Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Kamis, 29 Januari 2015

Jangan Salah Menyampaikan Suatu Pesan



Seringkali kita sok tahu lebih dari apa yang sebenarnya kita tahu. Kita merasa diri lebih mengetahui segala sesuatu daripada Allah Yang Maha Tahu. Kita merasa lebih paham maksud Firman Tuhan bahkan dari Allah sendiri. Dengan pongahnya seringkali kita mengganggap penafsiran kita yang paling benar.
Mendengar kotbah Minggu  kemarin (25 Januari 2015 di GKI Tegal) oleh Bapak Nicolas Kurniawan dari GKI Bromo Malang, aku dibukakan sesuatu yang baru tentang nabi Yunus. Selama ini, persepsiku tentang  cerita di Kitab Yunus adalah semata-mata hanya tentang bagaimana Allah “mengubah” keputusan-Nya karena melihat pertobatan orang-orang Niniwe. An sich, hanya itu. Padahal ada satu hal yang menarik yang disampaikan Bapak Nicolas kalau ternyata nabi Yunus menyampaikan seruan kepada orang Niniwe bukan seperti yang Tuhan kehendaki.
Memang Tuhan meminta nabi Yunus untuk menyampaikan seruan tapi bukan berarti itu adalah tentang 40 hari lagi kota itu akan dijungkirbalikkan. Bisa jadi benar juga bahwa 40 hari lagi kota itu akan dibinasakan tapi intinya bukan pada pemberitaan penghukuman itu. Tapi seruan  yang dimaksud Allah adalah supaya orang Niniwe itu bertobat sebab alasan Allah adalah banyak orang yang mengeluh tentang kejahatan orang Niniwe. Seruan pertobatan karena melihat kejahatan itu didasari oleh kemurahan dan kasih karunia Allah semata. Allah murka atas kejahatan manusia, ya, itu benar. Tapi Allah juga penuh kasih sayang agar manusia bertobat dan berbalik dari jalannya yang sesat.
Ini berbeda dengan motivasi yang “menguasai” nabi Yunus. Ini mungkin kita bisa pahami karena ia sebagai nabi Israel yang diminta untuk menyampaikan Firman Allah pada ibukota negara yang pada waktu itu menguasai Israel. Betapa geramnya Yunus ketika ia diminta untuk menyampaikan Firman Tuhan pada musuh bangsanya. Mereka telah nyata-nyata menindas bangsa Israel dan melakukan apa yang jahat pada bangsa Israel tapi kenapa Allah menaruh perhatian pada mereka. Kegeraman itulah yang mendasari nabi Yunus menyampaikan berita penghukuman pada kota itu.
Di ayat Yunus 1:2, dikatakan “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka karena kejahatannya telah sampai kepadaKu”. Ditegaskan lagi pada Yunus 3:2 yakni setelah Yunus keluar dari ikan besar :”Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” Tuhan menyatakan “berserulah terhadap mereka” dan “sampaikanlah kepadanya seruan... .” Tuhan tidak secara eksplisit menyatakan seruan yang harus disampaikan oleh nabi Yunus. Bisa jadi tentang penghukuman 40 hari lagi Niniwe akan ditunggangbalikkan karena memang pada ayat 3:10 dinyatakan Allah menyesal karena malapetaka yang telah dirancangkanNya. Bisa jadi bukan hanya berita penghukuman saja.
Sekarang pertanyaannya apakah hanya tentang penghukuman saja berita yang harus disampaikan oleh nabi Yunus pada kota Niniwe? Tidak adakah berita pengampunan dan ajakan untuk bertobat? Itu tidak disampaikan oleh nabi Yunus (lebih tepatnya penulis kitab Yunus tidak memberitakan kabar itu). Yang tercatat adalah nabi Yunus tahu bahwa Allah adalah Allah yang pengasih dan penyayang. Dan Allah yang demikianlah dijadikan alasan bagi dia untuk melarikan diri dari panggilan Allah. Dia beralasan bahwa Allah pasti mengampuni orang Niniwe. Karena Allah akan mengampuni orang Niniwe maka ia enggan ke Niniwe dan melarikan diri dari panggilan itu.
Tapi kenapa nabi Yunus menjadi marah setelah Allah tidak jadi menghukum Niniwe? Bukankah itu satu hal yang baik dimana ada orang yang bertobat dan terluput dari malapetaka? Bisa jadi dia marah karena malu dimana sebagai seorang nabi perkataannya tidak terjadi maka pastilah orang akan menganggapnya sebagai nabi palsu. Dia marah kembali mengungkit alasan pembenaran diri kenapa dia dulu menjauh dari panggilan Allah dan menyalahkan Allah. Atau karena dia tahu Allah itu murah hati maka dia enggan mengetahui bahwa musuhnya itu akhirnya bertobat dan menyesali perbuatannya yang jahat sehingga tidak jadi dihukum oleh Allah. Hal terakhir itu pula mungkin yang mendasari seruan nabi Yunus. Seruan penghukuman saja yang tidak disertai seruan untuk bertobat.
Seringkali pun kita terjebak pada hal tersebut. Kita lebih suka menyampaikan “kebenaran” pada musuh-musuh kita akan penghakiman dan penghukuman yang akan menimpa mereka. Seringkali motivasi kita bukan supaya mereka bertobat tapi lebih didasari oleh kegeraman hati kita sehingga kita lebih suka melihat musuh kita dihukum Allah  dan meskipun mereka nantinya bertobat kitapun lebih suka mereka menerima lebih dulu penghukuman itu sebelum akhirnya mereka bertobat. Kita akan jadi marah bila ternyata penghukuman itu tidak terjadi. Paling tidak mereka merasakan penderitaan yang sama kita alami karena kejahatan mereka lakukan pada kita. Impas.
Ada seorang yang terkenal di dunia maya namanya Jonru. Banyak orang membencinya (meskipun banyak pula yang menyukainya) bukan karena apa yang disampaikannya benar atau salah. Lebih pada motivasi apa dibalik semua hal yang ia lakukan. Dia selalu menyampaikan hal-hal yang mungkin saja benar tapi apa yang disampaikannya mendorong orang menjadi marah dan benci akan seseorang atau sekelompok orang. Pembelaannya tentulah bahwa apa yang disampaikan itu adalah suatu kebenaran tapi itu tidak serta merta akan membenarkan cara yang ia lakukan.
Ketika kita ingin menyampaikan kebenaran tapi itu didasari oleh kebencian di hati kita maka pesan yang diterima oleh orang itu bisa jadi samar. Bersyukurlah kalau ternyata kebenaran itu membuat orang itu bertobat seperti orang-orang Niniwe tapi bila tidak maka kebencian saja yang akan diterimanya. Masalah ada pada kita bukan pada kebenaran itu. Apakah kita mau jujur pada diri sendiri bila kita diperhadapkan pada kebenaran itu? Bila kebenaran itu dinyatakan pastilah ada konsekuensi yang akan dipilih apakah menerima kebenaran itu ataukah menolaknya. Bila ternyata kebenaran itu adalah suatu perubahan pada diri musuh kita sehingga mereka tidak lagi menjadi musuh kita karena pertobatannya, apakah kita siap menerima kenyataan itu? Bila kita tidak siap dan tetap “membiarkan” musuh kita tetap jadi musuh kita bisa jadi itu adalah alasan kita enggan untuk menyatakan kebenaran.
Kebenaran itu tidak berhenti menjadi kebenaran milik kita pribadi. Kebenaran Allah yang menjadi pesan yang harus kita serukan pada dunia yang menuju kebinasaan adalah kebenaran yang sempurna dimana murka Allah nyata pada kejahatan manusia dan Allah mau manusia bertobat. Kebenaran itu tidak berhenti pada penghakiman Allah saja tapi berlanjut pada kasih karunia Allah yang mau mengampuni. Tidak berhenti jika manusia yang berbuat jahat harus menanggung akibat dari kejahatannya itu. Yunus belajar tentang hal ini.
Bahkan Yunus belajar sampai 3 kali. Kali pertama ia alami sendiri ketika ia bersedia dilempar ke laut untuk meredakan amarah Allah dalam laut yang bergelora karena ia menjauh dari panggilan Allah namun Allah menyelamatkan dengan mengutus ikan besar menelannya. Yang kedua, ketika kota Niniwe yang layak dihukum Allah tidak jadi mengalami penghukuman itu karena mereka bertobat dan yang terakhir bagaimana Yunus yang mau mati dihiburkan dengan adanya pohon jarak yang menaunginya ketika terik matahari. 
Pesan kebenaran harus disampaikan dan bila pesan itu ditujukan pada kita agar kita menyampaikannya pada dunia kita tak boleh enggan. Sekalipun enggan, Allah kita telah memilih kita dan tidak berpaling dari pilihan-Nya itu meskipun kita bisa jadi berpaling dari panggilan-Nya. Dia akan tetap mengejar kita dan menangkap kita sampai kita menuntaskan tugas panggilan kita. Pesan kebenaran itulah yang mula-mula akan mengubahkan kita sehingga kita bisa menyampaikannya pada dunia.
(pekauman kulon-dukuhturi, tegal ; 30 Januari 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ads Inside Post