Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Senin, 01 November 2010

Apakah Kebenaran Itu ?





--> Mengenal Kebenaran Allah dan Kebenaran Diri Sendiri
(Yoh 18 :38a)
      Pertanyaan menggantung dari Pilatus pada Yesus itu dinyatakan Pilatus ketika mengadili Yesus setelah diserahkan oleh orang-orang Yahudi. Dia tak menunggu jawaban Yesus. Dia lanjutkan dengan tindakan sendiri yang menurutnya benar untuk ‘menyelamatkan’ Yesus yang tidak didapati olehnya satu kesalahan pun. Dia bertindak demikian seakan-akan dia berkuasa atas diri Yesus dengan menawarkan pilihan untuk ‘membebaskan’ Yesus yang adalah Raja orang Yahudi. Namun ternyata apa yang dilakukannya itu malah ditolak oleh orang-orang Yahudi. Dan mereka lebih memilih Barabas, seorang penyamun. Mereka tidak mau menerima Yesus dan menganggap-Nya sebagai penjahat yang ‘layak’ disalibkan.
      Bagi orang-orang Yahudi, kebenaran Yesus tidak dapat mereka terima dan lebih menerima kebenaran Barabas, seorang penyamun yang nyata-nyata melakukan kejahatan. Kejahatan lebih dapat diterima bagi mereka daripada mengetahui kebenaran dan menerimanya. Yesus telah banyak berbuat baik dan menunjukkan kasih-Nya pada orang-orang Yahudi dengan menyembuhkan orang-orang sakit dan mengusir setan-setan. Dan mereka pun tak dapat menyaksikan bahwa Yesus itu berdosa. “Siapakah diantaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?” Yoh 8:46.  Yesus telah memberikan kesaksian baik melalui perkataan maupun perbuatan-Nya dan apa yang disaksikan itu adalah kebenaran. Orang-orang yang menerima-Nya adalah orang-orang yang mau menerima kebenaran yang disaksikan-Nya itu. Menerima adalah kata kunci untuk percaya. Dengan menerima, kita mendapatkan apa yang diberikan oleh Yesus. Jika Yesus adalah Raja yang menyaksikan kebenaran (Yoh18:37) maka apa yang kita terima adalah kuasa. Kuasa untuk apa? Kuasa untuk hidup dalam kebenaran itu. Hidup dalam kebenaran-Nya itu mendengarkan suara Yesus yang berarti juga menuruti-Nya. Bila tidak maka firman-Nya itu yang akan menjadi hakim-Nya (Yoh 12:46-48).
      Raja menunjukkan yang berkuasa. Dan pengikutnya adalah yang menerima kuasa. Kuasa itu dinyatakan dengan perantara kata-kata atau perintah. Siapa yang mendengarkan kata-kata raja dan melakukannya berarti dia telah ‘dirajai’ oleh raja itu. Siapakah yang kita dengarkan akan menentukan sikap dan keputusan hidup kita? Apa yang kita dengarkan? Bagaimana kita mendengarkannya? Semua itu akan menetukan hakekat diri kita sebenarnya.
      Mari lihat bagaimana Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Awalnya, Iblis –yang menyatakan diri sebagai ular- menyaksikan kepalsuan yaitu pemutarbalikkan kebenaran firman Tuhan.  Firman Tuhan dalam Kej 2 : 16b telah nyata : “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,..” tapi ular itu memutarbalikkan dengan berkata : “Tentulah Allah berfirman : Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kej 3 : 1 b. Pendusta. Bapa segala dusta adalah Iblis (Yoh 8 : 44). Nah kesalahan pertama Hawa waktu itu adalah mendengarkan perkataan itu dan menanggapinya tanpa pertimbangan suaminya. Dia terperangkap untuk ikut mengaburkan dan menambahkan kata “meraba” ketika semakin dibujuk oleh ular itu. Hawa melihat, memikirkan dan mengamini apa yang dikatakan oleh ular itu sehingga bertindak sendiri -tanpa pertimbangan Adam, suaminya- untuk mengambil dan memakan buah terlarang itu. Dan bukan berhenti menjadi pengikut ular itu tapi juga memberikan buah itu pada suaminya untuk malakukannya juga. Menerima dan memberikan kepada orang lain. Itulah artinya menyerahkan diri pada kuasa Iblis untuk bertindak dosa –melawan hukum Tuhan. Semenjak itu Iblis berkuasa terhadap manusia karena mereka mendengarkan suara Iblus dan melakukannya, bukan menolaknya. Iblis ‘merajai’ manusia.
      Kalau Iblis ‘merajai’ manusia berarti apa yang dinyatakan Iblis itulah yang didengarkan oleh manusia. Iblis selalu menyatakan kepalsuan maka kepalsuanlah yang dimiliki oleh manusia berdosa. Penerimaan terhadap kepalsuan inilah yang membuat manusia berdosa tidak dapat menerima kebenaran. Karena keduanya bertentangan. Kepalsuan hanya memunculkan kebenaran diri sendiri bukan kebenaran Allah. Kebenaran Allah menyatakan hidup didalam-Nya dan dalam pengaturan-Nya.  Sedangkan kebenaran diri sendiri menyatakan kebebasan tak bertanggung jawab hanya menuruti kemauan, ukuran dan pemahaman sendiri. Kebenaran diri sendiri dinyatakan oleh Adam dan Hawa dalam menyikapi keadaan dirinya setelah tahu mereka telanjang. Mereka menutupi ketelanjangan mereka itu dengan hanya menyematkan daun pohon ara dan membuatnya cawat (Kej 3 : 7). Ini membuktikan kebodohan manusia berdosa. Mereka mengatasi masalah dengan pemahaman mereka sendiri. Tanpa tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu tidaklah sempurna. Bila daun pohon ara dijadikan cawat maka funsinya hanya sementara karena cepat rusak. Mereka harus membuatnya kembali. Berarti tak sempurna. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Allah dengan membuat pakaian dari kulit binatang yang lebih awet dan sempurna menutupi ketelanjangan tubuh mereka tak sekedar hanya menutupi kemaluan mereka. Meskipun untuk itu, Allah harus menumpahkan darah binatang itu. Inilah makna penebusan sesungguhnya. Perlu penumpahan darah.
      Dalam penebusan, Allah melakukan dengan sempurna – didalam Kristus Yesus. Sedangkan manusia mencari jalannya sendiri untuk menebus dosa mereka. Banyak hal yang mereka lakukan dengan cara mengandalkan ritual, tata cara ibadah, hukum ini dan itu serta aturan penyucian diri yang hanya nampak luarnya tanapa bisa menyelesaikan masalah sesungguhnya yaitu pemberontakan terhadap pemerintahan Allah. Bersikap mampu mengatasi segala sesuatu sendiri adalah bukti keberdosaan manusia. Egois. Begitu banyak orang merasa dirinya saleh dan benar sehingga tak memerlukan penebusan. Menolak karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Mereka lebih mendengarkan suara hati mereka dan suara Iblis dalam menjalankan kehidupan ini.
      Padahal dengan pemberontakan itu, manusia menjadi takut dekat dengan Allah dan bersembunyi. Rasa bersalah membelenggu mereka. Mereka membela diri dengan mengesampingkan tanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil dengan melemparkan kesalahan pada orang lain dan yang membujuknya. Rasa bersalah –yang tidak diatasi- akan menjebak manusia untuk ‘menutupi’ dosa dengan dosa yang lain. Tanapa penyelesain berarti dan tuntas. Tidak ada kebenaran dalam rasa bersalah yang melumpuhkan itu. Keinginan untuk merasa diri benar diwujudkan dengan menyatakan kesalahan orang lain dan bukannya mengakui kesalahan diri sendiri. Inipun bukanlah kebenaran Allah. Allah tidak menghendaki hal itu karenanya Ia menghukum manusia yang berdosa itu supaya manyadari kesalahan-kesalahannya. Hukuman Allah pun dihubungkan dengan apa yang telah mereka lakukan itu.
      Ketika mereka menerima dengan mudahnya dan menyerah atas bujukan Iblis, maka hukuman manusia adalah kesulitan dan kesukaran (Kej 3 : 16-19). Penderitaan akibat dosa terjadi karena manusia tidak sanggup menolak kepalsuan yang ditawarkan Iblis, malah menerimanya dan menjadi hamba dosa. Seorang hamba harus melakukan kemauan tuannya. Jika tuannya yang suka akan kepalsuan maka hamba-hambanya pun dituntut melakukan hal yang sama. Itulah kenapa, Iblis selalu menawarkan pada manusia jalan ynag mudah dan malah menuju ke kebinasaan. Dan jalan Yesus, sang mesias adalah jalan salib (jalan sempit). Jalan salib telah dilakukan-Nya sebagai bagian untuk penebusan manusaia dalam keberdosaannya dengan menanggung akibat dari dosa-dosanya itu.
Nah, kebenaran Allah dalam Kristus Yesus itulah yang ditawarkan pada kita untuk kita percayai. Kita terima. Dengan ketaatan penuh,Yesus mau dan rela menanggung derita demi kehendak Bapa, Allah-Nya, untuk mengatasi pemberontakan kita terhadap Allah dan itu hanya Dia saja yang sanggup melakukan dengan sempurna sebab dia Anak Allah. Kesanggupan_nya menanggung salib untuk menebus dosa kita menyadarkan kita akan kemampuan-Nya untuk bisa hidup bagi Allah karena setelah Dia mati di atas kayu salib, Dia bangkit membuktikan pembenaran diri-Nya di hadapan Allah.
Jadi barangsiapa yang percaya Yesus berarti menerima-Nya. Menerima diri-Nya. Nah bagi yang menerima-Nya “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”. Yoh 1:12. Penerimaan diri Yesus juga berarti menerima kuasa-Nya. Yesus yang sanggup mengatasi dosa dan pencobaan memberikan kuasa yang sama itu bagi mereka yang menerima-Nya. Itulah makna kebenaran Kristus. Darah Kristus bukan saja menebus manusia berdosa dari murka Allah tapi juga berkuasa untuk memampukan orang yang menerima-Nya hidup dalam kebenaran. Ini yang tidak dimiliki oleh mereka yang percaya pada agama lain. Darah Kristus itu oleh urapan Roh Kudus memberi daya bagi orang-orang yang menerima-Nya untuk hidup baru. Tidak lagi menuruti dan mendengarkan si jahat dengan segala kepalsuannya tapi hidup bagi Allah. ...setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku. Yoh 18:37c.
Apakah kebenaran itu? Pertanyaan Pilatus itu seperti pertanyaan kebanyakan orang. Kebenaran seperti apa yang harus didengarkan? Kesangsian akan kebenaran yang dinyatakan oleh Allah sendiri melalui Anak-Nya dikarenakan masih ada selubung yang menutupi mata hati mereka. Dengan adanya selubung itu, mereka terhalang untuk melihat kebenaran. Tanpa disingkapkan maka orang tak akan percaya dan menerima kebenaran. Seringkali kita putus asa terhadap orang-orang yang menentang Injil dan kebenarannya. Bagaimana mereka yang telah nyata-nyata menerima pemberitaan Injil dan kebenarannya itu tak mau percaya? Malah menentangnya. Hal itu karena selubung yang menutupi mata mereka. Selubung itu berupa ilah-ilah zaman ini. “Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan maka selubung itu diambil daripadnya.” 2 Kor 3 : 16.
Hanya Roh Kudus yang sanggup membukakan selubung itu. Roh kudus adalah Roh kebenaran bertentangan dengan roh antikristus yang menyesatkan. Barangsiapa yang mendengarkan Roh Kudus, ia percaya akan karya penyelamatan Yesus Kristus diatas kayu salib untuk menebus dosa kita. Dan hanya oleh Roh Kuduslah, kita mengaku Yesus itu Tuhan (1 Kor 12:3). Itulah kasih karunia dimana semua karena Allahlah yang bekerja di dalam kita untuk menyelamatkna kita. Bukan berdasarkan kebenaran diri sendiri. Oleh karena itu, apabila kita menghendaki orang diselamatkan dan menerima kebenaran-Nya maka kita harus berdoa pada Allah yang sanggup menyelamatkan orang-orang tersesat dalam dosa. Tanpa itu, sia-sialah kita berusaha menyatakan dengan segala pemahaman dan pengetahuan tentang Injil Kristus (Bandingkan dengan 1 Kor 2:21).
Pekerjaan Iblis menentang manusia untuk menerima kebenaran. Karena kebenaran itu memerdekakan mereka (bandingkan dengan Yoh 8 : 32). Kesanggupan kita menolak bujuk rayu / hasutan Iblis untuk menentang pemerintahan Allah karena pengendalian diri yang juga adalah buah Roh. Kita tidak boleh tunduk kepada Iblis tapi tunduk kepada Allah. Bila kita tahu apa itu kebenaran maka kita pun akan tahu bagaimana sifat kepalsuan itu. Karena kepalsuan itu selalu bertolak belakang dengan kebenaran. Lihat apa yang ditawarkan Iblis selalu bertentangan dengan Firman Allah. Pelacuran / percabulan bertentangan dengan penyerahan diri / penebusan. Melacur itu berarti menjual diri sedangkan penebusan itu berarti telah dibeli dan dibayar lunas. Hawa nafsu duniawi bertentangan dengan jalan salib penderitaan Kristus. Jadi kita tak perlu mempelajari seluk-beluk Iblis untuk dapat mengetahui kejahatan itu tapi cukup dengan mengenal kebenaran itu sendiri maka kita akan tahu seperti apa si jahat itu dan segala perbuatannya. Karena mereka bertentangan.
Karena itu bagaimana kita akan bisa hidup dalam kebenaran? Kita harus mau dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan pimpinan Roh Kudus, kita akan menghasilkan buah Roh yang nyata dan memapukan kita untuk menolak segala tipu daya Iblis. Roh jahat yang mengendalikan diri seseorang akan senantiasa merusak dirinya dan hidupnya. Mencuri apa yang Tuhan karuniakan padanya, membunuh pikiran, perasaan dan kehendak untuk melakukan perbuatan baik serta membinasakan jiwanya karena menerima hukuman yang akan datang. Seringkali proses penginjilan disertai dengan pengusiran setan-setan. Hal itu untuk mempersiapkan jalan bagi Roh Kudus membuka hati sesorang untuk percaya pada Kristus Tuhan. Dalam Kitab Injil Markus, malahan penginjilan dan pengusiran setan senantiasa beriringan dan dinyatakan sebagai apa yang Tuhan Yesus lakukan. Pemahamannya adalah ketika kebenaran itu datang maka yang palsu itu akan menyingkir. Bahkan dalam Injil Markus, Tuhan Yesus menolak kesaksian roh-roh jahat tentang diri-Nya dan memperintahkan mereka diam (Mark 1:24-25 ; 5:7-8). Tuhan Yesus tidak mau membiarkan pengakuan roh-roh jahat itu sebagai dasar iman orang percaya pada-Nya. Meskipun roh-roh jahat itu tahu siapa sebenarnya Yesus, Anak Allah. Kepalsuan tidak akan mungkin menjadi dasar bagi kesaksian kebenaran.
Inilah kenapa Rasul Yohanes mengingatkan kita untuk hidup dalam terang bukan di dalam kegelapan. Maksudnya kita hidup dalam pengakuan diri, terus terang, keterbukaan dan tidak ada yang ditutup-tutupi di hadapan Allah. Karena memang tak ada yang mungkin di sembunyikan dihadapan-Nya. Pengakuan kita akan keadaan kita yang berdosa menjadi dasar untuk kita bisa menerima pengampunan yang diberikan Allah dalam Yesus Kristus. Tanpa itu, kita berdusta baik terhadap diri sendiri maupun terhadap Allah. Bila kita berdusta maka kebenaran tak ada di dalam kita. Demikian juga dengan pengakuan itu pula hendak menyatakan sungguh Yesus mati dan kita menerima-Nya. Oleh karena itu, pemberitaan Injil senantiasa akan menantang orang yang mendengarnya untuk mengakui keberdosaan dirinya dan membawa orang itu pada pertobatan. Sebab Allahlah yang dalam Yesus Kristus yang sanggup menyucikan orang itu dari segala dosa dan kejahatan (1 Yoh 1:5-10).
Kebenaran inilah yang harus menjadi bagian hidup kita. Prinsip pengakuan dosa ini(Yak 5:16) berlawanan dengan apa yang telah dilakukan Adam dan Hawa. Setalah mereka mengetahui telanjang –menyadari keadaan berdosa- mereka malah sembunyi dan menyangkal kesalahn yang mereka perbuat dengan tidak mau mengakuinya. Kristus datang membawa kebenaran. Bila kita menerima-Nya, kita pun menerima kebenaran sebagai bagian kita. Jadi, pertobatan didasarkan pada pengakuan bahwa Allah telah menyucikan kita dari segala dosa dan kejahatan bukan berdasarkan kemauan / kehendak serta usaha orang untuk menebus dirinya sendiri dengan segala perbuatan baik dana amalan. Penebusan telah dilakukan Allah dan kita diminta menerima dan mengakuinya.
Kebenaran itu akan memerdekakan kita dari rasa takut akan penghukuman yang akan datang karena Yesus Kristus sendiri telah menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Kebenaran itu memerdekakan kita dari rasa cemas akan kehidupan masa depan sebab Yesus telah bangkit dari antara orang mati dan hidup selamanya serta senantiasa jadi perantara kita. Dia telah menyelamatkan kita maka kita akan diselamatkan-Nya lagi. Dia sanggup karena Dia berkuasa. Setelah Dia bangkit, segala kuasa di bumi dan di sorga ada di tangan-Nya (Mat 28:18). Itu berarti manusia yang telah ‘dirajai’ oleh Iblis semenjak Adam menyerah kalah pada tipu dayanya dibebaskan oleh Kristus. Segala kuasa di bumi ada di tangan-Nya itu berarti Iblis telah dikalahkan. Kejahatannya dipatahkan kuasanya. Kegelapan disingkapkan oleh terang kebangkitan Kristus.
Sekarang ini yang terjadi adalah peperangan antara kebenaran Kristus yang menang dengan kepalsuan Iblis yang berusaha terus membuat manusia jatuh lagi ke dalam dosa. Peperangan ini telah dimenangkan oelh Kristus dan akan dimenangkan-Nya lagi. Bagi orang-orang percaya, kita telah lebih daripada pemenang karena kemenangan Kristuslah yang dianugerahkan pada kita (Rom 8:37). Cara pandang ini akan membawa kita pada kehidupan berkemenangan. Tidak takut lagi pada si jahat dan digentarkan oleh kuasanya. Mereka telah kalah. Masakan kita menyerah pada roh-roh yang lemah itu? Bila mereka seakan-akan berkuasa maka kita tahu kuasanya itu terbatas dan tidak untuk selamanya. Itu penghiburan kita akan peperangan melawan kejahatan. Kejahatan telah dikalahkan oleh kebaikan Kristus dan akan dikalahkan lagi. Tinggal kita mau menjadi bagian yang mana? Mau jadi hamba kebenaran atau hamba kejahatan?

Septa Widodo Munadi, Godong (30 Oktober 2010 ;07.00)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ads Inside Post