Kamis, 14 Agustus 2014
Misteri Doa
Masih perlukah orang berdoa?
Kalau kita yakin apa yang diinginkan pasti tercapai, apakah kita akan tertunduk berlutut dalam penyerahan untuk berdoa?
Mengutip pernyataan Philip Yancey, masihkah ada rasa "greget" orang yang berdoa "Bapa kami, ....berikankanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya", bagi orang yang di dapurnya telah tersedia makanan yang cukup banyak bahkan untuk sebulan?
Masihkah orang yang penuh talenta dan bakat kemampuan dengan segala prestasi serta pengalaman membanggakan akan tertunduk pada Tuhan dalam penyerahan memohon bimbingan dan penyertaan untuk mencapai apa yang dicita-citakannya?
Terlalu sering orang menganggap doa sebagai bagian dari kegentingan. Bahkan sesuatu yang memaksa. Sesuatu yang harus dilakukan, dan hanya jika keadaan sudah tersudut dan tidak ada pertolongan lagi barulah tangan melipat, kepala tertunduk mohon pertolongan dalam doa pada Tuhannya. Bahkan ketika pun tidak mampu berdoa, seringkali yang dilakukan menelepon sahabat, tulis sms ke teman atau yang ekstrim menulis status di facebook, BB, twitter untuk didoakan akan pergumulan yang dihadapi. Hmm... mungkin dipikir Tuhan punya akun sendiri yang akan lihat dan memantau status-status doa anak-anak-Nya.
Doa adalah misteri. Semisteri kita mengetahui ujung jalan ketika kita melangkah di jalan yang gelap. Apakah ujung jalan itu jalan buntu, jurang atau gerbang kota yang cemerlang.
Doa adalah dialog. Komunikasi 2 arah. Kita bertanya, Tuhan menjawab. Kita memohon, Tuhan memberi. Tuhan memberi perintah, kita taat. Tuhan menginspirasi, kita mengamini.
Doa adalah hubungan yang subyektif. Satu orang merasa yakin Tuhan menjawabnya, yang lain tidak yakin malah merasa Tuhan begitu jauh. Yang satu merasa ada kedamaian setelah berdoa, yang lain masih bimbang dan terus berdoa dengan doa yang sama.
Doa bukanlah rangkaian kata-kata mantera yang mujarab untuk suatu usaha atau obat bagi yang sakit. Doa adalah aliran hati yang sedih atau gembira, marah atau senang. Kita menyatakannya pada Tuhan, Bapa yang kita kenal dan mengenal kita apa adanya.
02swm15082014
Jumat, 03 Januari 2014
Immortal
Ngeri, sadis, tak berbelas kasihan...
begitu kesan yang kudapat setelah melihat Film "Immortal" - film tentang dewa-dewa orang Yunani.
Tokoh utamanya Tertuleus. Pemuda desa biasa yang akhirnya jadi pemimpin prajurit melawan keangkuhan seorang raja yang ingin membebaskan Titans -para dewa yang jahat- yang terkurung dalam sebuah gunung dengan menggunakan sebuah busur.
Satu hal yang menarik, para dewa baik yang dipimpin Zeus begitu memegang teguh hukum (entah hukum apa itu) dimana para dewa tidak boleh berurusan atau campur tangan dengan urusan manusia. Manusia telah diberikan kehendak bebas untuk memilih berada dalam kebaikan atau kejahatan. Zeus pun hanya 'berinkarnasi' menjadi seorang guru tua yang mengajarkan Tertuleus itu menjadi pemuda yang tangguh yang nantinya akan melawan raja yang lalim itu. Dia tidak melibatkan diri berada di pihak manusia untuk melawan kejahatan. Baginya peperangannya adalah hanya melawan Titans yang terkurung itu.
Sampai satu saat Titans itu dibebaskan dari kurungan oleh raja yang lalim itu setelah mendapatkan busur Ephirus.
Rasul Paulus, pernah menulis ke jemaat di Korintus:"Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan." (1 Kor 1:22-23).
Kota Korintus ada di Yunani, tentu tahu dengan segala mitos seperti film "Immortal". Filsafat Yunani yang begitu kuat memenuhi pikiran orang-orang Yunani dimana para dewa digambarkan sebagai suatu sosok yang jauh diatas kehidupan manusia yang mempengaruhi kehidupan manusia dan ditakuti sehingga pemujaan bagi mereka dinyatakan dalam banyaknya kuil-kuil untuk menjaga agar mereka tidak murka terhadap manusia dengan segala ritual-ritualnya. Para dewa digambarkan seperti penonton yang melihat panggung dunia dengan segala hiruk-pikuknya. Sepertinya mereka memegang teguh hukum dimana para dewa tidak boleh campur tangan urusan manusia. Keterlibatan mereka hanya sewaktu-waktu kalau mereka menginginkannya dengan suatu kejadian yang spektakuler. Tiba-tiba terjadi tsunami dari laut yang menggulingkan kapal yang berisi tentara untuk menyelamatkan manusia yang dilindunginya.
Tampilan para dewa pun digambarkan seperti prajurit perang yang siap membunuh siapa saja yang melawan kehendak mereka. Sosok yang perkasa yang penuh dengan kekuatan untuk menghancurkan musuh.
Pribadi yang digambarkan sebagai para dewa itu tentu saja tercermin sebagai perwujudan iman mereka (orang Yunani) bahwa yang perkasa, tangguh dan tak takut menyerah adalah pribadi yang besar. Yang tentunya dipastikan menang atas apa saja. Pertumpahan darah, kesadisan dan tekanan bagi yang lemah adalah bagian tak terpisahkan dari kekuatan yang perkasa. Untuk menjaga yang lemah diperlukan sosok yang perkasa juga. Keperkasaan dihadapi dengan keperkasaan. Kekuatan dilawan dengan kekuatan. Tidak ada tempat bagi orang lemah dalam peperangan.
Itulah kenapa, Rasul Paulus mengatakan sebagai suatu kebodohan ketika ia mengajarkan tentang Kristus yang disalibkan. Sang Pembebas yang lemah oleh kuasa manusia. Satu hal yang bertolak belakang dengan pemahaman filsafat Yunani yang memuja keperkasaan dan bukan kelemahan. "Suatu Kebodohan" demikian kata mereka. Bagaimana mungkin Seseorang yang tersalib, yang tidak sanggup membebaskan diri dari penyaliban atas diriNya bisa dikatakan menjadi Kristus, Mesias, Sang Pembebas manusia? Hanya orang bodoh yang mempercayai hal itu...
Namun demikian, dalam tulisan kepada jemaat Korintus, dia berbicara begitu lantang kalau apa yang diberitakan adalah Injil Kristus tentang Sang Penyelamat yang disalibkan. Dia pun menantang para filsuf, para cendikiawan, orang-orang berhikmat yang mengajarkan bahwa keperkasaan adalah satu ukuran utama untuk bisa menang. Bagaimana mungkin Seorang yang lemah, yang bisa disalibkan dapat menyelamatkan orang lain. Menyelamatkan diri sendiri saja Dia tidak sanggup bagaimana bisa menyelamatkan orang lain. Itulah pemikiran orang-orang Yunani, dan bisa jadi pemikiran orang-orang duniawi saat ini. Bagi Rasul Paulus, malah dengan kerelaanNya yang mau disalibkan karena kesadisan manusia yang ingin tetap berkuasa, menunjukkan keberanianNya menanggung apa yang dibelaNya. Dia membela kebenaran dan karena kebenaranNya itulah orang-orang yang merasa terusik dengan kebenaranNya ingin membungkamNya dengan menyalibkanNya. Mereka berpikir dengan penyalibanNya itu, akan menghentikan kebenaran bahwa Ia adalah Anak Allah Yang Hidup.
Kebenaran tetaplah kebenaran yang akan terus tegak berdiri meskipun manusia dengan segala upaya membungkamnya. Dia akan tetap hidup meskipun manusia berusaha mematikannya. Dalam penyalibanNya itu pula, Kristus yang diberitakan oleh Rasul Paulus, adalah Kristus yang tetap terpaku di atas kayu salib yang tidak melakukan pembalasan terhadap mereka yang menyalibkanNya tapi malah mendoakan mereka.
Kasih karunia inilah yang tentu saja tidak dimengerti oleh orang-orang Yunani dimana mitos mereka mengajarkan bahwa untuk bisa menjalankan kehendak para dewa terutama Zeus, mereka mengutus Hercules, manusia setengah dewa, yang begitu perkasa yang tak terkalahkan, dengan kekuatan yang begitu besar. Yesus, meskipun dengan segala kuasa yang ada dalamNya, yang ditunjukkan dengan segala mukjijat seperti menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, meredakan badai dan masih banyak lagi namun tak memakai kuasaNya itu untuk menghancurkan orang-orang berdosa yang berusaha menyalibkanNya tapi malahan mengasihi mereka yang berbuat jahat tersebut dengan mendoakan mereka.
"Ya, Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."
Kasih karunia yang melampaui segala akal. Yang tidak terpikirkan bahkan direnungkan oleh manusia-manusia berdosa. Manusia berdosa yang telah jatuh dalam kegelapan hanya tahu bahwa segala sesuatu yang menimpanya itu haruslah dibalas setimpal dengan apa yang menimpanya. Bila kesakitan yang diterimanya ia akan membalas dengan menyakiti orang lain juga untuk merasakan kesakitannya. Bila pelecehan yang diterimanya maka ia pun akan berusaha merendahkan sebanyak mungkin orang di bawah kekuasaannya untuk menunjukkan betapa dia pernah direndahkan dulu. Bila penderitaan yang diterimanya maka ia akan berusaha untuk menekan, menindas dan memaksa orang lain melakukan apa yang dia inginkan agar mereka pun harus tahu akan penderitaan yang pernah ia terima itu. Karena pemikiran orang berdosa, "para dewa" atau allah bagi mereka itu begitu jauh, tak merasakan apa yang mereka rasakan. Bahwa manusia harus memperjuangkan sendiri nasibnya. Para dewa tidak campur tangan.
Bahkan ada pendapat yang seakan lebih lembut tapi sama saja"Tuhan tidak akan menolong umatNya kalau umat itu tidak menolong diri mereka sendiri". Tuhan jauh disana dan manusia dibiarkan bergelut dengan segala permasalahannya sendiri. Tuhan tidak campur tangan. Demikian pemikiran mereka.
Sungguh ini berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh Kristus yang disalibkan itu. Dia berada di tengah-tengah manusia berdosa. Menjadi bagian di antara mereka meskipun tidak berdosa. Dia adalah Allah Yang MahaTinggi yang mau turun menjadi manusia, bukan sekedar menunjukkan keperkasaanNya semata, tapi lebih lagi mengasihi manusia yang tidak sanggup melepaskan diri dari jerat dosa. Dia mau merasakan kesakitan, pelecehan, dan penderitaan manusia. Dia disesah. Dia dimaki. Namun tidak membalas. KekuatanNya terletak bagaimana Ia menahan diri sedemikian besarnya untuk menunjukkan betapa besar kasihNya kepada manusia.
Ia sanggup memunahkan manusia dengan hembusan nafasNya saja dan menjadi umat manusia baru yang taat kepadaNya. Tapi sungguh jalan salib itulah yang dipilihNya untuk menyelamatkan manusia. Mengapa menyelamatkan? Karena jalan itulah manusia mengenal belas kasihan Allah. Yang mana manusia diajak untuk menunjukkan belas kasihan itu pula kepada sesama. Belas kasihan itulah yang menggerakkan manusia untuk saling mengasihi sebagai sesama. Belas kasihan itu pula kekuatan untuk tetap mengasihi orang-orang yang berlaku jahat kepada kita. Bukan malah membalas perlakuan mereka. Karena balas dendam itu tidak akan pernah berakhir dan tidak pernah akan memuaskan. Darah tertumpah akan dibalas dengan darah tertumpah. Demikian terus. Tidak terpuaskan.
Darah Kristus telah tertumpah, dan cukup sekali untuk selamanya supaya tidak ada lagi pertumpahan darah untuk kesewenang-wenangan manusia berdosa untuk membalas dendam. Balas dendam itu terhenti dengan memandang salib Kristus. Dia yang berkuasa tapi mau menerima pembalasan atas dosa-dosa kita. Dia yang mulia tapi mau direndahkan. Ini memang bagi orang-orang Yunani (yang mengagungkan keperkasaan) adalah sebuah kebodohan. Tapi bukankah malah sebuah kebodohan kalau manusia yang telah dimuliakan oleh Kristus mau membalas dendam atas perlakuan yang menimpa dirinya? Bukankah Kristus datang untuk manusia yang hina oleh dosa untuk dimuliakan? Bukankan Kristus mati supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa oleh maut tapi diselamatkan olehNya karena Dia pun telah dibangkitkan oleh Allah karena kebenaranNyalah yang menang atas orang-orang berdosa yang menyalibkanNya? Dia tidak untuk selama-lamanya terpaku disalibkan namun bangkit dari orang mati sebagai pemenang dan meneguhkkan kebenaran bahwa Ia adalah Anak Allah yang bangkit.
Sungguh benar hikmat Allah ini tersembunyi bagi mereka yang tidak percaya bahkan menolak pengabaran Injil Kristus yang disalibkan. Hanya oleh Roh Allah, orang dapat mengerti penyelamatan yang dikerjakan oleh Kristus itu. Semua akan disingkapkan. Selubung akan dibuka. Menjadi terang ilahi yang memancar menerangi hati yang telah dibutakan oleh balas dendam. Kasih yang menyelamatkan. Bukan upaya untuk menundukan orang lain untuk menerima pengajaran agama dengan kekerasan, perang, dan pengemboman bunuh diri. Seakan-akan orang yang mampu menebar teror itu akan bisa mengubah mindside / cara pandang orang dengan ketakutan. Apakah dengan takut orang akan menjadi percaya? Percaya bahwa yang benar itu yang berkuasa, yang kuat, yang pintar dll yang menunjukkan kelebihan manusia akan menang? Tidak. Dengan salib Kristus, Tuhan mau menyatakan cinta kasih Allahlah yang mengubah hati manusia menjadi manusia yang lemah lembut yang mengasihi sesamanya. Dengan memenangkan hati manusia yang keras menjadi lembut. Hati yang pendendam menjadi penuh belas kasihan. Bengis dengan cinta. Nafsu dengan pengendalian diri. Angkara murka dengan damai sejahtera.
Bukankah semua itu indah kedengarannya? Maukah kita mau menerima Kristus yang disalibkan?
Senin, 30 Desember 2013
Bercermin adalah Upaya untuk Koreksi Diri
Bahan Renungan: Matius
6:22-23 ; 7:1-5
Lagu: NKB 126:1,2
NKB 122:1,2 & 3
PENAYANGAN VIDEO
Watch How Boy Takes Harassment Revenge with
a Girl in a Public Bus
Kesan apa yang Bapak/Ibu lihat dari tayang
video tadi?
Coba perhatikan dalam video tersebut: ada
seorang pemuda India
yang sedang dalam sebuah bus tiba-tiba menerima tamparan dari seorang gadis di
sebelahnya karena merasa dilecehkan. Bahkan orang-orang yang duduk mendukung
tindakan gadis itu dan mempersalahkan pemuda itu.
Sesaat kemudian, keadaan berbalik ketika
pemuda bergeser tempat berdirinya (dimana ia hendak turun) berada di depan
gadis itu. Gantian pemuda itu yang menampar gadis itu karena menyentuh pemuda
itu. Sebetulnya apa yang terjadi?
Apa benar itu semata-mata karena kesalahan
pemuda itu sehingga menyentuh gadis itu?
Tapi kalau kita perhatikan, pemuda itu
menyentuh gadis itu gara-gara bus itu mendadak mengerem sehingga pemuda itu
terdorong ke depan menyentuh gadis itu. Saya pikir, pemuda itu tak bermaksud
melecehkan gadis itu. Tapi ternyata hal itu tak dipedulikan gadis itu dan
begitu cepat langsung menamparnya. Ketika keadaan berbalik, tak ada gunanya
gadis itu minta maaf.
Dari tayangan itu kita dapat belajar bahwa
seringkali kita cepat-cepat menghakimi orang lain yang melakukan kesalahan
tanpa mempedulikan kesalahan itu karena apa? Apa murni kesengajaan orang atau
karena memang keadaan yang mengakibatkan kesalahan itu…
Disini kita diminta untuk bijaksana menilai
sesuatu, tidak terburu-buru atau terbawa emosi semata. Kita harus melihat
sebuah permasalahan dengan jernih, jujur dan tidak memihak. Bukan didasari oleh
keinginan untuk merasa diri lebih baik / lebih benar daripada orang lain.
Menilai suatu kesalahan atau kita sebut
mengoreksi harus dipahami sebagai upaya untuk membetulkan kesalahan-kesalahan
yang mungkin terjadi. Tujuannya jelas yaitu memperbaiki kesalahan bukan untuk
mencari-cari kesalahan. Koreksi yang baik bukan saja melibatkan orang dalam
(orang yang terlibat) tapi juga orang luar. Melalui koreksi ini, kita bisa
melakukan evaluasi dan instropeksi.
Dengan evaluasi dan instropeksi, kita
diharapkan dapat menentukan langkah selanjutnya yang terbaik yang dapat kita
lakukan. Oleh karena itu, bagaimana kita sebaiknya memahami koreksi dari
saudara-saudara yang lain? Koreksi harus kita pahami sebagai bentuk kepedulian
orang lain pada diri kita meskipun kita sadar kadang cara pandang orang tentang
sesuatu hal terbatas bahkan sempit sehingga salah mengartikan sesuatu dengan
benar seperti video tadi. Tapi tokh, kita semestinya mau membuka diri untuk mau
dikritik, diberi masukan dan saran agar apa yang telah kita lakukan sebelumnya
menjadi lebih baik lagi.
Sekali lagi, tanpa koreksi, kita tidak akan
tahu apakah kita telah melakukan kesalahan atau tidak. Justru dengan koreksi
kita terhindar dari kesalahan yang lebih fatal. Oleh karena itu, kita tidak boleh
cepat-cepat tersinggung apabila ada orang yang mau mengkritik atau memberi
masukan pada kita. Malahan jadi PERINGATAN BAGI KITA apabila kita tidak pernah
dikritik oleh orang lain. Itu berarti kita tak dipedulikan lagi, entah
melakukan ini dan itu atau orang mulai bosan pada kita yang tidak mau dikritik.
Ini berbahaya bagi kita.
Namun bila kita berada pada pihak orang
yang harus memberikan kritik, itu haruslah didasari oleh ketulusan dan kemauan
untuk mengoreksi diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum mengkritik orang
lain. Jangan sampai kita jadi batu sandungan dimana orang enggan mendengarkan
kita karena kritikan kita tidak sebanding tindakan yang kita lakukan artinya
kita juga melakukan kesalahan yang sama yang tidak bisa kita atasi tapi dengan
mudahnya mengkritik orang lain.
Tadi saya katakan koreksi membuahkan
evaluasi dan intropeksi. Biasanya akhir tahun adalah saat yang tepat untuk
evaluasi dan intropeksi diri. Semua itu bisa kita lakukan dengan secara katif
menanyakan pendapat orang lain terhadap diri kita atas apa yang telah kita
lakukan sepanjang tahun ini atau kita merefleksikan semua yang pernah terjadi
selama setahun ini dan belajar jujur apa yang kurang, yang belum atau tidak
kita lakukan. Istilah mudahnya kita bercermin diri.
Tentang cermin, kita pernah dengar cerita
dongeng tentang cermin ajaib.
Seorang ratu yang cantik selalu bertanya
pada cermin ajaib,”Wahai cermin ajaib, siapakah di seluruh negeri ini yang
paling cantik?”
Jawab cermin ajaib itu kepadanya,”Tidak ada
yang lebih cantik daripada sang ratu sendiri.” Mendengar itu, tentulah sang
Ratu sangat bangga.
Sampai suatu kali dia bertanya kembali
dengan pertanyaan yang sama, namun jawaban cermin ajaib,”Tidak ada yang lebih
cantik daripada Putri Salju.” Sang Ratu bukan saja terkejut tapi berubah jadi
marah tidak disangkanya ada orang yang lebih cantik daripada dirinya.
Tapi pertanyaannya kenapa harus marah? Apa
hak dia untuk marah?
Sang ratu tidak mau ada yang lebih cantik
daripada dirinya. Dan kita tahu kisah selanjutnya bahwa Sang Ratu mengupayakan
agar menyingkirkan Putri Salju dari negeri itu.
Semula diawali dengan bercermin. Yach,
dengan bercermin kita melihat keadaan kita yang sebenarnya. Yang suka
berlama-lama bercermin adalah para wanita. Ini yang seringkali membuat
bapak-bapak rada jengkel kok merias diri di depan cermin bisa begitu lama. Jadi
tidak sabaran. Bercermin berarti melihat bayangan kita. Apa yang ditampilkan di
cermin adalah pantulan dari apa yang ada dalam diri kita. Kalau kulit kita
hitam akan terlihat hitam. Kalau ada jerawat, akan nampak jerawat pula. Semua
lekuk tubuh dan paras muka kita akan terlihat seperti adanya kita. Cermin itu
jujur. Menyatakan apa adanya.
Kita ingin menonjolkan hal-hal yang baik
menurut kita dan menutupi kekurangan kita. Demikian juga setelah bercermin,
orang tak akan begitu saja berlalu. Ada
saja yang dilakukan. Kalau rambutnya acak-acakan maka akan disisir. Kalau ada
jerawat dan ingin tetap tampil cantik maka akan ditutupi dengan polesan
kosmetik yang lebih tebal. Biar kelihatan lebih menawan dikasih pewarna pipinya,
bibirnya dikasih lipstik dan seterusnya.
Ada satu tindakan
nyata setelah bercermin. Tidak tinggal diam saja. Demikian juga setelah
mengoreksi diri maka akan ada perubahan yang seharusnya kita lakukan
selanjutnya.
Saya pernah menyampaikan renungan tentang
perubahan hidup Rasul Petrus dimana ia mau menerima koreksi dari Tuhan dan
dengan rendah hati belajar untuk menerima keadaan dirinya yang pernah gagal itu
sehingga dia mau menerima kembali kepercayaan dari Tuhan bahkan untuk
menggembalakan jemaat-Nya.
Rasul Petrus adalah seorang Sanguin,
seorang yang temperamennya meluap-luap dan sulit dikendalikan. Spontan. Lebih
menonjol daripada rasul-rasul yang lain. Namun demikian ketika dia menemukan
dirinya yang diperhadapkan Tuhan Yesus akan ingatan akan kesalahan masa
lalunya, ia tak berhenti meratapi kesalahannya itu tapi melangkah maju menerima
kepercayaan kembali dari Tuhan untuk sebuah tanggung jawab yang besar.
Bahkan di Surat Galatia, kita tahu Rasul Petrus
pernah melakukan kesalahan dosa kemunafikan dimana ia mengundurkan diri dari
persekutuan jemaat yang tidak bersunat setelah datang orang-orang yang
bersunat. Kesalahannya itu ditegur keras oleh Rasul Paulus di depan jemaat
disitu. Sebagai pemimpin jemaat, tentu tidaklah mudah ditegur di depan
jemaatnya. Tapi saya kira Rasul Petrus bukanlah seorang pendendam yang mudah
sakit hati ketika ada orang yang menegurnya. Ini terbukti di suratnya yang
terakhir sebelum kematiannya, ia memuji Rasul Paulus yang telah bekerja keras
bagi jemaat Kristen dan tulisan-tulisannya yang membangun jemaat.
Jadi melalui Rasul Petrus kita belajar
menjadi pribadi yang besar yang mau dikoreksi dan belajar dari masa lalu bukan
untuk diratapi tapi koreksi itu dipakai sebagai acuan agar tidak gagal lagi
pada kesalahan yang sama. Dengan satu harapan bahwa selalu ada kemungkinan yang
lebih baik di masa depan.
Masa depan ada dalam pandangan bahwa hidup
ini bukan hanya berhenti pada kematian saja tapi terus berlanjut pada kehidupan
kekal yang disediakan Allah bagi kita yang percaya pada Kristus. Dan apa yang
telah kita lakukan di dunia ini nantinya harus dipertanggungjawabkan kepada
Tuhan yang menghakimi dengan adil dan benar.
Seorang yang mau dikoreksi adalah pribadi
yang memandang hidup ini ada tujuannya dan tujuannya itu pasti dimana kehendak
Allah boleh terjadi dalam hidupnya. Hidup ini bukan sesuatu yang kosong tanpa arah
dimana berhenti pada kematian saja setelah itu ketiadaan. Bukan. Karena bila
itu yang menjadi acuan maka orang akan dengan seenaknya menjalani hidup ini
tanpa peduli aturan atau kepada sesamanya. Yang penting dirinya senang. Orang
yang demikian tentulah tidak mau dikoreksi, baginya, dirinyalah yang paling
benar.
Oleh karena itu, setelah kita melakukan
koreksi diri haruslah dilanjutkan dengan tindakan nyata sebuah perubahan
menjadi lebih baik.
Mari kita belajar bercermin diri dan
berubah.
Selamat menyambut tahun baru 2014!
Tuhan memberkati. Amin.
Septa Widodo Munadi,
Kebaktian Doa Pagi GKI Tegal -
31 Desember 2013
Pk. 06.00 s.d. 06.45
Pk. 06.00 s.d. 06.45
NKB 126:
Tuhan memanggilmu
1.
Tuhan memanggilmu, hai
dengarlah:
“Apapun yang
terbaik ya b’rikanlah!”
Dan jangan kau
kejar hormat semu,
muliakan saja
Yesus Tuhanmu.
Ref.
Tiap karya
diberkatiNya,
namun yang
terbaik dimintaNya.
Walaupun tak
besar talentamu,
b’ri yang
terbaik kepada Tuhanmu.
2.
Sanjungan dunia jauhkanlah
dan jangan
kaudengar godaannya.
Layani Tuhanmu
dalam jerih
dalam hidupmu
yang t’lah Kauberi.
NKB 122
KU INGIN BERPERANGAI
‘Ku ingin berperangai laksana Tuhanku,
lemah lembut dan ramah, dan manis budiku.
Tetapi sungguh sayang, ternyata ‘ku cemar.
Ya Tuhan, b’ri ku hati yang suci dan benar.
‘Ku ingin ikut Yesus, mencontoh kasihNya,
menghibur orang susah, menolong yang lemah.
Tetapi sungguh sayang ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ku hati yang suci dan benar.
Ya sungguh, Jurus’lamat, cemarlah hatiku,
dan hanya ‘Kau yang dapat menghapus dosaku,
Supaya k’lak di sorga kupandang wajah-Mu
dan aku jadi sama laksana diriMu.
Jumat, 04 Oktober 2013
Mengenal Kristus
Bahan Renungan: Markus 1
Mengenal
seseorang tidaklah sama dengan ketika kita mengenal suatu barang. Suatu barang
dikenal dari spesifikasi atau kriteria khusus yang melekat padanya. Itu berarti
barang-barang yang sejenis akan punya sifat yang sama. Akan tetap sama pengenalannya
barang satu dengan yang lain asal sejenis. Lain halnya dengan mengenal manusia.
Meskipun satu keturunan, saudara atau satu keluarga, belum tentu memiliki sifat
yang sama. Masing-masing kita dikaruniai oleh Allah keunikan yang tidak
dimiliki oleh orang lain, sekalipun itu saudara sekandung. Keunikan itulah yang
membedakan kita dengan orang lain. Keunikan itu bisa berupa: sifat, karakter,
kepribadian, kebiasaan, cara pandang, keadaan fisik, talenta, bakat,
pendidikan, cara bersikap atau tingkah laku, dll. Semua itu yang membentuk kita
menjadi satu pribadi yang unik.
Satu lagi
yang menarik, bahwa pengenalan seorang terhadap orang lain bersifat subyektif.
Artinya, satu orang yang sama akan dikenal secara berbeda tergantung sudut pandang
orang terhadap orang itu. Hal itu juga yang ingin disampaikan Markus dalam
kitab Injilnya. Markus seakan secara sengaja menampilkan tokoh-tokoh secara
bergantian di awal kitabnya tentang bagaimana cara pandang tokoh-tokoh tersebut
dalam pengenalan mereka tentang Kristus.
Tokoh-tokoh itu seperti: Yohanes Pembaptis, Murid-muridNya,
Setan, Ibu Mertua Simon, Orang sakit kusta dan orang banyak.
1. Yohanes Pembaptis
Dia mengenal
Kristus karena imannya kepada Allah yang telah mengutusnya. Awalnya dia tidak
tahu siapa Kristus Yesus, selain sebagai saudaranya saja, sampai dia
membaptisNya di sungai Yordan. Pernyataan Allah terhadap Yesus, AnakNya, inilah
yang mempengaruhi pengenalan Yohanes Pembaptis terhadap Yesus. Sebagai perintis
jalan bagi datangNya Mesias, Sang Kristus, tentulah ia menyadari keberadaan
dirinya sebagai hamba yang tak lebih dari tuannya. Yang terpenting baginya
adalah berita keselamatan yang diberitakan dan Yesus sebagai sang juru selamatlah
yang ia beritakan. Bukan dirinya. Ia mau tenggelam dalam panggilannya itu asalkan
Yesus makin dikenal bukan pamor dirinya. Yesus adalah Anak Allah yang diperkenan
oleh Allah untuk menyatakan kehendakNya bagi keselamatan umat manusia.
Menjadi
bukan yang utama atau pertama tidaklah mudah. Kita terbiasa untuk berkompetisi
untuk mencapai yang pertama, lebih unggul, dan lebih dikenal. Namun demikian,
kerelaan Yohanes Pembaptis ini tentulah didasari oleh kesadaran akan panggilan
hidupnya. Bukan dirinya sendiri yang ia saksikan, namun Kristus yang akan
datang yang ia beritakan.
Konsep
tentang panggilan hidup kita akan sangat berpengaruh terhadap pengenalan kita
akan Kristus.
bersambung....
Mengenal Kristus
Mengenal Kristus dari Sudut Pandang Yohanes Pembaptis, Murid-muridNya, Setan, Ibu Mertua Simon, Orang sakit kusta dan Orang banyak
Bahan Renungan: Markus 1
Mengenal
seseorang tidaklah sama dengan ketika kita mengenal suatu barang. Suatu barang
dikenal dari spesifikasi atau kriteria khusus yang melekat padanya. Itu berarti
barang-barang yang sejenis akan punya sifat yang sama. Akan tetap sama pengenalannya
barang satu dengan yang lain asal sejenis. Lain halnya dengan mengenal manusia.
Meskipun satu keturunan, saudara atau satu keluarga, belum tentu memiliki sifat
yang sama. Masing-masing kita dikaruniai oleh Allah keunikan yang tidak
dimiliki oleh orang lain, sekalipun itu saudara sekandung. Keunikan itulah yang
membedakan kita dengan orang lain. Keunikan itu bisa berupa: sifat, karakter,
kepribadian, kebiasaan, cara pandang, keadaan fisik, talenta, bakat,
pendidikan, cara bersikap atau tingkah laku, dll. Semua itu yang membentuk kita
menjadi satu pribadi yang unik.
Satu lagi
yang menarik, bahwa pengenalan seorang terhadap orang lain bersifat subyektif.
Artinya, satu orang yang sama akan dikenal secara berbeda tergantung sudut pandang
orang terhadap orang itu. Hal itu juga yang ingin disampaikan Markus dalam
kitab Injilnya. Markus seakan secara sengaja menampilkan tokoh-tokoh secara
bergantian di awal kitabnya tentang bagaimana cara pandang tokoh-tokoh tersebut
dalam pengenalan mereka tentang Kristus.
Tokoh-tokoh itu seperti: Yohanes Pembaptis, Murid-muridNya,
Setan, Ibu Mertua Simon, Orang sakit kusta dan orang banyak.
1. Yohanes Pembaptis
Dia mengenal
Kristus karena imannya kepada Allah yang telah mengutusnya. Awalnya dia tidak
tahu siapa Kristus Yesus, selain sebagai saudaranya saja, sampai dia
membaptisNya di sungai Yordan. Pernyataan Allah terhadap Yesus, AnakNya, inilah
yang mempengaruhi pengenalan Yohanes Pembaptis terhadap Yesus. Sebagai perintis
jalan bagi datangNya Mesias, Sang Kristus, tentulah ia menyadari keberadaan
dirinya sebagai hamba yang tak lebih dari tuannya. Yang terpenting baginya
adalah berita keselamatan yang diberitakan dan Yesus sebagai sang juru selamatlah
yang ia beritakan. Bukan dirinya. Ia mau tenggelam dalam panggilannya itu asalkan
Yesus makin dikenal bukan pamor dirinya. Yesus adalah Anak Allah yang diperkenan
oleh Allah untuk menyatakan kehendakNya bagi keselamatan umat manusia.
Menjadi
bukan yang utama atau pertama tidaklah mudah. Kita terbiasa untuk berkompetisi
untuk mencapai yang pertama, lebih unggul, dan lebih dikenal. Namun demikian,
kerelaan Yohanes Pembaptis ini tentulah didasari oleh kesadaran akan panggilan
hidupnya. Bukan dirinya sendiri yang ia saksikan, namun Kristus yang akan
datang yang ia beritakan.
Konsep
tentang panggilan hidup kita akan sangat berpengaruh terhadap pengenalan kita
akan Kristus.
bersambung.....
Sabtu, 01 Juni 2013
Bukan Aku, Tapi Kristus
Bahan Renungan: Galatia 2: 15 - 21
Menjadi orang kedua tidaklah enak. Bukan
yang utama / pertama. Bukan orang yang
menonjol atau populer. Kita bisa saja begitu bekerja keras menyelesaikan
pekerjaan atau bagian kita tapi mungkin bisa jadi orang lain yang malah
mendapatkan penghormatan atas apa yang telah kita upayakan
/ selesaikan. Menjadi pribadi yang seakan terabaikan / terpinggirkan /
dilupakan.
Seorang Yohanes Pembaptis menjadi contoh
yang kita kenal sebagai perintis jalan bagi datangnya sang Mesias. Dia
berseru-seru pada semua orang untuk bertobat dan memberi diri dibaptis juga
mewartakan akan datangnya Mesias yaitu Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah.
Ketika pelayanan Yesus Kristus dan murid-muridNya makin besar. Dan banyak murid
Yohanes pembaptis yang berubah menjadi pengikut Yesus.
Namun, alih-alih merasa tersaingi malahan
Yohanes Pembaptis merasa
bangga karena memang demikianlah tujuan pelayanannya yaitu untuk mengarahkan
orang pada Kristus, itu adalah sukacitanya.
Berbesar hati ketika orang lain lebih
menonjol adalah sikap yang tidak mementingkan diri sendiri. Keegoisan mampu
dikalahkan oleh sikap kedewasaan yang mampu melihat kebaikan pada diri orang
lain. Ini tidaklah mudah. Kita dari kecil telah terbiasa dengan pengajaran untuk
meraih sesuatu, mencapai prestasi setinggi mungkin, mendapatkan lebih banyak
dari apa yang ada sekarang.
Sebagai orang tua seringkali juga hal itu
yang kita ajarkan pada anak-anak kita. Tuntutan yang begitu besar pada anak
untuk bersaing dengan teman-temannya dengan peraihan nilai yang lebih dari yang
lain. Jarang ada orang tua yang mengatakan:”Yach sudahlah, Nak, ga papa, kamu
ga sepeti dia kok. Kamu special. Terima kamu apa adanya.”
Inipun yang akhirnya bisa saya mengerti
kenapa ayah saya begitu kecewa pada saya yang gagal menyelesaikan kuliah.
“Masakan kamu ga bisa lulus kuliah padahal sering menjadi Juara Kelas??”
Prestasi, prestasi, dan prestasi. Itu yang
seringkali dituntut orang tua pada anak-anak. Tanpa peduli kalau anaknya itu
sedang kepayahan atau merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang dia kejar.
Bisa jadi seorang anak meraih prestasi dengan baik tapi itu mungkin itu adalah
wujud dari ketakutannya pada orang tuanya saja.
Dalam pelayanan maupun di sebuah perusahaan
seringkali tuntutan terbesar adalah prestasi, sebuah raihan atau pencapaian
atas target atau terlaksananya program. Apabila kita terperosok pada tuntutan
itu, maka kita hanya akan sekedar pada pelaksanaan program semata. Yang penting
jalan. Yang penting ada kegiatan. Tidak ada spirit / semangat yang hidup dalam
menjalani pelayanan atau bekerja di sebuah perusahaan. Kita bukanlah terdiri
dari angka-angka yang menjelaskan arti diri kita. Tapi kita adalah pribadi yang
berharga, yang unik di mata Tuhan.
Tuhan punya rencana yang unik bagi setiap
kita. Jikalau Tuhan menempatkan kita dalam sebuah persekutuan jemaat, itu
berarti kita diminta menyatakan makna hidup kita dalam persekutuan tersebut.
Pemberian diri dan hidup kita dengan segala
apa yang bisa kita berikan untuk pembangunan jemaat menjadi satu hal berarti
ketimbang kita dinilai hanya sebagai alat untuk pencapaian program atau sasaran
yang telah ditetapkan di dalam jemaat.
Inipun seringkali menjadi pergumulan saya
pribadi di GKI Tegal. Apakah ketika saya di sini, saya hanya akan dipandang
sekedar sebagai seorang pekerja saja? Apa kontribusi yang bisa saya berikan
untuk pembangunan jemaat? Apakah keterlibatan saya yang bisa memberikan andil
di jemaat bukan semata-mata hanya sekedar menyelesaikan pekerjaan saya saja,
itu cukup?
Ketika saya berada disini untuk memimpin
Kebaktian Doa Pagi ini bukanlah karena mengajukan diri. Tapi pada waktu itu,
saat kekurangan pemimpin KD pagi, mbak Prima mengajukan saya untuk juga
dijadwalkan. Ini menjadi problem tersendiri bagi saya ketika saya harus berbagi
iman dengan Bapak/Ibu disini karena umur saya masih jauh lebih muda
dibandingkan yang hadir disini. Tidak mudah bagi saya. Lebih mudah kalau
menyampaikan pelajaran Agama di SMU di Bogor
dimana siswa-siswi jauh lebih muda dari saya. Namun ketika disini, saya
menganggap Bapak/Ibu jauh memiliki pengalaman iman lebih daripada saya. Namun
bila kesempatan ini diberikan, itu berarti saya pahami sebagai panggilan Tuhan
untuk saya bisa memberikan kontribusi pada jemaat di sini.
Itulah kenapa juga saya tidak asal-asalan
untuk menyampaikan renungan. Renungan yang saya bawakan haruslah menjadi
perenungan atau pergumulan iman yang pernah saya alami bersama Tuhan. Bukan cuma
pengetahuan semata yang bisa kita dapatkan dari buku atau internet. Tinggal
membacakan.
Pernah suatu kali saya menghadapi masalah
serius menjelang akan membawakan renungan. Dan saya konsultasikan ke Bu Pris,
apakah saya lebih baik mengundurkan diri terlebih dahulu atau bagaimana? Beliau
memberikan saran yang menurut saya bijaksana yaitu tetap lanjutkan saja, karena
dengan berbagi pergumulan iman saya dalam menghadapi masalah itu akan menjadi
kesaksian yang bisa menguatkan jemaat.
Ya, saya mengamini hal itu. Firman itu
haruslah menjadi daging. Artinya apa yang Tuhan ajarkan pada kita haruslah
mendarah-daging dalam hidup kita. Kita gumuli, kita renungkan apakah
prisnsip-prinsip atau tingkah laku kita sudah sesuai dengan firman Tuhan atau
belum? Mengapa belum? Mengapa tidak sesuai? Itulah yang kita cari penyebabnya.
Kita bisa belajar dari orang lain. Kita bertanya. Kita mencari jawaban dan
jalan keluar.
Karena satu hal yang harus tetap menjadi
iman kita bersama bahwa kita harus mau mengubah diri dengan mengijinkan Roh
Kudus bekerja mengubahkan kita. Karena bukan lagi diri kita sendiri yang ada
tapi Hidup Kristus yang telah dianugerahkan kepada kita ketika kita percaya
kepada-Nya. Perubahan itu adalah sebuah proses dan terus berkelanjutan. Kadang
kita gagal hidup di dalam Tuhan. Kadang kita jatuh dalam dosa yang menjauhkan
kita dari hadirat Tuhan.
Namun anugerah Tuhan jauh lebih besar
daripada dosa-dosa kita. Anugerah-Nya penuh kuasa untuk menyelamatkan kita.
Hidup Kristus itu akan terus mendorong kita untuk ke arah yang lebih baik dan
meninggalkan kegelapan. Oleh karena itu, kita harus memberikan kesaksian yang
jujur, yang apa adanya, yang tidak bisa ditutup-tutupi. Karena memang hidup
Kristus itu seperti terang yang mengusir kegelapan.
Ini juga yang sering kali menjadi
penghiburan bagi saya ketika jatuh. Saat dimana seakan tidak ada pertolongan,
tidak ada harapan, tersesat. Dengan berseru kepada Tuhan, Dia tidak tinggal
diam. Ada
kekuatan yang bukan dari diri saya yang memampukan saya untuk bangkit dari
keterpurukan. Seperti suatu energi baru untuk memampukan melangkah bahkan mampu
mengatasi rasa bersalah yang melumpuhkan.
Kita mungkin akan lebih mendengarkan orang
luar yang tidak kenal-mengenal dengan kita daripada dengan orang yang
dekat dengan kita. Karena orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang
kita tahu dan kenal tingkah lakunya. Seringkali kita cepat menghakimi apa yang
disampaikannya atau mencibir “Akh, aku sudah tahu belangmu / kelemahanmu”. Tapi
cobalah orang luar tersebut kita ajak masuk dalam persekutuan kita. Apakah
nanti respon kita akan sama dengan
ketika pertama kali ia berbicara kepada kita? Saya tidak yakin akan sama.
Itu juga kenapa kita diminta untuk terus
mendoakan pemimpin-pemimpin kita agar tidak menjadi batu sandungan. Agar mereka
bisa memimpin dengan keteladanan yang baik yang menguatkan bukan malah
melemahkan. Kita telah belajar banyak tentang hal tersebut.
Ini juga yang mungkin menjadi alasan banyak
orang enggan untuk menjadi pemimpin. Tidak mau hidupnya disorot. Meminjam
istilah Bu Elizabeth
“Hidup di dalam rumah kaca”. Dipantau. Menjadi bahan omongan orang banyak.
Menjadi biasa-biasa saja jauh lebih nyaman.
Saya perhatikan itu juga menjadi alasan penolakan orang untuk terlibat dalam
pelayanan atau diminta untuk menjadi panitia. Akh, saya bukan orang yang
baik-baik, masih banyak yang lebih baik daripada saya. Tidak mau ambil resiko.
Padahal entah sebagai jemaat biasa atau
pemimpin jemaat, sama saja kita dipanggil untuk tetap menjadi saksi Kristus.
Kita diminta menyatakan Kristus dalam hidup kita. Entah dalam masa sulit atau
masa enak, entah waktu kita jatuh atau dalam kejayaan. Tuhan tetap dapat
bekerja dalam segala perkara dalam hidup kita entah kita sadari atau tidak.
Maukah kita tetap hidup di dalam Tuhan atau
menolak berproses bersama Dia?
Maukah kita dibentuk dalam Dia melalui
persekutuan, pelayanan dan kesaksian kita dalam jemaat di sini?
Biarlah itu menjadi perenungan kita
bersama. Amin.
Tegal, Septa Widodo Munadi
(disampaikan pada Kebaktian Doa Pagi @GKI Tegal - 22 Januari 2013)
Lagu: NKB 21:1,2
NKB 104:1,2
Langganan:
Postingan (Atom)











