Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Selasa, 27 Juli 2010

Terapi Arang : Kutemukan Kembali Cintaku di Tepi Danau Tiberias

"Kita tidak dapat mengubah apapun, kecuali kita telah menerima hal itu. Menyalahkan berarti tidak membebaskan, malah sebaliknya menekan. Menerima diri sendiri merupakan inti moral dan pembuktian seluruh pandangan seseorang akan kehidupan. Jika saya memberi makan si pengemis, mengampuni seorang penghina dan mengasihi musuh saya dalam Kristus tidak diragukan lagi semua itu adalah kebajikan yang besar......
Tetapi, bagaimana jika saya yang mengalami semua itu, manjadi paling miskin dari semua pengemis, paling kurang ajar dari semua penghina dan paling jahat dari semua penjahat, sehingga saya membutuhkan kebajikan itu. Saya adalah musuh yang harus dikasihi - bagaimana jika ini yang terjadi?
Kutipan di atas, diungkapkan oleh Jung (1932) seperti tertulis dalam buku Seni Memahami Diri Sendiri, Cecil G. Orborne, BPK, 2001 hal 27. Memang demikian adanya kita bila kita mengalami kebangkrutan rohani dan kegagalan moral. Kesalahan yang pernah kita lakukan terasa menyesakkan dada. Menekan. Bahkan membuat cemas. Kita membutuhkan pertolongan.

Dengan mudah kita bisa katakan "Tuhan pasti menolong". Tapi masalahnya kita tidak menyadari bahwa Tuhan telah menolong kita. Dia telah mengulurkan tangan-Nya dan berusaha mengangkat kita kembali. Itulah yang terjadi pada Simon Petrus. Orang yang begitu dekat dengan Tuhan Yesus lebih dari siapapun kala itu. Dia malah menyangkal mengenal-Nya saat-saat menjelang penyaliban-Nya. Ironis. Kita pasti ingin memarahinya. Memaki. Tapi, bukan kita saja yang mungkin geram melainkan dia sendiri. Jengkel, kecewa dan sulit menerima diri sendiri. Namun, Tuhan Yesus sanggup memulihkannya melalui satu peristiwa yang mungkin biasa tapi sangat menakjubkan bila direnungkan. Saya selanjutnya akan menyebutnya dengan "Terapi Api Arang".

Peristiwa itu terjadi di tepi danau Tiberias (Galilea). Sebaiknya kita membaca keseluruhan pasal Yoh 21. Dari tiap ayat, kita dapatkan makna ynag mendalam. Terlebih bagi mereka yang telah mengetahui perjalan iman seorang Simon Petrus pada keempat kitab Injil. Mulai dari pemanggilannya, keikutsertaannya dalam pelayanan Yesus dan sampai ia menyangkal-Nya. Kita pasti kagum dan ingin seperti dia. Tapi tunggu dulu. Apakah kita juga dapat merasakan kegagalan-kegagalannya sebagai murid Yesus? Apakah kita juga mau merasakan betapa bangkrutnya kita bila kita mengandalkan diri sendiri dan ternyata mengecewakan Tuhan?

Peristiwa itu terjadi setelah Tuhan Yesus bangkit. Simon Petrus bersama murid-murid yang lain ke Galilea sesuai dengan pesan Yesus yang diingatkan kembali oleh Maria Magdalena karena malaikat yang mengatakannya di kubur yang kosong itu. Seharusnya tujuan mereka adalah ke bukit yang ditunjukkan Yesus ( Mat 28:16) bukan malah kembali menjadi nelayan. Bukankah pekerjaan itu telah mereka tinggalkan karena mengikut Yesus. Tapi mengapa mereka malah kembali melaut? Saya yakin mereka telah menyaksikan sendiri bahwa Yesus telah bangkit dengan segala buktinya. Saya mengira ada keputusasaan dalam diri mereka. Mereka masih mengingat kegagalan mereka. Mereka meninggalkan guru-Nya ketika ditangkap dan malah pemimpin mereka , Simon Petrus, menyangkal mengenali-Nya.

Makanya, Yesus sendirilah yang harus memulihkan mereka terutama Simon Petrus. Caranya? Yesus merekontruksi segala kenangan yang pernah Petrus alami bersama Yesus. Hal-hal kecil telah dijadikan sarana untuk mengingatkannya akan karya Tuhan atas dirinya. Kenangan itu kadang indah kadang menyakitkan. Tapi semenjak peristiwa penyangkalan itu semuanya menjadi runtuh tiada arti lagi. Betapa ia masih ingat sumpahnya yang tak tergoncang imannya sekalipun mengikuti Yesus sampai mati, tapi ternyata tidak. Kesombongannya runtuh. Tak ada lagi yang dapat dibanggakan.

Pengalaman pahit bisa saja langsung kita pendam, tapi apabila tidak kita akui telah sungguh-sungguh terjadi maka hal itu akan menghantui seumur hidup kita. Seperti yang dikatakan Jung, kita membutuhkan suatu kebajikan. Untuk dapat berubah harus ada perubahan dalam diri kita. Untuk dapat menerima pengalaman masa lalu kita harus memiliki sudut pandang yang baru sama sekali. Harus ada Seorang penolong yang mencerahkan pandangan kita dan membawa kita ke sana.

Sebagai nelayan ulung, Simon Petrus akan dengan mudahnya memperoleh tangkapan ikan. Sebab ia pasti tahu di mana ikan-ikan akan mengumpul. Tapi naas, malam itu, ia tidak dapat apa-apa. Barulah menjelang siang, Yesus datang dan memintanya menebar jala di sebelah kanan perahu yang akhirnya mendapat tangkapan banyak dan besar-besar. Kembali melayang ingatannya pada pemanggilannya pertama kali untuk menjadi penjala manusia. Di hadapan banyak orang ia disuruh melakukan hal yang sama. Tapi sekarang jalanya tak koyak meski dulu jalanya sampai koyak. Waktu itu ia tersungkur dan meminta Yesus pergi daripadanya karena menyadari keberdosaannya. Tapi sekarang di tepi danau Tiberias, ia malah terjun ke danau menghampiri Yesus di tepi pantai. Terasa ketakutannya mulai tertepis. Seakan Tuhan kembali mengingatkan janji-Nya yang teguh untuk menjadikan Simon Petrus sebagai penjala manusia. Jumlah tangkapan yang menarik, 153 ekor. Bila secara matematis jumlah itu adalah penjumlahan angka 1 sampai dengan 17. Hal ini memiliki makna bahwa Yesus sendirilah yang akan menambahkannya...

Ketika tiba di darat, mereka telah melihat api arang dan diatasnya ikan dan roti. Mengingatkan dimana waktu itu ia sedang berdiang di depan api arang (Yoh 18:8). Juga kala Yesus memberi makan pada 5000 orang (Yoh 6:1-15). Dua peristiwa disatukan. Yang satu kegagalan iman, yang lain pengalaman iman. Yang satu penolakan diri yang lain penerimaan dalam persekutuan. Perasaannya pasti campur aduk. Mana yang sebenarnya Tuhan kehendaki untuk dia pahami. Tapi keduanya sungguh-sungguh disatukan.

Inilah yang saya maksudkan dengan terapi api arang. Bagaimana Tuhan akan memperhadapakan kita pada kenangan akan peristiawa yang menyakitkan dan juga kadang bersamaan dengan hal-hal yang indah. Hal ini dimaksudkan untuk merekontruksi kembali perasaan kita yang sebenarnya waktu itu. Kita diajak untuk mengakuinya agar pengalaman itu tak lagi menekan sehingga kita dapat menyerahkannya pada Tuhan. Segala sesuatu tak dapat kita serahkan pada Tuhan apabila kita sendiri belum mengakuinya.

Hal berikutnya, Yesus mengajukan pertanyaan, satu hal yang penting dalam proses ini. Ia mengajukan pertanyaan yang sama sebanyak 3 kali sebanyak Simon Petrus telah menyangkali mengenal-Nya. Nah, dalam tanya jawab ini terlihat pengakuan Petrus. Ia kembali menegaskan kalau ia mengasihi Tuhannya lebih daripada teman-temannya. Mengingatkan ia akan sumpahnya. Dan tergambar juga suasana waktu itu dimana Petrus hanya sanggup mengasihi Yesus dengan kasih filia (kasih persaudaraan) bukan kasih agape yang diminta-Nya. Ia mengakui dengan jujur apa adanya keberadaan dirinya. Ia tidak lagi menyombongkan diri bahwa ia sanggup mengasihi Yesus dengan kasih agape (kasih tanpa syarat). Namun demikian, Yesus menerima pengakuan itu danmemberikan tugas baru untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Dan kita tahu ia akhirnya melaksanakan tugas itu malah dalam suratnya ia meminta penatua gereja melakukan hal yang sama.

Sedemikian istemewanya seorang Simon Petrus dalam jemaat mula-mula sehingga akhir hayatnya pun dinubuatkan oleh Tuhannya dan dicatat dalam Alkitab. Penubuatan akan kematiannya yang akan memuliakan Allah dan Yohanes dalam kitab Injilnya mencatat itu telah digenapi. Menurut tradisi gereja, Petrus mati disalib terbalik di kota Roma. Penubuatan itu seakan memaknai kehidupan Petrus selanjutnya. Dibandingkan dengan nubuatan akan penyangkalan waktu itu, nubuatan itu mampu menghapus kegetiran kegagalan akan masa lalunya.

Kejadian terakhir pada pagi itu, Yesus mengajak Simon Petrus berjalan mengikuti-Nya. Tapi Yohanes (murid yang dikasihi itu) mengikuti mereka dari belakang. Petrus bertanya juga tentang dirinya, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa itu bukan urusannya. Urusannya adalah mengikut Yesus. Hal ini pun melayangkan ingatannya pada waktu Simon Petrus dibawa oleh Andreas, saudaranya kepada Yesus. Saat-saat pemanggilan pertama.

Dari terapi api arang yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap Simon Petrus itu kita diajak merenung kembali. Apakah ada saat dimana Tuhan membawa kita pada kondisi seperti itu? Dimana kita harus menghadapi luka-luka batin kita di masa lalu melalui peristiwa yang mengingatkan hal itu. Bisa jadi kita akan ketemu orang penting dalam kehidupan kita yang mau tidak mau akan mengorek luka itu. Siapkah kita? Oleh bilur-bilur-Nya kita telah disembuhkan (1 Pet 2 :24). Dia menanggung dosa kita. Dan akibat dosa kita, Dia harus menderita, didera dan menerima hukuman atas dosa-dosa kita.

Lihatlah, siapakah teman dekat kita, siapa pacar kita, isteri atau suami kita, suasana kantor tempat kita bekerja, suasana sekolah kita dimana hal itu membawa ingatan akan kepahitan, kegeraman, dan luka di waktu kecil ketika kita di tengah-tengah keluarga. Beranikah kita mengakui adanya peristiwa yang akan mengingatkan kita akan kenangan masa lalu dan menyerahkan pada pengaturan dan pemeliharan Tuhan? Seperti duri dalam daging. Nyeri. Menyakitkan. Tapi itu harus kita hadapi. Mintalah hikmat Tuhan untuk hal itu.....

Bogor, SWM. 7 April 2004
(Pernah diterbitkan sebagai artikel dalam buletin "DIAN" GKJ Bogor no.xxi/April 2004)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ads Inside Post