Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Rabu, 01 Oktober 2014

Menjadi Penuai di Ladang Tuhan


Kemarin hampir seharian aku membuat selebaran untuk Malam Penyegaran Iman (MPI) Pos Jemaat Slawi. Baru selesai point-point pokok saja. Terpikir olehku selebaran itu perlu pengantar untuk bisa mengajak jemaat terdorong untuk datang dan merasakan panggilan sebagi penuai di ladang Tuhan.

Jemaat di Slawi cenderung stagnan. Kurang lebih 30 orang yang hadir dalam kebaktian. Kehidupan berjemaat di sana juga masih banyak tergantung dengan jemaat induknya di Tegal, meskipun sudah 25 tahun berjemaat.
Pagi ini, setelah membaca Kitab Injil Yohanes perikop tentang Nikodemus terus berlanjut tentang Yohanes Pembaptis dan terakhir perempuan Samaria, luar biasanya Tuhan membawa aku pada pengertian baru. Satu prinsip yang diperbolehkan bahkan diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri kepada murid-muridNya.

 Sebelumnya Nikodemus adalah seorang tokoh agama Yahudi yang tentu saja punya pemahaman agama diatas rata-rata kebanyakan orang. Dia sudah punya dasar pemahaman tentang siapa itu Allah dan bagaimana mengenalNya. Namun, ketika Tuhan Yesus menanggapi pernyataannya tentang siapa yang dapat melihat kerajaan Allah seharusnya dia mendapat pengertian lebih lagi dari Tuhan Yesus. Tapi kayaknya dia tipikal orang yang sulit percaya. Tuhan Yesus harus menjabarkan panjang lebar tentang rencana / rancangan kasih Allah pada manusia berdosa.


Kemudian berlanjut pada kisah Yohanes Pembaptis dimana Yesus pernah dibaptis olehnya tapi ternyata Yesus  malah mendapatkan pengikut yang lebih banyak darinya. Saya menduga pun pengikut Yesus adalah mantan pengikut Yohanes Pembaptis, bahkan tercatat ada 2 muridNya adalah mantan pengikut Yohanes Pembaptis (Yoh 1 :35-51).

Dari dua kisah diatas, Yesus mendapatkan orang yang percaya kepadaNya dan mereka itu adalah orang-orang yang telah memiliki pemahaman tersendiri tentang agamanya. Yesus mengajak mereka lebih lagi mengenal-Nya berangkat dari pemahaman mereka terlebih dahulu barulah dibawa dalam pengertian dan pengenalan yang baru tentang Allah yang sebenarnya.


Hal itupun terjadi pada perempuan Samaria yang ditemuinya di tepi sumur Yakub. Yesus memperkenalkan diriNya pun berangkat dari pengenalan perempuan itu (mengapa penulis Kitab Injil Yohanes tidak mencatat namanya jadi saya tidak melulu menulisnya sebagai perempuan itu) tentang dirinya sendiri. Kehausan rohani / spiritualnya diungkapkannya pada Yesus nyata bagaimana dia sangat membutuhkan air hidup yang ditawarkan oleh Yesus. Bahkan berani jujur (setelah Tuhan Yesus menyatakan indentitasnya) tanpa menyangkal tapi mengakuinya. Dia mau buka hati untuk Sang Mesias. Dia pun tak berhenti menutupi sukacita itu dengan memberitakan Injil pada orang-orang sekampungnya. Meski itu menjadi satu tantangan tersendiri. Karena dia adalah seorang perempuan. Perempuan Samaria lagi. Ditambah indentitasnya yang pernah bersuamikan 5 orang dan yang sekarang itu bukan suaminya. Itu semua tak menghalanginya untuk memberitakan Injil Kristus. Akhirnya ia membawa orang-orang kampung kepada Yesus.

Inilah yang menjadi pokok perintah Yesus pada murid-muridNya pada waktu itu. Mereka diminta menjadi penuai bagi orang yang telah siap hatinya untuk menerima Tuhan. Mereka telah mengenal Tuhan Yesus terlebih dahulu kemudian mereka diminta mewartakan juga siapakah Yesus itu. Mereka hanya memetik hasil dari apa yang telah dikerjakan Tuhan Yesus sendiri dan perempuan Samaria itu. Mereka diminta melanjutkan pekerjaan Tuhan, menggembalakan mereka dan menjaga mereka tetap berpaut pada Tuhan.

 Satu hal yang menarik sebelum Tuhan Yesus memerintahkan :".... Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai." (Yohanes 4 : 35 b). Ia terlebih dahulu memberikan pengantar:"Bukankan kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu...."
Ia seakan mau menegaskan: Jangan beralasan belum waktunya menuai, masih ada beberapa waktu lagi. Tuhan sendiri yang telah menabur dan orang lain pun dipakai Tuhan untuk menabur benih kepercayaan dalam diri orang-orang percaya.

Para murid diminta untuk menuai hasilnya itu dan menjadikan mereka umat Tuhan yang percaya dan mengenal Tuhannya. Prisnsip ini tentu saja bukan sebagai justifikasi untuk merebut domba-domba orang lain yang Tuhan telah percaya kepada mereka. Jangan samapi hal itu malah menjadi pertengkaran antar gereja.
Menilik kembali kota Tegal atau Slawi sebagai kota di Pantura dimana menjadi jalur perlintasan barang dan jasa yang utama di pulau Jawa. Tentu saja kota ini menjadi tempat transit atau pendatang bagi banyak pendatang dari luar kota. Banyak diantara mereka yang datang sudah mengenal Kristus dari tempat asalnya. Namun demikian, mereka pasti akan mencari-cari gereja-gereja mana yang tepat bagi diri mereka supaya bisa berjemaat. Banyak yang lebih mencari gereja yang sealiran dengan gereja asalnya. Tapi juga ada yang mencari suasana baru di gereja lain.

Semua itu menjadi peluang atau juga berarti perintah untuk tetap menjaga dan menerima mereka sebagai bagian dari persekutuan umat Tuhan. Tentu saja tugas panggilan sebagai penuai di ladang Tuhan Tuhan tidak hanya melulu atas orang-orang yang sudah percaya. Bagi mereka yang belum percaya tapi Tuhan telah membukakan hatinya untuk percaya (dengan segala cara: lewat satu peristiwa, mendengar kesaksian tentang Kristus, mendengarkan lagu pujian, dll) adalah menjadi tugas kita untuk lebih mengenalkan siapa sebenarnya Kristus Yesus itu.
Siapkah kita jadi penuai di ladang Tuhan?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ads Inside Post