Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Senin, 30 Desember 2013

Bercermin adalah Upaya untuk Koreksi Diri





Bahan Renungan: Matius 6:22-23 ; 7:1-5
Lagu:  NKB 126:1,2
       NKB 122:1,2 & 3


PENAYANGAN VIDEO


Watch How Boy Takes Harassment Revenge with a Girl in a Public Bus

Kesan apa yang Bapak/Ibu lihat dari tayang video tadi?
Coba perhatikan dalam video tersebut: ada seorang pemuda India yang sedang dalam sebuah bus tiba-tiba menerima tamparan dari seorang gadis di sebelahnya karena merasa dilecehkan. Bahkan orang-orang yang duduk mendukung tindakan gadis itu dan mempersalahkan pemuda itu.
Sesaat kemudian, keadaan berbalik ketika pemuda bergeser tempat berdirinya (dimana ia hendak turun) berada di depan gadis itu. Gantian pemuda itu yang menampar gadis itu karena menyentuh pemuda itu. Sebetulnya apa yang terjadi?
Apa benar itu semata-mata karena kesalahan pemuda itu sehingga menyentuh gadis itu?
Tapi kalau kita perhatikan, pemuda itu menyentuh gadis itu gara-gara bus itu mendadak mengerem sehingga pemuda itu terdorong ke depan menyentuh gadis itu. Saya pikir, pemuda itu tak bermaksud melecehkan gadis itu. Tapi ternyata hal itu tak dipedulikan gadis itu dan begitu cepat langsung menamparnya. Ketika keadaan berbalik, tak ada gunanya gadis itu minta maaf.

Dari tayangan itu kita dapat belajar bahwa seringkali kita cepat-cepat menghakimi orang lain yang melakukan kesalahan tanpa mempedulikan kesalahan itu karena apa? Apa murni kesengajaan orang atau karena memang keadaan yang mengakibatkan kesalahan itu…
Disini kita diminta untuk bijaksana menilai sesuatu, tidak terburu-buru atau terbawa emosi semata. Kita harus melihat sebuah permasalahan dengan jernih, jujur dan tidak memihak. Bukan didasari oleh keinginan untuk merasa diri lebih baik / lebih benar daripada orang lain.

Menilai suatu kesalahan atau kita sebut mengoreksi harus dipahami sebagai upaya untuk membetulkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Tujuannya jelas yaitu memperbaiki kesalahan bukan untuk mencari-cari kesalahan. Koreksi yang baik bukan saja melibatkan orang dalam (orang yang terlibat) tapi juga orang luar. Melalui koreksi ini, kita bisa melakukan evaluasi dan instropeksi.

Dengan evaluasi dan instropeksi, kita diharapkan dapat menentukan langkah selanjutnya yang terbaik yang dapat kita lakukan. Oleh karena itu, bagaimana kita sebaiknya memahami koreksi dari saudara-saudara yang lain? Koreksi harus kita pahami sebagai bentuk kepedulian orang lain pada diri kita meskipun kita sadar kadang cara pandang orang tentang sesuatu hal terbatas bahkan sempit sehingga salah mengartikan sesuatu dengan benar seperti video tadi. Tapi tokh, kita semestinya mau membuka diri untuk mau dikritik, diberi masukan dan saran agar apa yang telah kita lakukan sebelumnya menjadi lebih baik lagi.

Sekali lagi, tanpa koreksi, kita tidak akan tahu apakah kita telah melakukan kesalahan atau tidak. Justru dengan koreksi kita terhindar dari kesalahan yang lebih fatal. Oleh karena itu, kita tidak boleh cepat-cepat tersinggung apabila ada orang yang mau mengkritik atau memberi masukan pada kita. Malahan jadi PERINGATAN BAGI KITA apabila kita tidak pernah dikritik oleh orang lain. Itu berarti kita tak dipedulikan lagi, entah melakukan ini dan itu atau orang mulai bosan pada kita yang tidak mau dikritik. Ini berbahaya bagi kita.

Namun bila kita berada pada pihak orang yang harus memberikan kritik, itu haruslah didasari oleh ketulusan dan kemauan untuk mengoreksi diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum mengkritik orang lain. Jangan sampai kita jadi batu sandungan dimana orang enggan mendengarkan kita karena kritikan kita tidak sebanding tindakan yang kita lakukan artinya kita juga melakukan kesalahan yang sama yang tidak bisa kita atasi tapi dengan mudahnya mengkritik orang lain.

Tadi saya katakan koreksi membuahkan evaluasi dan intropeksi. Biasanya akhir tahun adalah saat yang tepat untuk evaluasi dan intropeksi diri. Semua itu bisa kita lakukan dengan secara katif menanyakan pendapat orang lain terhadap diri kita atas apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun ini atau kita merefleksikan semua yang pernah terjadi selama setahun ini dan belajar jujur apa yang kurang, yang belum atau tidak kita lakukan. Istilah mudahnya kita bercermin diri.

Tentang cermin, kita pernah dengar cerita dongeng tentang cermin ajaib.
Seorang ratu yang cantik selalu bertanya pada cermin ajaib,”Wahai cermin ajaib, siapakah di seluruh negeri ini yang paling cantik?”
Jawab cermin ajaib itu kepadanya,”Tidak ada yang lebih cantik daripada sang ratu sendiri.” Mendengar itu, tentulah sang Ratu sangat bangga.
Sampai suatu kali dia bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama, namun jawaban cermin ajaib,”Tidak ada yang lebih cantik daripada Putri Salju.” Sang Ratu bukan saja terkejut tapi berubah jadi marah tidak disangkanya ada orang yang lebih cantik daripada dirinya.
Tapi pertanyaannya kenapa harus marah? Apa hak dia untuk marah?
Sang ratu tidak mau ada yang lebih cantik daripada dirinya. Dan kita tahu kisah selanjutnya bahwa Sang Ratu mengupayakan agar menyingkirkan Putri Salju dari negeri itu.


Semula diawali dengan bercermin. Yach, dengan bercermin kita melihat keadaan kita yang sebenarnya. Yang suka berlama-lama bercermin adalah para wanita. Ini yang seringkali membuat bapak-bapak rada jengkel kok merias diri di depan cermin bisa begitu lama. Jadi tidak sabaran. Bercermin berarti melihat bayangan kita. Apa yang ditampilkan di cermin adalah pantulan dari apa yang ada dalam diri kita. Kalau kulit kita hitam akan terlihat hitam. Kalau ada jerawat, akan nampak jerawat pula. Semua lekuk tubuh dan paras muka kita akan terlihat seperti adanya kita. Cermin itu jujur. Menyatakan apa adanya.

Kita ingin menonjolkan hal-hal yang baik menurut kita dan menutupi kekurangan kita. Demikian juga setelah bercermin, orang tak akan begitu saja berlalu. Ada saja yang dilakukan. Kalau rambutnya acak-acakan maka akan disisir. Kalau ada jerawat dan ingin tetap tampil cantik maka akan ditutupi dengan polesan kosmetik yang lebih tebal. Biar kelihatan lebih menawan dikasih pewarna pipinya, bibirnya dikasih lipstik dan seterusnya.

Ada satu tindakan nyata setelah bercermin. Tidak tinggal diam saja. Demikian juga setelah mengoreksi diri maka akan ada perubahan yang seharusnya kita lakukan selanjutnya.
Saya pernah menyampaikan renungan tentang perubahan hidup Rasul Petrus dimana ia mau menerima koreksi dari Tuhan dan dengan rendah hati belajar untuk menerima keadaan dirinya yang pernah gagal itu sehingga dia mau menerima kembali kepercayaan dari Tuhan bahkan untuk menggembalakan jemaat-Nya.

Rasul Petrus adalah seorang Sanguin, seorang yang temperamennya meluap-luap dan sulit dikendalikan. Spontan. Lebih menonjol daripada rasul-rasul yang lain. Namun demikian ketika dia menemukan dirinya yang diperhadapkan Tuhan Yesus akan ingatan akan kesalahan masa lalunya, ia tak berhenti meratapi kesalahannya itu tapi melangkah maju menerima kepercayaan kembali dari Tuhan untuk sebuah tanggung jawab yang besar.

Bahkan di Surat Galatia, kita tahu Rasul Petrus pernah melakukan kesalahan dosa kemunafikan dimana ia mengundurkan diri dari persekutuan jemaat yang tidak bersunat setelah datang orang-orang yang bersunat. Kesalahannya itu ditegur keras oleh Rasul Paulus di depan jemaat disitu. Sebagai pemimpin jemaat, tentu tidaklah mudah ditegur di depan jemaatnya. Tapi saya kira Rasul Petrus bukanlah seorang pendendam yang mudah sakit hati ketika ada orang yang menegurnya. Ini terbukti di suratnya yang terakhir sebelum kematiannya, ia memuji Rasul Paulus yang telah bekerja keras bagi jemaat Kristen dan tulisan-tulisannya yang membangun jemaat.

Jadi melalui Rasul Petrus kita belajar menjadi pribadi yang besar yang mau dikoreksi dan belajar dari masa lalu bukan untuk diratapi tapi koreksi itu dipakai sebagai acuan agar tidak gagal lagi pada kesalahan yang sama. Dengan satu harapan bahwa selalu ada kemungkinan yang lebih baik di masa depan.
Masa depan ada dalam pandangan bahwa hidup ini bukan hanya berhenti pada kematian saja tapi terus berlanjut pada kehidupan kekal yang disediakan Allah bagi kita yang percaya pada Kristus. Dan apa yang telah kita lakukan di dunia ini nantinya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang menghakimi dengan adil dan benar.

Seorang yang mau dikoreksi adalah pribadi yang memandang hidup ini ada tujuannya dan tujuannya itu pasti dimana kehendak Allah boleh terjadi dalam hidupnya. Hidup ini bukan sesuatu yang kosong tanpa arah dimana berhenti pada kematian saja setelah itu ketiadaan. Bukan. Karena bila itu yang menjadi acuan maka orang akan dengan seenaknya menjalani hidup ini tanpa peduli aturan atau kepada sesamanya. Yang penting dirinya senang. Orang yang demikian tentulah tidak mau dikoreksi, baginya, dirinyalah yang paling benar.
Oleh karena itu, setelah kita melakukan koreksi diri haruslah dilanjutkan dengan tindakan nyata sebuah perubahan menjadi lebih baik.
Mari kita belajar bercermin diri dan berubah.
Selamat menyambut tahun baru 2014!
Tuhan memberkati. Amin.

Septa Widodo Munadi,
Kebaktian Doa Pagi GKI Tegal - 31 Desember 2013
Pk. 06.00 s.d. 06.45


NKB 126:

Tuhan memanggilmu

1.                Tuhan memanggilmu, hai dengarlah:
“Apapun yang terbaik ya b’rikanlah!”
Dan jangan kau kejar hormat semu,
muliakan saja Yesus Tuhanmu.

Ref.
Tiap karya diberkatiNya,
namun yang terbaik dimintaNya.
Walaupun tak besar talentamu,
b’ri yang terbaik kepada Tuhanmu.

2.                Sanjungan dunia jauhkanlah
dan jangan kaudengar godaannya.
Layani Tuhanmu dalam jerih
dalam hidupmu yang t’lah Kauberi.



NKB 122
                     KU INGIN BERPERANGAI

‘Ku ingin berperangai laksana Tuhanku,
lemah lembut dan ramah, dan manis budiku.
Tetapi sungguh sayang, ternyata ‘ku cemar.
Ya Tuhan, b’ri ku hati yang suci dan benar.

‘Ku ingin ikut Yesus, mencontoh kasihNya,
menghibur orang susah, menolong yang lemah.
Tetapi sungguh sayang ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ku hati yang suci dan benar.

Ya sungguh, Jurus’lamat, cemarlah hatiku,
dan hanya ‘Kau yang dapat menghapus dosaku,
Supaya k’lak di sorga kupandang wajah-Mu
dan aku jadi sama laksana diriMu.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ads Inside Post