kuasa Roh Kudus akan memampukan kita untuk bisa menyalibkan daging karena hal itupun telah dikerjakan oleh Yesus Kristus sendiri. Kita yang percaya pada-Nya dimampukan untuk melakukan hal itu yaitu ikut menderita bersama Dia dan menanggung kehinaan-Nya (Ibr 13:13b).
Jadi sebagai orang Kristen, kita niscaya untuk menderita bersama Kristus. Bila ternyata penderitaan itu menimpa kita, itu adalah sebuah keniscayaan kita sebagai orang yang percaya pada Kristus yang disalibkan. Dengan memandang Kristus yang disalibkan itu, iman kita mengarah pada Allah yang sanggup menyelamatkan kita dari penderitaan yang sedang kita tanggung. Dia tak akan membiarkan kita sendirian menanggung semua itu. Anak-Nya telah mati bagi kita. Dia menggantikan kita yang harusnya mati tergantung di salib karena dosa-dosa kita. Kini, Dia duduk di sebelah kanan Allah malah menjadi pengantara kita pada Bapa. Inilah kasih karunia itu, dimana Dia yang harusnya menghukum kita menjadi ganti kita. Menanggung dosa-dosa kita.
Itulah kenapa Dia yang disalibkan tidak turun sebab dengan tetap tergantung di atas kayu salib itu, Dia menanggung dosa-dosa kita. Dia harus mati. Supaya sempurna penyelamatan-Nya atas diri kita. Lihat, Dia tak turun dari salib berarti di dalam penderitaan itu kuasa Allah malah menjadi sempurna. Bukan demi memuaskan dan menuruti hawa nafsu dan keinginan orang-orang fasik. Mereka hanya ingin memuaskan hasrat untuk melihat keajaiban dengan alasan supaya mereka dapat percaya. Hati mereka telah begitu keras untuk percaya. Tumpul dan tak memahami arti pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Oleh karena itu, pemberitaan Injil hendaknya tidak diletakkan pada ukuran manusia, kemauan manusia untuk melihat keajaiban ( 1 Kor 2 : 4 – 5). Tapi terletak pada belas kasihan Allah pad orang-orang berdosa yang karenanya Anak-Nya harus mati. Kristus yang disalibkan itulah yang harusnya diberitakan dalam Injil yang benar.
Kalau kita terjebak pada keinginan keajaiban semata, maka para penyihir atau pesulap yang jago menyajikan keajaiban itu akan lebih menarik orang daripada atas apa yang dikerjakan Yesus di atas kayu salib. Yesus yang berulangkali melakukan tanda mukjijat yang menyertai pelayanan-Nya ternyata menunjukkan Injil yang sesungguhnya di atas kayu salib itu dengan menanggung sakit menderita. Tanpa mukjijat. Tanpa keajaiban. Mati tersalib. Dia tahu penderitaan di atas kayu salib itu harus Dia tanggung (Mark 10 : 33 – 34). Namun demikian, Dia tak bergeming. Cawan penderitaan itu harus diminum-Nya. Sebagai manusia, -sama seperti kita juga- Dia begitu takut dan gentar menghadapi itu semua (Mark 14 : 33). Pergumulan doa yang begitu hebat di taman Getsemani itu menyadarkan hati kita bahwa sungguh pahit apa yang ditanggung Yesus di salib itu. Dosa-dosa kitalah yang ditanggung-Nya dan akibat dosa adalah maut. Kengerian kematian itu menekan begitu hebat-Nya. Ia harus terpisah dari Bapa-Nya, Allah-Nya. Namun apa yang terjadi pada Yesus? Dia tahu tak ada yang mustahil bagi Allah, Bapa-Nya (Mark 14 : 36) namun Dia tunduk pada kehendak Bapa. Bapa menghendaki Anak harus mati tersalibkan sebagai tebusan dosa-dosa manusia. Allah bisa saja melepaskan-Nya dari derita salib itu. Tapi bukan itu jalan-Nya. Jalan saliblah yang dipilih-Nya. Jalan penderitaan menuju kemuliaan. Itulah keselamtan yang dianugerahkan bagi kita. Karena itu kita pun jangan menjadi terperosok seakan-akan lebih tahu akan penderitaan yang menimpa seseorang. Dan malah berpikir seperti Petrus yang mencegah Yesus melalui jalan salib itu (Mat 16 : 22 – 23). Petrus hanya memikirkan yang dipikirkan manusia semata. Karena memang jalan salib adalah kehendak Allah bagi manusia.
Orang-orang Yahudi menantang Yesus katanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka : “ Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Yoh 2:18-19. Yesus menyatakan hal itu untuk menegaskan tanda kemuliaan Allah dengan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Namun mereka tidak mengerti. Mereka hanya berpikir bait Allah secara kasat mata tapi yang dimaksud Yesus adalah tubuh-Nya. Ada pembebasan dan kelegaan setelah penderitaan yang harus kita jalani dalam kehendak Allah (1 Pet 2:19-21). Itulah harapan bagi orang-orang yang menderita karena Kristus. Tapi seringkali kita tak mau bersabar seperti orang-orang Yahudi yang membandingkan perkataan Yesus itu (yang merujuk pada kebangkitan-Nya) diminta oleh mereka pada saat Yesus disalibkan. Penderitaan disalib haruslah dialami dulu supaya sempurna keselamatan (Ibr 10 :10). Ketidaksabaran menanggung sesuatu menandakan ketiadaan kasih (Bandingkan dengan 1 Kor 13 :7). Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup dibiarkan menguasai hati (1 Yoh 2 : 15 – 17). Tidak mau menyangkali diri.
Seperti waktu jeda yang seringkali kita alami ketika menghadapi masalah. Sabtu sunyi. Apakah kita akan secepat mungkin menggerutu pada Allah? Membandingkan dengan apa yang telah dialami oleh orang lain? Atau malah membandingkan dengan kenikmatan yang malah dirasakan oleh orang-orang jahat yang sekan-akan tak merasakan hukuman Allah terhadap perbuatan mereka? Untuk apa aku menjaga hatiku tetap bersih? Mungkin jerit hati kita (Bandingkan dengan Maz 73 : 13). Waktu jeda berarti tidak terjadi apa-apa ketika kita harus menderita. Ketika sakit belum disembuhkan. Ketika mengalami kegagalan belum juga bisa bangkit dan pulih. Ketika dihina, dilecehkan, dikucilkan dan dicemooh tidak ada yang membela malah semua orang yang sebelumnya jadi teman dan sahabat berbalik ikut merendahkan kita. Belum ada kelepasan. Tidak terjadi apa-apa. Doa kita seakan menguap begitu saja. Seakan Allah tak mau mendengar. Jeritan yang diwakili oleh Yesus di atas kayu salib : “Eloi, Eloi, Lama Sabakhtani? Yang berarti : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mark 16 :34b).
Ada dua sikap orang ketika berhadapan dengan penderitaan. Pertama dia hadapi dengan kesabaran dan kesadaran penuh bahwa penderitaan itu sebagai bagian kehidupan di dunia ini dengan tetap berharap akan memperoleh kelepasan. Kedua, menghindari penderitaan dengan mencari aman dan kenyamanan semu dan sejauh mungkin tidak merasakan penderitaan itu dengan cara memanipulasi rasa sakit akan penderitaan itu. Cara manipulasi bisa dengan cara penyalahgunaan obat-obatan terlarang, minum minuman keras, pelampiasan seks menyimpang dan bisa jadi larut pada hobi yang jadi candu. Menekan rasa sakit itu. Coba tanyakan pada seseorang yang kecanduan sesuatu? Bila kita belajar dari teladan Yesus di atas kayu salib kita akan tahu kalau Dia menolak meminum anggur bercampur mur –yang biasanya dipakai orang untuk mengurangi rasa sakit (Mark 15:23). Oleh karena itu, mengapa obat bius dan lain-lain yang disalahgunakan untuk menekan rasa sakit tak ada artinya bila kita memahami kalau kita harus menanggung penderitaan itu sebagai kehendak Allah bagi kita. Bila Yesus telah bangkit dari antara orang mati, itu berarti kita yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan pula bersama-sama dengan Dia. Jadi akan ada kelepasan setelah penderitaan. Kalau begitu kenapa harus takut untuk menderita? Bila Allah beserta kita, Dia takkan biarkan kita sendirian menanggung semua itu (Ibr 13 :5-6).
Nah itulah maknanya Injil Kristus yang mulia itu. Ada kasih yang lemah lembut. Kekuatan Allah dinyatakan tatkala tidak ada balas dendam atau pembalasan atas apa yang menimpa kita. “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, ia tak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya, kamu telah sembuh.” (1 Pet 2 : 23-24). Ayat tersebut sering dipakai untuk mengajarkan tentang kesembuhan ilahi yang menjadi hak setiap hak orang percaya. Apakah demikian maksudnya? Bila kita tilik konteksnya, maka Rasul Petrus tak mengisyaratkan akan penyembuhan ilahi tapi bicara tentang dosa. Coba kita bandingkan dengan makna bilur-bilur itu pada Amsal 20:30 “Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan dan pukulan membersihkan lubuk hati.” Jadi, bilur-bilur itu menunjukkan tanggungan yang harus diterima karena kejahatan. Yesus yang adalah Orang benar harus menanggung kejahatan kita dengan memikulnya di atas kayu salib.
...Oleh bilur-bilur-Nya, itu berarti Dia sakit, menderita, disesah dan disalibkan. Dia yang benar harus menanggung sakit yang harusnya diterima oleh orang berdosa. Dia terima itu tanpa melawan. Perlawanan dilakukan-Nya dengan menunjukkan kasih kepada orang yang telah menyalibkan-Nya dan tidak membalas apa yang mereka lakukan itu. Itulah kekuatan Allah. Bagaimana Allah menunjukkan kuasa-Nya ketika dalam penguasaan diri yang sempurna pada diri Yesus yang disalibkan itu. Dia tak terpengaruhi untuk menunjukkan ego sendiri seperti yang ditantang oleh orang-orang Yahudi yang mencibir-Nya untuk turun dari salib. Keegoisan turut disalibkan. Kemenangan terjadi malahan ketika diri sendiri ditaklukkan pada pengaturan kehendak Allah.
Alih-alih memikirkan diri sednri, Yesus malah mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya : “Ya, Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”(Luk 23:34a). Dan memikirkan kesejahteraan Ibu-Nya dan murid-murid-Nya (Yoh 19:26-27). Seperti juga Ayub. Dia memperoleh kelepasan dari penderitaannya itu setelah dia berdoa untuk sahabat-sahabatnya yang salah mengartikan maksud Allah atas penderitaannya. Ayub belajar untuk tidak egois dan jatuh pada mengasihi diri sendiri ketika berada dalam penderitaan yang dia tanggung (Ay 42 :10). Sahabat-sahabatnya yang awalnya bersimpati malah terjebak untuk memberikan ceramah rohani tentang makna penderitaan itu. Mereka seakan-akan lebih memahami rencana Allah bagi Ayub ketika penderitaan itu menimpanya. Mereka menghakimi dan menyuruh Ayub mengaku salah atas perbuatan-perbuatan yang mungkin saja dia lakukan sehingga ia menggalami penderitaan sedemikian berat itu.
Seperti sahabat-sahabat Ayub, kita seringkali merasa bisa berempati dengan orang yang sedang mengalami penderitaan apabila bisa menguraikan sebab-musabab penderitaan itu terjadi atas orang tersebut. Padahal Allah yang berkuasa atas diri tiap orang. Dia mengetahui rancangan-rancangan apa yang patut Dia berikan pada setiap kita ketika kita menderita (Yer 29:11). Jangan cepat menghakimi. Atau malah berpikir,”Akh, untung bukan saya yang mengalaminya?!” Seakan-akan kita lebih baik dari orang yang sedang menderita itu. Keegoisan kita terumbar. Merasa diri lebih beruntung. Patutkah kita mengolok-olok orang lain yang sedang menderita seperti orang-orang Yahudi mengolok-olok Yesus di atas kayu salib? Turunlah dari salib itu?
Ketiadaan balas dendam atas apa yang kita derita menunjukkan kekuatan Allah. Allah bekerja memampukan kita untuk mengendalikan diri. Menyalibkan ego. Bila kita membalaskan kejahatan yang kita terima sehingga kita menderita dengan berbuat jahat pula itu berarti kita menjadi sama dengan orang jahat itu. Bila kita melakukan hal yang sama yang dilakukannya itu justru kita kalah oleh kejahatan itu dan menjadi hamba kejahatan. Coba tanyakan dengan orang yang begitu sadis membunuh orang lain, memperkosa atau melakukan pelecehan seksual? Mereka akan menjawab hal itu dilakukannya karena mereka pernah alami pelecehan atau penghinaan di dalam keluarganya. Mereka membalas perlakuan yang diterimanya dengan melakukan kompensasi perbuatan yang sama. Balas dendam hanya memunculkan kejahatan baru. Tapi kasih pengampunan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Ketika kita mengampuni orang yang menyakiti kita, kita menghentikan langkah kita untuk menuju kejahatan yang mungkin akan kita lakukan sebagai balas dendam.
Apa artinya Tuhan Yesus menanggung dosa-dosa kita dihubungkan dengan penderitaan yang kita terima? Marilah kita belajar dari Rasul Paulus. Apakah dia meratapi terus menerus dosa-dosanya yang pernah dia lakukan saat menganiaya jemaat Kristen? Apakah dia menghubungkan penderitaannya dalam memberitakan Injil sebagai upah dosa-dosanya dahulu? Tidak. Sama sekali tidak. Dia percaya dia telah ditebus. Dia memandang penderitaannya itu sebagai bagian yang dia ambil dalam penderitaan Kristus (Fil 1:29-30; Kol 1:24). Tuhan Yesus sudah menyelesaikan dengan sempurna penyelamatan atas kita dari dosa-dosa yang membelenggu. “Sudah selesai” (Yoh 19:30).
Kalau begitu apa yang terjadi bila penderitaan yang kita alami sebagai akibat dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu? Kalau kita tak percaya akan penebusan Kristus maka yang kita alami adalah terbelenggu oleh rasa bersalah akan dosa-dosa masa lalu yang belum kita akui dan serahkan pada Kristus. Rasa bersalah akan dosa masa lalu itu membuat lumpuh dan ketidakmampuan untuk berbuat sesuatu yang baik. Mengapa bisa demikian? Ada keenganan dalam diri orang yang terbelenggu oleh rasa bersalah untuk berjuang keluar dari keadaan yang biasa dia alami. Kenyaman yang semu dimana seperti orang yang suka mengorek-orek rasa sakit itu. Layaknya orang yang menikmati rasa sakit penderitaan. Hal itu terjadi apabila kita sudah putus asa. Taka ada harapan untuk berjuang. Sudah berhenti melangkah. Tapi apa kabar baik bila kita menderita?
Tuhan Yesus telah mengalami sendiri perjuangan dalam penderitaan. Dia yang adalah Anak Allah yang pada-Nya Allah berkenan. Ucapan Bapa-Nya begitu menggema: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mat 17:5b. Namun demikian, olok-olokan orang-orang Yahudi seakan-akan menggugat pernyataan Bapa-Nya itu,”Ia menaruh harapan-Nya pada Allah, baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya. Karena Ia telah berkata : Aku adalah Anak Allah.” (Mat 27:43 seperti olok-olokan yang tertulis pada Maz 22:9). Inilah pertaruhan iman. Sebagai anak-anak Allah seringkali kita cepat mengeluh bila ternyata kita sedang dalam penderitaan. Ada penderitaan yang terjadi akibat dosa-dosa kita. Tapi ada juga penderitaan yang tidak semestinya kita tanggung tapi sebagai karunia Allah (1 Petrus 2:19). Namun demikian, bila kita adalah anak-anak Allah, Allah berkenan pada kita karena Kristus, Anak-Nya itu yang telah diserahkan pada kita. Perkenanan Allahlah yang menyakinkan hati kita. Ketika menghadapi olok-olokan orang-orang yang merendahkan iman kita. Ketiak seakan-akan tiada pertolongan yang kunjung datang. Ketika jalan keluar belum juga tersedia. Kita terdiam. Seperti Yesus yang diam, kita lebih baik tak menanggapi olok-olokan itu. Jangan merendahkan orang yang belum atau tidak disembuhkan dari sakit penyakit dan langsung dihubungkan dengan keberadaan imannya. “Ah, imannya aja yang lemah.” Yesus pun tidak mempermasalahkan orang yang buta sejak lahir apakah dari dosanya ataukah dari orang tuanya (Yoh 9 :2). Lebih baik kita memandang segala sesuatu di dalam penderitaan pada pandangan Allah.
Seperti Allah memandang salib sebagai kasih karunia Allah pada orang-orang berdosa karena Anak-Nya, Yesus telah mati disalib ganti dosa manusia. Kalau menurut pandangan manusia salib hanyalah dipandang sebagai akibat dosa manusia semata. Manusia yang berdosa yang harus mati. Manusia yang salah haruslah dihukum. Itulah kesangsian orang-orang Yahudi yang mengolok-olok Dia. Namun demikian, melalui salib malahan Allah menelanjangi dosa sebagai dosa, kejahatan sebagai kejahatan. Fitnah yang nyata akan terungkap. Kegelapan akan sirna oleh kuasa terang. Ketika terang kebangkitan Kristus dari kematian-Nya menyatakan kuasa Allah dan perkenanan Allah akan Anak-Nya itu.
Bila kita memandang segala sesuatu dari akhir, maka kita kan melihat dengan jelas. Sekarang bila kita baca keempat kitab Injil, maka kita akan menyadari kebenaran siapakah yang akhirnya menang? Kebenaran Kristuskah atau kebenaran orang-orang fasik yang mengolok-olok Dia? Kebenaran Kristus menjadi nyata ketika apa yang difirmankan Yesus menjadi kenyataan. Tergenapi (Yoh 18:9,32 ; 19:35-37) dan Yesus pun bangkit. Itu menunjukkan kata-kataNya benar adanya (Yoh 2:19). Tekanan selalu ada bila kita berada dalam penderitaan. Baik dari olok-olokan orang maupun dari hati kita. Keraguan dan kebimbangan akan janji-janji Allah seringkali mendera orang yang sedang menderita. Tapi sebagai anak-anak Allah, kita akan menerima janji-janji Allah jika kita menderita bersama-sama dengan Kristus (Rom 8:17). Namun, bila kita percaya pada Yesus yang telah bangkit, iman kita akan dikuatkan tatkala menanggung penderitaan. Pandanglah penderitaan seperti Allah memandangnya. Allah bahkan memakai penderitaan itu untuk supaya kita senantiasa memandang Dia san “Ingatlah selalu akan Dia , yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang yang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” (Ibr 12:3). Kristus telah menang dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah. Itu harapan kita dalam menanggung kehinaan salib. Sebab sukacita telah disediakan oleh Dia bagi kita yang percaya pada-Nya (Ibr 12:2).
Apa keuntungan kita yang dimampukan untuk bertahan dalam penderitaan demi Kristus?
1. Mampu menghibur orang lain
Seperti dinyatakan Rasul Paulus pada jemaat Korintus di suratnya yang kedua (2 Kor 1:3-7) dia mengalami sendiri penderitaan itu seperti apa. Dia rasakan sebagai konsekuensi mengikut Kristus. Namun sebagaimana apa yang dia alami ketika menderita dalam Kristus, dia menerima penghiburan Allah. Dan penghiburan itulah yang dijadikan kesaksian hidup untuk menguatkan orang lain yang juga menderita bagi Kristus.
2. Bersandar pada Allah yang menyelamatkan
Di dalam penderitaan yang berat sekalipun, Rasul Paulus tetap berharap akan menerima kelepasan dan keselamatan. Sehingga dia tak lagi menaruh kepercayaan pada diri sendiri tapi pada Dia yang sanggup membangkitkan orang mati (2 Kor 1:9-10)
3. Menimbulkan ketekunan (Rom 5:3)
Kesengsaraan atau penderitaan yang kita alami membwa kita pada pendisiplinan diri sedemikian rupa sehingga kita tetap bertekun di dalam Tuhan. Ketekunan itu menunjukkan kesabaran kita dalam menanggung segala sesuatu. Itu adalah buah Roh. Sungguh satu anugerah bila kita diberikan kesempatan untuk melewati penderitaan supaya kita dapat menghasilkan buah.
4. Pengerjaan kemuliaan kekal (2 Kor 4:16-18)
Harapan akan kemuliaan yang akan datang membuat kita tak kan tawar hati menghadapi penderitaan yang sedang kita terima. Kesungguhan untuk mengizinkan Allah memperbaharui manusia batiniah kita terus-menerus membuat kita tabah. Kedewasaan kita akan terlihat bagaimana kita melewati masa-masa sulit itu dalam hidup ini. Di situ tangan Allah begitu nyata bagi kita. Dengan penderitaan bersama Kristus, kemuliaan bersama Kristus pun akanj kita terima. Janji-janji Allah menjadi hak kita sebagai anak-anak Allah yang telah menderita bersama Kristus (Rom 8:17)
5. Berkorban demi orang lain (Kol 1:24)
Satu sukacita bagi Rasul Paulus untuk ambil bagian dalam penderitaan Kristus bagi jemaat-Nya. Banyak tekanan dan fitnahan dia terima demi memberitakan Injil Kristus. Itu tak membuatnya sedih. Atau menyalahkan diri sendiri membiarkan larut dalam mengasihi diri sendiri karena kesalahan masa lalu sebagai penganiaya jemaat Kristen. Tidak. Dia bersukacita karena dilayakkan menderita demi Kristus, Tuhannya. Apa yang dikatakan tentang hukum kasih karunia sungguh dia alami sendiri. Damai sejahtera Kristuslah yang memenuhi hatinya. Keakuan telah berakhir (Gal 2:20). Kini hidupnya diberikan untuk orang lain supaya mereka percaya pada Kristus.
6. Diberikan kesempatan untuk selalu berbuat baik (1 Pet 4:19)
Apa bedanya penderitaan yang ditanggung seorang penjahat/pembunuh/pencuri dengan orang yang menderita karena Kristus? Dia yang menerima hukuman karena dosanya takkan bisa bersukacita karena harus menyesali perbuatan-perbuatannya itu. Dan bagi yang menyesal tanpa pertobatan maka penderitaan yang selanjutnya akan mereka terima itu hanya akan membawa rasa bersalah semata yang akhirnya melumpuhkan kemauan untuk berbuat baik. Orang yang dihantui oleh rasa bersalah memeiliki kecenderungan mengulangi kembali kesalahan yang sama. Berulang kembali. Tanpa pembebasan akan rasa bersalah maka hidupnya akan terbelenggu oleh lingkaran setan. Penyesalan - rasa bersalah - pengasihan diri sendiri - rendah diri – mengulangi kesalahan – penyesalan. Demikian berulang terus. Tapi orang yang telah dibebaskan dari rasa bersalah akan memperoleh kemenangan untuk mengatasi rasa takut untuk tetap berbuat baik. Perbuatan baik dipahami bukan sebagai tebusan atas kesalahan masa lalu tapi sebagai keniscayaan untuk hidup dalam kehendak Allah yaitu penyerahan hidup atau nyawa. Sebab Yesus yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita menunjukkan itu sebagai kebaikan semata-mata.
7. Memperoleh hidup
“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mat 16:25). Suatu paradoks memang. Tatkala kita kehilangan hal-hal yang berharga di hidup ini saat kita alami penderitaan demi Kristus malahan Tuhan berjanji akan memberikan hidup itu. Hal yang berharga yang mungkin kita jadi sandaran hidup kita bisa saja hilang lenyap. Kesehatan, pekerjaan, keluarga, harta benda, hubungan dan lain-lain. Semua itu bisa hilang dalam sekejap dan diambil-Nya kembali tapi Dia akan anugerahkan segala sesuatu yang lebih baik. Ketika sandaran-sandaran itu diijinkan terlepas dari kita, kita diminta untuk menjadikan Allah sandaran satu-satunya. Pemahaman akan hal iini akan menemukan arti hidup yang sebenarnya. Seperti kita renungkan pada sanjak berikut ini :
Memperoleh Keuntungan melalui Kerugian
Aku mohon Allah memberiku kekuatan agar dapat berprestasi,
aku dijadikan lemah supaya belajar taat dengan rendah hati
Aku mohon kesehatan agar dapat melakukan hal-hal yang lebih besar,
aku diberi penyakit supaya melakukan hal-hal yang lebih baik
Aku mohon kekayaan agar aku bahagia,
aku diberi kemiskinan supaya menjadi bijaksana

Aku mohon kuasa agar dipuji oleh manusia,
aku diberi kelemahan supaya menyadari bahwa aku perlu Allah
Aku mohon segala hal agar dapat menikmati hidup,
aku diberi hidup supaya dapat menikmati segala hal
Aku tak menerima apa yang kuminta
tetapi mendapat segala sesuatu yang kuharapkan
Sekalipun keadaan diriku dan doa-doaku
yang tak diucapkan itu dikabulkan.
Akulah yang paling diberkati diantara segala manusia

Septa Widodo Munadi ; Godong – Purwodadi , 24 September 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ads Inside Post