Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Kamis, 19 Juli 2012

Tuhan yang Melawat Umat-Nya


Bahan Renungan : Mazmur 147:2-4

Tanda apa yang Tuhan berikan pada kita apabila kita jatuh dalam dosa sebagai peringatan supaya kita berbalik dari dosa, kembali kepada Tuhan?
Salah satunya dengan berbicara melalui hati nurani. Hati nurani kita tidak akan tenang apabila kita jatuh dalam dosa. Sebelum orang lain mengingatkan, hati nurani kita seakan berteriak tidak setuju atas apa yang kita lakukan bila kita jatuh dalam dosa.

Tapi masalahnya akan timbul, apabila hati kita menjadi keras dan menebal seakan diam saja ketika kita jatuh dalam dosa. Sepertinya nyaman saja tatkala kita berbuat dosa. Apakah Tuhan kita akan berdiam diri? Tidak! Tuhan bisa memakai orang lain yang menyuarakan suara kenabian untuk menegur kita. Dan apabila kita mendengar orang tersebut, bersyukurlah kita, itu berarti kita kembali ke jalan Tuhan. Namun, lagi-lagi bila kita mengeraskan hati tidak mau juga mendengarkan teguran orang-orang di sekitar kita itu (yang saya kira sangat mengasihi kita) apa yang bisa Tuhan lakukan untuk menyadarkan kita akan dosa-dosa kita?

Tuhan akan menyerahkan kita pada keinginan-keinginan kita yang berdosa itu dengan berhadapan dengan kenyataan pahit akan dosa itu (Roma 2:24-32). Seperti juga bangsa Israel yang dibuang ke Babel –bangsa yang penuh dengan penyembahan berhala- sebagai cara supaya bangsa Israel melihat sendiri kenyataan pahit hidup di tengah-tengah bangsa yang menyembah berhala karena bangsa Israel telah menolak Tuhannya dan jatuh pada penyembahan berhala. Bangsa Israel dicerai-beraikan dan jauh dari bait Allah yang menjadi simbol hadirat Allah.
Sebagai umat Allah tapi kehilangan persekutuan dengan Allah karena menolak bersekutu dengan Allah. Hidup membelakangi Allah.

Namun demikian, Allah Israel, Allah yang kita kenal melalui pengajaran Alkitab, tidak tinggal diam. Meskipun masa hukuman pembuangan itu selama 70 tahun, Tuhan peduli pada umat-Nya yang menjadi milik-Nya. Tuhan melawat umat-Nya.

Ayat kedua pada Mazmur 147 disebutkan:”TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang yang tercerai-berai;...”
Tuhan mencari umat-Nya. Tuhan memulihkan keadaan umat-Nya yang tercela yang dicemooh bangsa-bangsa di sekitarnya. Tuhan menaruh rencana pemulihan kota Yerusalem dalam hati Nehemia sehingga ia yang berada di pembuangan kembali untuk membangun kota Yerusalem yang telah menjadi puing-puing karena dihancurkan oleh bangsa Babel. Dan melalui Koresy, Raja Persia yang memaklumkan kepada bangsa Israel yang telah tercerai-berai untuk kembali ke Israel. Itulah cara Tuhan memakai orang-orang untuk melaksanakan kehendak-Nya

Tuhan yang melawat umat-Nya tidak berhenti pada penghakiman atas dosa-dosa umat-Nya saja namun membawa umat-Nya pada pertobatan. Tidak berhenti menunjukkan kesalaham umat-Nya tapi mau memperbaiki keadaan umat-Nya yang tercela karena dosa. Tuhan yang penuh kasih karunia itu pun disadari oleh Nehemia sebelum memohon belas kasihan Tuhan atas bangsa, ia berdoa mohon ampun akan dosa-dosanya juga dosa keluarga dan bangsanya. Dasar pemulihan adalah kesadaran akan dosa dan mau bertobat.

Tuhan yang melawat umat-Nya mau bersekutu kembali dengan umat-Nya meskipun umat-Nya telah jatuh dalam dosa. Tidak untuk selama-lamanya umat-Nya dibuang karena dosa-dosanya tapi pemulihan dan pengampunan terjadi ketika umat-Nya kembali dikumpulkan. Merasakan kembali hadirat Allah.

Ayat ketiga dalam Mazmur 147 disebutkan:”Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;..”
Hal itu hendak menyatakan bagaimana ketika Tuhan melawat umat-Nya maka ada pemulihan antara hubungan antar sesama manusia terjadi tidak hanya hubungan Tuhan dengan umat-Nya yang dipulihkan.
Orang-orang yang patah hati adalah orang-orang yang kecewa karena melihat atau berada pada situasi yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Dan patah hati seringkali diakibatkan karena perlakuan dari orang lain. Ketika kita menaruh kepercayaan pada seseorang tapi ternyata orang tesebut mengkhianati kita tentulah kita kecewa. Dan kekecewaan atau patah hati itu akan sangat menyakitkan apabila diakibatkan oleh orang yang paling dekat dengan kita dibandingkan dengan orang yang hanya kita kenal.

Kita seringkali menuntut orang yang membuat kita patah hati itu untuk meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kembali kesalahannya itu, tapi apabila hal itu tidak terjadi, bagaimana?
Apakah kita akan membiarkan diri kita berada dalam kepahitan karena menyimpan dendam dan sakit hati sehingga membusukkan hati kita membuat kita antipati / menolak orang lain juga?

Ketika Tuhan menyembuhkan orang-orang yang patah hati tidaklah disyaratkan dulu agar orang yang membuat kita patah hati dan terluka itu mau mengakui kesalahannya dan bertobat tapi semata-mata pemulihan itu terjadi dalam diri kita dengan cara memberikan kuasa yang bekerja dalam diri kita untuk bisa mengampuni orang lain. Itulah kasih karunia dari Allah.
Coba ingat kembali saat-saat Tuhan memulihkan kita???
Saat itu kita akan merasa heran mengapa bisa kita tidak marah ketika berhadapan dengan orang yang telah menyakiti kita malah kita dimampukan untuk mengasihinya...
Nyonya Cerrie Teen Boom, sahabat penginjil Billy Graham pernah ditanya wartawan bagaimana bisa ia mendoakan orang-orang yang menyiksanya dalam kamp konsentrasi di Jerman. Ia hanya menjawab itulah kasih karunia Allah yang memampukan dia mengasihi orang yang telah menyakiti dirinya.

Jangan biarkan kita tidak bisa tidur hanya karena terus memikirkan dosa-dosa orang lain sedangkan orang tersebut malah tidur pulas bahkan mengorok..
Dendam lebih merusak pada diri kita sendiri daripada menghancurkan orang yang kita benci.
Ia menyembuhkan... Ia membalut... begitulah cara Allah melawat umat-Nya. Ia begitu peduli bahwa hubungan antar manusia akan baik apabila didasari oleh kasih karunia dan pengampunan. Tidak ada dendam disana.

Almarhum Pdt. Eka Darmaputera (pendeta di GKI Bekasi Timur Jakarta) pernah menulis dalam bukunya tentang misionaris Moravia yang kesulitan untuk mendapatkan kata pengampunan pada suku Eskimo karena memang tidak ada kosakata untuk pengampunan. Akhirnya mereka memakai kata –Issumagijoujungnainermik - satu kata yang panjang tapi itulah yang bisa mereka lakukan dengan merangkai kata-kata yang dikenal oleh suku Eskimo yang diuraikan artinya adalah:”Tidak bisa memikirkan tentang itu lagi”.

Bisakah kita? Bisakah kita tidak memikirkan orang yang telah menyakiti kita? Atau melupakan kejahatan-kejahatannya? Bisa. Karena Tuhan sendirilah yang berjanji menyembuhkan dan membalut, itu berarti Tuhan pulalah yang akan memampukan kita untuk mengampuni. Asal kita percaya pada-Nya. Percaya pada Tuhan Yesus Kristus yang melaluiNya kita peroleh pengampunan Allah. Kuasa akan diberikan dan kita akan heran seperti wartawan yang mewancarai Nyonya Corrie Teen Boom.


Ayat keempat dalam Mazmur 147 disebutkan:”Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.”
Ayat tersebut tidak bicara tentang astronomi –ilmu perbintangan- tapi bicara tentang kita sebagai pribadi. Bagaimana bisa?
Coba Anda perhatikan kembali... Ia menentukan jumlah bintang-bintang.. siapakah yang bisa menghitung bintang-bintang. Matahari adalah salah satu bintang, ukuran berkali-kali lipat dari ukuran bumi. Dan ada milyaran bintang-bintang di alam semesta ini dan luarbiasanya Allah kita mengetahui semua nama bintang-bintang itu. Maksud mengetahui disini bukan cuma tahu tapi paham seluk-beluknya.
Terlebih lagi kita orang-orang yang dikasihiNya. Meskipun bila dibandingkan dengan ukuran bintang-bintang itu kita begitu kecil, tapi bagi Allah kita sangat berarti bahkan Ia relakan Anak-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Betapa berharganya kita di mata-Nya.

Ayat ini juga ingin mengingatkan kita bahwa Allah mengerti kita lebih dari siapapun. Tuhan mau menjadi teman kita, sahabat kita. Sahabat tidaklah sekedar tahu kita tapi mengerti dan memahami kita. Tuhan mau melawat kita karena kita sangat berarti bagiNya. Ia mau berjumpa dengan kita seperti juga ketika Tuhan Allah berjalan di taman Eden mencari Adam dan Hawa yang telah bersembunyi karena menyadari keberdosaan mereka, Tuhan mau menjumpai Abraham dan mengajaknya pergi dari Urkasdim ke tanah Kanaan, tanah perjanjian dan menjumpainya untuk melihat bintang-bintang yang begitu banyak sebanyak keturunannya; Tuhan mau menjumpai Samuel yang masih kecil yang tertidur di Bait Allah untuk menyatakan firman-Nya bagi umatNya dan masih banyak contoh perjumpaan Allah dengan orang-orang pilihan-Nya.

Tuhan yang mau melawat kita seharusnya mendorong kita juga untuk berempati kepada orang lain yang mungkin juga pernah jatuh dalam dosa, patah hati dan terluka maupun yang kesepian karena merasa sendirian. Kita diminta untuk menjadi sahabat Allah yang mau membagikan kasih Allah pada sesama seperti doa Ibu Theresia:

Kristus,
Saat rasa lapar mendera
Datangkan padaku orang yang butuh makanan.
Saat duka menghimpit
Kirimkan padaku teman yang perlu dihibur.
Saat salibku terasa makin berat
Izinkan aku memikul salib orang lain pula.
Saat hanya diriku yang kupikirkan
Bawa pikiranku pada penderitaan orang lain.

Kebutuhan mendasar dari manusia adalah dicintai dan mencintai. Kebutuhan itu saya rasa jauh lebih besar daripada kebutuhan akan makan dan minum. Orang yang lapar dan haus masih bisa menahan diri dengan berpuasa tapi orang yang kekurangan cinta kasih terus-menerus maka orang tersebut akan mengalami kekosongan jiwa yang berakibat fatal seperti menjadi orang yang dingin, penuh kepahitan dan menjadi asing terhadap orang lain. Karena orang yang tak tahu dicintai bagaimana mungkin mampu untuk mencintai??

Oleh karena itu, dalam cinta kasih Kristus, Tuhan mau mengampuni dosa-dosa umat-Nya, menyembuhkan orang yang patah hati dan terluka dengan memampukan juga untuk mengampuni orang lain dan mau menerima kita apa adanya karena Dia mengenal kita lebih daripada siapapun.
Maukah kita dilawat oleh Tuhan yang begitu mengasihi kita?
Baiklah itu menjadi perenungan kita bersama. Amin


Tegal, 25 Mei 2012
Septa Widodo Munadi
 (telah dibawakan dalam Kebaktian Doa Pagi  di GKI Tegal - 25 Mei 2012)

Lagu pujian :  
NKB 34:1,3
NKB 210:1, 2-3


setiamu, Tuhanku, tiada bertara

NKB 34:1,3

SetiaMu Tuhanku, tiada bertara
di kala suka, di saat gelap.
KasihMu Allahku, tidak berubah,
Kaulah Pelindung abadi tetap.

Ref.
SetiaMu Tuhanku, mengharu hatiku,
setiap pagi bertambah jelas.
Yang kuperlukan tetap Kauberikan,
sehingga aku pun puas lelas.

DamaiMu Kauberi, dan pengampunan
dan rasa kuatir pun hilang lenyap,
kar’na ‘ku tahu pada masa mendatang:
Tuhan temanku di t’rang dan gelap.

kuutus ‘kau

NKB 210:1,2,3


Kuutus ‘kau mengabdi tanpa pamrih
berkarya t’rus dengan hati teguh,
meski dihina dan menanggung duka;
Kuutus ‘kau mengabdi bagiKu.

Kuutus ‘kau membalut yang terluka,
menolong jiwa sarat berkeluh,
menanggung susah dan derita dunia.
Kuutus ‘kau berkurban bagiKu.

Kuutus ‘kau kepada yang tersisih,
yang hatinya diliputi sendu,
sebatang kara, tanpa handai taulan.
Kuutus ‘kau membagi kasihKu.

Coda: Kar’na Bapa mengutusKu,
Kuutus ‘kau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ads Inside Post