Silahkan diklik untuk downlond :
Menghadapi Tekanan dalam Penderitaan
Bukan aku tapi Kristus
Kebenaran Kristus vs Kepalsuan Iblis
Tampilkan postingan dengan label Kebaktian Doa Pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebaktian Doa Pagi. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Juli 2015
Jumat, 21 November 2014
Kebenaran Kristus versus Kepalsuan Iblis
Bahan renungan: Yoh
18 : 33 - 40
“Apakah
Kebenaran itu?”
Pertanyaan menggantung dari Pilatus pada Yesus itu dinyatakan ketika ia mengadili Yesus setelah diserahkan
oleh orang-orang Yahudi (Yoh 18:38a). Dia tak menunggu jawaban Yesus. Dia
lanjutkan dengan tindakan sendiri yang menurutnya benar untuk berusaha ‘menyelamatkan’ Yesus yang
tidak didapati melakukan satu kesalahan pun. Dia bertindak demikian seakan-akan
dia berkuasa atas diri Yesus dengan menawarkan pilihan untuk ‘membebaskan’
Yesus. Namun ternyata apa yang dilakukannya itu malah ditolak oleh orang-orang
Yahudi. Dan mereka lebih memilih Barabas, seorang penyamun yang nyata-nyata
seorang penjahat. Mereka tidak mau
menerima Yesus sebagai Raja dan menganggap-Nya sebagai penjahat yang
‘layak’ untuk disalibkan.
Yesus telah banyak berbuat baik dan
menunjukkan kasih-Nya pada orang-orang Yahudi dengan menyembuhkan orang-orang
sakit dan mengusir setan-setan. Namun mereka tetap menolak-Nya. Yesus telah
memberikan kesaksian yang baik melalui perkataan maupun perbuatan-Nya dan apa
yang disaksikan-Nya itu adalah kebenaran. Dan orang-orang yang menerima-Nya
adalah orang-orang yang mau percaya pada kebenaran yang disaksikan-Nya itu.
Menerima
adalah kata kunci untuk percaya. Dengan
menerima, kita mendapatkan apa yang diberikan oleh Yesus. Jika Yesus adalah
Raja yang menyaksikan kebenaran (Yoh 18:37) maka apa yang kita terima adalah
kuasa untuk hidup dalam kebenaran itu. Inilah yang membedakan Yesus dengan
pemimpin agama lain. Tak ada seorang pun yang berani menjamin orang yang
percaya pada suatu ajaran maka orang tersebut akan bisa hidup dengan sempurna
dalam ajaran itu. Semuanya tergantung pada kemampuan manusia yang
mempercayainya.
Hanya
Yesus yang bukan saja mengajarkan kebenaran tapi
juga memberikan kuasa bagi barangsiapa yang percaya kepada-Nya untuk bisa hidup
dalam kebenaran-Nya.
Raja
menunjukkan orang yang berkuasa. Dan pengikutnya adalah orang yang mengakui
adanya kuasa raja itu. Kuasa itu dinyatakan dengan perantara kata-kata atau
perintah. Siapa yang mendengarkan kata-kata raja dan melakukannya berarti dia
telah ‘dikuasai’ oleh raja itu dan berada dalam pemerintahannya. Ini berarti
pula siapa yang kita dengarkan akan menentukan sikap dan keputusan hidup kita?
Apa yang kita dengarkan? Bagaimana kita mendengarkannya? Semua itu akan menentukan
hakekat diri kita sebenarnya.
Satu contoh: kita mungkin ga habis pikir
dengan orang yang mau mencari kembang tujuh
rupa untuk satu syarat tertentu yang disebutkan oleh dukun yang dipercayainya.
Namun, intinya bukan pada kembang/bunga itu apakah memiliki kuasa atau tidak,
tapi pada penundukan diri pada kemauan si dukun tersebut. Kalau seseorang sudah
tunduk pada kemauannya itu berarti orang tersebut telah berada dalam kuasa
dukun itu dan roh yang menguasainya.
Mari perhatikan bagaimana ketika Adam dan
Hawa jatuh dalam dosa. Awalnya, Iblis –yang menyatakan diri sebagai ular- menyatakan
kepalsuan yaitu dengan memutarbalikkan
kebenaran firman Tuhan. Firman Tuhan
dalam Kej 2 : 16b telah nyata : “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan
buahnya dengan bebas,..” tapi ular itu memutarbalikkan dengan berkata :
“Tentulah Allah berfirman : Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan
buahnya, bukan?” Kej 3 : 1b. Iblis adalah Pendusta. Apapun yang dikatakannya
dusta (Yoh 8 : 44).
Nah, kesalahan pertama Hawa waktu itu
adalah mendengarkan perkataan itu
dan menanggapinya tanpa pertimbangan suaminya, yang pertama kali menerima
firman itu. Dia terperangkap untuk ikut mengaburkan dan menambahkan kata
“meraba” ketika semakin dibujuk oleh ular itu. Hawa melihat, memikirkan dan
mengamini apa yang dikatakan oleh ular itu sehingga bertindak sendiri -tanpa
pertimbangan Adam, suaminya- untuk mengambil dan memakan buah terlarang itu.
Dan bukan hanya berhenti menjadi pengikut ular itu tapi juga memberikan buah
itu pada suaminya untuk melakukannya juga.
Menerima dan memberikan kepada orang lain.
Itu artinya menyerahkan diri pada
kuasa Iblis untuk bertindak dosa –melawan hukum Tuhan. Semenjak itu, Iblis
berkuasa terhadap manusia karena mereka mendengarkan suara Iblis dan
melakukannya, bukan menolaknya. Iblis ‘merajai’ manusia.
Penerimaan
terhadap kepalsuan inilah yang membuat manusia berdosa tidak
dapat menerima kebenaran. Karena keduanya bertentangan. Kepalsuan hanya
memunculkan kebenaran diri sendiri bukan kebenaran Allah. Kebenaran Allah
menyatakan hidup didalam-Nya dan dalam pengaturan-Nya. Sedangkan kebenaran diri sendiri menyatakan
kebebasan tak bertanggung jawab hanya menuruti kemauan, ukuran dan pemahaman
sendiri. Kebenaran diri sendiri dinyatakan oleh Adam dan Hawa dalam menyikapi
keadaan dirinya setelah tahu mereka telanjang. Mereka menutupi ketelanjangan
mereka itu dengan hanya menyematkan daun pohon ara dan membuatnya cawat (Kej 3 : 7).
Ini membuktikan kebodohan manusia berdosa.
Mereka mengatasi masalah dengan pemahaman mereka sendiri. Tanpa tahu bahwa apa
yang mereka lakukan itu tidaklah sempurna. Bila daun pohon ara dijadikan cawat
maka fungsinya hanya sementara karena cepat rusak. Mereka harus membuatnya
kembali. Berarti tak sempurna. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Allah
dengan membuat pakaian dari kulit
binatang yang lebih awet dan sempurna menutupi ketelanjangan tubuh mereka tak
sekedar hanya menutupi kemaluan mereka (Kej 3:21). Meskipun untuk itu, Allah
harus menumpahkan darah binatang itu. Inilah mengisyaratkan makna penebusan
sesungguhnya. Perlu penumpahan darah.
Dalam penebusan,
Allah melakukan dengan sempurna – didalam Kristus Yesus. Sedangkan manusia mencari jalannya sendiri untuk menebus
dosa mereka. Banyak hal yang mereka lakukan dengan cara mengandalkan ritual,
tata cara ibadah, hukum ini dan itu serta aturan penyucian diri yang hanya
nampak luarnya saja tanpa bisa menyelesaikan masalah sesungguhnya yaitu
pemberontakan terhadap pemerintahan Allah. Bersikap mampu mengatasi segala sesuatu
sendiri adalah bukti keberdosaan manusia. Egois. Begitu banyak orang merasa
dirinya saleh dan benar sehingga tak memerlukan penebusan. Menolak karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Mereka
lebih mendengarkan suara hati mereka dan suara Iblis dalam menjalankan
kehidupan ini.
Padahal dengan pemberontakan itu, manusia menjadi takut dekat dengan Allah dan bersembunyi.
Rasa bersalah membelenggu mereka. Mereka membela diri dengan mengesampingkan
tanggung jawab atas keputusan yang telah mereka ambil dengan melemparkan
kesalahan pada orang lain dan yang membujuknya berbuat dosa. Rasa bersalah –yang tidak diatasi- akan
menjebak manusia untuk ‘menutupi’ dosa dengan dosa yang lain. Tanpa penyelesaian berarti dan tuntas. Tidak
ada kebenaran dalam rasa bersalah yang melumpuhkan itu. Oleh karena itu Ia
menghukum manusia yang berdosa itu supaya menyadari akan kesalahan-kesalahannya.
Hukuman Allah pun dihubungkan dengan apa yang telah mereka lakukan itu.
Ketika
mereka menerima dengan mudahnya dan
menyerah atas bujukan Iblis, maka hukuman manusia adalah kesulitan dan
kesukaran (Kej 3 : 16-19). Penderitaan akibat dosa terjadi karena manusia tidak
sanggup menolak kepalsuan yang ditawarkan Iblis, malah menerimanya dan menjadi
hamba dosa. Seorang hamba harus melakukan kemauan tuannya. Jika tuannya yang
suka akan kepalsuan maka hamba-hambanya pun melakukan hal yang sama.
Itulah
kenapa, Iblis selalu menawarkan pada manusia jalan yang mudah dan malah menuju
ke kebinasaan. Dan jalan Yesus, Sang Mesias adalah jalan salib (jalan sempit).
Jalan salib telah dilakukan-Nya sebagai bagian untuk penebusan manusia dalam
keberdosaannya dengan menanggung akibat dari dosa-dosanya itu.
Nah,
kebenaran Allah dalam Kristus Yesus itulah yang ditawarkan pada kita untuk kita percayai. Dengan ketaatan penuh, Yesus
mau dan rela menanggung derita demi kehendak Bapa, Allah-Nya, untuk mengatasi
pemberontakan kita terhadap Allah dan itu hanya Dia saja yang sanggup melakukan
dengan sempurna sebab dia Anak Allah. Kesanggupan-Nya menanggung salib untuk
menebus dosa kita menyadarkan kita
akan kemampuan-Nya untuk bisa hidup bagi Allah dan setelah Dia mati di atas
kayu salib, Dia bangkit membuktikan pembenaran diri-Nya di hadapan Allah.
“Tetapi
semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”.
Yoh 1:12. Menerima diri Yesus juga berarti menerima
kuasa-Nya. Yesus yang sanggup mengatasi dosa dan pencobaan memberikan kuasa
yang sama juga bagi mereka yang menerima-Nya. Itulah makna kebenaran Kristus.
Darah Kristus bukan saja menebus manusia berdosa dari murka Allah tapi juga
berkuasa untuk memampukan orang yang menerima-Nya hidup dalam kebenaran (1 Pet
1:18-19). Hidup Kristus menjadi hidup kita. Tidak lagi menuruti dan
mendengarkan si jahat dengan segala kepalsuannya tapi hidup bagi Allah. Setiap
orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku, Yoh 18:37c.
Apakah kebenaran itu? Pertanyaan Pilatus itu seperti pertanyaan
kebanyakan orang. Kebenaran seperti apa yang harus didengarkan? Kesangsian akan kebenaran yang
dinyatakan oleh Allah sendiri melalui Anak-Nya dikarenakan masih ada selubung yang menutupi mata hati seseorang.
Dengan adanya selubung itu, orang terhalang untuk melihat kebenaran. Tanpa
disingkapkan maka orang tak akan percaya dan menerima kebenaran.
Seringkali
kita putus asa terhadap orang-orang
yang menentang Injil dan kebenarannya. Bagaimana mereka yang telah nyata-nyata
menerima pemberitaan Injil dan kebenarannya itu tak mau percaya? Malah
menentangnya. Hal itu karena selubung yang menutupi mata
mereka. Selubung itu berupa ilah-ilah zaman ini. “Tetapi apabila hati seorang
berbalik kepada Tuhan maka selubung itu diambil daripadanya.” 2 Kor 3 : 16.
Hanya
Roh Kudus yang sanggup membukakan selubung itu. Roh
kudus adalah Roh kebenaran bertentangan dengan roh antikristus yang
menyesatkan. Barangsiapa yang mendengarkan Roh Kudus, ia percaya akan karya
penyelamatan Yesus Kristus diatas kayu salib untuk menebus dosa kita. Dan hanya
oleh Roh Kuduslah, kita mengaku Yesus itu Tuhan (1 Kor 12:3). Itulah kasih
karunia dimana semua karena Allahlah yang bekerja di dalam kita untuk
menyelamatkan kita. Bukan berdasarkan kebenaran diri sendiri. Oleh karena itu,
apabila kita menghendaki seseorang diselamatkan dan menerima kebenaran-Nya maka
kita harus berdoa pada Allah yang
sanggup menyelamatkan orang-orang tersesat dalam dosa. Tanpa itu, sia-sialah
kita berusaha menyatakan dengan segala pemahaman dan pengetahuan tentang Injil
Kristus.
Pekerjaan Iblis menentang manusia untuk menerima kebenaran. Karena kebenaran itu
memerdekakan mereka (bandingkan dengan Yoh 8 : 32). Kesanggupan kita menolak
bujuk rayu / hasutan Iblis untuk menentang pemerintahan Allah karena
pengendalian diri yang juga adalah buah Roh. Kita tidak boleh tunduk kepada
Iblis tapi tunduk kepada Allah. Bila kita tahu apa itu kebenaran maka kita pun
akan tahu bagaimana sifat kepalsuan itu. Karena kepalsuan itu selalu bertolak
belakang dengan kebenaran.
Lihat apa yang ditawarkan Iblis selalu bertentangan dengan Firman Allah. Pelacuran
/ percabulan bertentangan dengan penebusan. Melacur itu berarti menjual diri
sedangkan penebusan itu berarti telah dibeli dan dibayar lunas. Melacur membuat
diri tak berharga tapi oleh penebusan Kristus, kita menjadi berharga. Hawa
nafsu duniawi bertentangan dengan jalan salib penderitaan Kristus. Jadi kita
tak perlu mempelajari seluk-beluk Iblis untuk dapat mengetahui kejahatan itu
tapi cukup dengan mengenal kebenaran itu sendiri maka kita akan tahu seperti
apa si jahat itu dan segala perbuatannya. Karena mereka bertentangan.
Karena itu bagaimana kita akan bisa hidup dalam kebenaran? Kita harus
mau dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan pimpinan Roh Kudus, kita akan menghasilkan
buah Roh yang nyata dan memampukan kita untuk menolak segala tipu daya Iblis. Apabila
roh jahat yang mengendalikan diri seseorang maka merusak dirinya dan hidupnya.
Mencuri apa yang Tuhan karuniakan padanya, membunuh pikiran, perasaan dan
kehendak untuk melakukan perbuatan baik serta membinasakan jiwanya karena
menerima hukuman yang akan datang.
Seringkali proses penginjilan disertai dengan pengusiran setan-setan.
Hal itu untuk mempersiapkan jalan bagi Roh Kudus membuka hati seseorang untuk
percaya pada Kristus Tuhan. Dalam Kitab Injil Markus, malahan penginjilan dan
pengusiran setan senantiasa beriringan dan dinyatakan sebagai apa yang Tuhan
Yesus lakukan. Pemahamannya adalah ketika kebenaran itu datang maka yang palsu
itu akan menyingkir.
Namun demikian dalam Injil Markus, Tuhan
Yesus menolak kesaksian roh-roh jahat
tentang diri-Nya dan memperintahkan mereka diam (Mark 1:24-25 ; 5:7-8). Tuhan
Yesus tidak mau membiarkan pengakuan roh-roh jahat itu sebagai dasar iman orang
percaya pada-Nya. Meskipun roh-roh jahat itu tahu siapa sebenarnya Yesus
sebagai Anak Allah. Kepalsuan tidak akan mungkin menjadi dasar bagi kesaksian
kebenaran.
Inilah kenapa Rasul Yohanes dalam suratnya
yang pertama mengingatkan kita untuk hidup
dalam terang bukan di dalam kegelapan. Maksudnya adalah supaya kita hidup
dalam pengakuan diri, terus terang, keterbukaan dan tidak ada yang
ditutup-tutupi di hadapan Allah. Karena memang tak ada yang mungkin di sembunyikan dihadapan-Nya. Pengakuan
kita akan keadaan kita yang berdosa menjadi dasar untuk kita bisa menerima
pengampunan yang diberikan Allah dalam Yesus Kristus. Tanpa itu, kita berdusta
baik terhadap diri sendiri maupun terhadap Allah. Bila kita berdusta maka kebenaran
tak ada di dalam kita.
Demikian juga dengan pengakuan itu pula hendak menyatakan sungguh Yesus mati bagi kita dan
kita menerima-Nya. Oleh karena itu, pemberitaan Injil senantiasa akan menantang
orang yang mendengarnya untuk mengakui keberdosaan dirinya dan membawa orang
itu pada pertobatan. Sebab Allahlah yang dalam Yesus Kristus yang sanggup
menyucikan orang itu dari segala dosa dan kejahatan (1 Yoh 1:5-10).
Kebenaran itu akan memerdekakan kita dari rasa takut akan penghukuman yang akan datang
karena Yesus Kristus sendiri telah menanggung hukuman atas dosa-dosa kita.
Kebenaran itu memerdekakan kita dari rasa cemas akan kehidupan masa depan sebab
Yesus telah bangkit dari antara orang mati dan hidup selamanya serta senantiasa
jadi perantara kita. Dia telah menyelamatkan kita maka kita akan
diselamatkan-Nya lagi.
Dia sanggup
karena Dia berkuasa. Setelah Dia bangkit, segala kuasa di bumi dan di sorga ada
di tangan-Nya (Mat 28:18). Itu berarti manusia yang telah ‘dirajai’ oleh Iblis
semenjak Adam menyerah pada tipu dayanya dibebaskan oleh Kristus. Segala kuasa
di bumi ada di tangan-Nya itu berarti Iblis telah dikalahkan. Kejahatannya telah
dipatahkan kuasanya. Kegelapan disingkapkan oleh terang kebangkitan Kristus.
Sekarang ini yang terjadi adalah peperangan antara kebenaran Kristus
yang menang dengan kepalsuan Iblis yang berusaha terus membuat manusia jatuh
lagi ke dalam dosa. Peperangan ini telah dimenangkan
oleh Kristus dan akan dimenangkan-Nya lagi. Bagi orang-orang percaya, kita
telah lebih daripada pemenang karena kemenangan Kristuslah yang dianugerahkan
pada kita (Rom 8:37).
Cara pandang ini akan membawa kita pada
kehidupan berkemenangan. Tidak takut lagi pada si jahat dan digentarkan oleh
kuasanya. Mereka telah kalah. Masakan kita akan menyerah pada roh-roh yang
lemah itu dan yang telah dikalahkan? Bila mereka seakan-akan berkuasa maka kita
tahu kuasanya itu terbatas dan tidak untuk selamanya. Itu penghiburan kita akan
peperangan melawan kejahatan. Kejahatan telah dikalahkan oleh kebaikan Kristus
dan akan dikalahkan lagi. Tinggal kita mau menjadi
bagian yang mana? Mau jadi hamba kebenaran atau hamba kejahatan?
Septa Widodo Munadi,
Ditulis pertama kali di Godong 30 Oktober 2010 selesai pk. 07.00
Dan disampaikan kembali dalam renungan di Kebaktian Doa di GKI Tegal
30 Oktober 2012 (pk.06.00 s.d. 06.40)
Lagu: NKB 87 :1,3
NKB 12 : 1-3
JUNJUNGAN YANG KUPILIh ( NKB 87)
1.
Junjungan
yang kupilih, Yesusku Penebus. Yang
bangkit dari mati berkuasa seterus.
Kendati banyak orang mengejek, mencela, kuikut suaraNya lembut mesra.
Ref.
Benar, benarlah hidup
Yesusku. Bersamaku di jalanku suaraNya kudengar
Benar, benarlah hidup
Yesusku. Dimana Dia kudengar? Di dalam hatiku.
2.
Dimana,
kapan saja kasihNyapun jelas. Di saat ‘ku gelisah dihiburku lekas.
Di hujan, angin ribut, dipimpin langkahku’ ‘ku yakin, kami nanti ‘kan bertemu.
3.
Menyanyilah
umatNya, memuji Tuhanmu!
Nyanyikan
Haleluya, agungkan Rajamu.
Harapan
bagi orang yang mau mencariNya,
sebab
Yesusmu hidup selamaNya.
o
Tuhanku, ‘kau datang ke dunia (NKB 12)
1. O Tuhanku, ‘kau datang ke dunia, untuk menghapus dosa umatMu.
Bagai seekor rusa yang dahaga, padaMu, Tuhanku, merindu hatiku.
Ref.
Aku berserah, ya Tuhan, padaMu,
ku b’rikan bagiMu seluruh hidupku.
2. ‘Ku bersedih kar’na tekanan dosa dan jiwaku terkungkung dalam g’lap.
Kini berikan damai dan sentosa, tahirkan diriku dan dosa pun lenyap.
3. O Roh Kudus, berikanlah karunia, hancurkan kuasa setan dalamku.
Jadilah pandu dan terang s’lamanya dan bagi Tuhanku siapkan hatiku.
4. Bila kelak berakhirlah dunia, di sisiMu ‘ku akan berteduh.
Dan kini bak peronda yang berjaga, begitu jiwaku menanti datangMu.
Senin, 30 Desember 2013
Bercermin adalah Upaya untuk Koreksi Diri
Bahan Renungan: Matius
6:22-23 ; 7:1-5
Lagu: NKB 126:1,2
NKB 122:1,2 & 3
PENAYANGAN VIDEO
Watch How Boy Takes Harassment Revenge with
a Girl in a Public Bus
Kesan apa yang Bapak/Ibu lihat dari tayang
video tadi?
Coba perhatikan dalam video tersebut: ada
seorang pemuda India
yang sedang dalam sebuah bus tiba-tiba menerima tamparan dari seorang gadis di
sebelahnya karena merasa dilecehkan. Bahkan orang-orang yang duduk mendukung
tindakan gadis itu dan mempersalahkan pemuda itu.
Sesaat kemudian, keadaan berbalik ketika
pemuda bergeser tempat berdirinya (dimana ia hendak turun) berada di depan
gadis itu. Gantian pemuda itu yang menampar gadis itu karena menyentuh pemuda
itu. Sebetulnya apa yang terjadi?
Apa benar itu semata-mata karena kesalahan
pemuda itu sehingga menyentuh gadis itu?
Tapi kalau kita perhatikan, pemuda itu
menyentuh gadis itu gara-gara bus itu mendadak mengerem sehingga pemuda itu
terdorong ke depan menyentuh gadis itu. Saya pikir, pemuda itu tak bermaksud
melecehkan gadis itu. Tapi ternyata hal itu tak dipedulikan gadis itu dan
begitu cepat langsung menamparnya. Ketika keadaan berbalik, tak ada gunanya
gadis itu minta maaf.
Dari tayangan itu kita dapat belajar bahwa
seringkali kita cepat-cepat menghakimi orang lain yang melakukan kesalahan
tanpa mempedulikan kesalahan itu karena apa? Apa murni kesengajaan orang atau
karena memang keadaan yang mengakibatkan kesalahan itu…
Disini kita diminta untuk bijaksana menilai
sesuatu, tidak terburu-buru atau terbawa emosi semata. Kita harus melihat
sebuah permasalahan dengan jernih, jujur dan tidak memihak. Bukan didasari oleh
keinginan untuk merasa diri lebih baik / lebih benar daripada orang lain.
Menilai suatu kesalahan atau kita sebut
mengoreksi harus dipahami sebagai upaya untuk membetulkan kesalahan-kesalahan
yang mungkin terjadi. Tujuannya jelas yaitu memperbaiki kesalahan bukan untuk
mencari-cari kesalahan. Koreksi yang baik bukan saja melibatkan orang dalam
(orang yang terlibat) tapi juga orang luar. Melalui koreksi ini, kita bisa
melakukan evaluasi dan instropeksi.
Dengan evaluasi dan instropeksi, kita
diharapkan dapat menentukan langkah selanjutnya yang terbaik yang dapat kita
lakukan. Oleh karena itu, bagaimana kita sebaiknya memahami koreksi dari
saudara-saudara yang lain? Koreksi harus kita pahami sebagai bentuk kepedulian
orang lain pada diri kita meskipun kita sadar kadang cara pandang orang tentang
sesuatu hal terbatas bahkan sempit sehingga salah mengartikan sesuatu dengan
benar seperti video tadi. Tapi tokh, kita semestinya mau membuka diri untuk mau
dikritik, diberi masukan dan saran agar apa yang telah kita lakukan sebelumnya
menjadi lebih baik lagi.
Sekali lagi, tanpa koreksi, kita tidak akan
tahu apakah kita telah melakukan kesalahan atau tidak. Justru dengan koreksi
kita terhindar dari kesalahan yang lebih fatal. Oleh karena itu, kita tidak boleh
cepat-cepat tersinggung apabila ada orang yang mau mengkritik atau memberi
masukan pada kita. Malahan jadi PERINGATAN BAGI KITA apabila kita tidak pernah
dikritik oleh orang lain. Itu berarti kita tak dipedulikan lagi, entah
melakukan ini dan itu atau orang mulai bosan pada kita yang tidak mau dikritik.
Ini berbahaya bagi kita.
Namun bila kita berada pada pihak orang
yang harus memberikan kritik, itu haruslah didasari oleh ketulusan dan kemauan
untuk mengoreksi diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum mengkritik orang
lain. Jangan sampai kita jadi batu sandungan dimana orang enggan mendengarkan
kita karena kritikan kita tidak sebanding tindakan yang kita lakukan artinya
kita juga melakukan kesalahan yang sama yang tidak bisa kita atasi tapi dengan
mudahnya mengkritik orang lain.
Tadi saya katakan koreksi membuahkan
evaluasi dan intropeksi. Biasanya akhir tahun adalah saat yang tepat untuk
evaluasi dan intropeksi diri. Semua itu bisa kita lakukan dengan secara katif
menanyakan pendapat orang lain terhadap diri kita atas apa yang telah kita
lakukan sepanjang tahun ini atau kita merefleksikan semua yang pernah terjadi
selama setahun ini dan belajar jujur apa yang kurang, yang belum atau tidak
kita lakukan. Istilah mudahnya kita bercermin diri.
Tentang cermin, kita pernah dengar cerita
dongeng tentang cermin ajaib.
Seorang ratu yang cantik selalu bertanya
pada cermin ajaib,”Wahai cermin ajaib, siapakah di seluruh negeri ini yang
paling cantik?”
Jawab cermin ajaib itu kepadanya,”Tidak ada
yang lebih cantik daripada sang ratu sendiri.” Mendengar itu, tentulah sang
Ratu sangat bangga.
Sampai suatu kali dia bertanya kembali
dengan pertanyaan yang sama, namun jawaban cermin ajaib,”Tidak ada yang lebih
cantik daripada Putri Salju.” Sang Ratu bukan saja terkejut tapi berubah jadi
marah tidak disangkanya ada orang yang lebih cantik daripada dirinya.
Tapi pertanyaannya kenapa harus marah? Apa
hak dia untuk marah?
Sang ratu tidak mau ada yang lebih cantik
daripada dirinya. Dan kita tahu kisah selanjutnya bahwa Sang Ratu mengupayakan
agar menyingkirkan Putri Salju dari negeri itu.
Semula diawali dengan bercermin. Yach,
dengan bercermin kita melihat keadaan kita yang sebenarnya. Yang suka
berlama-lama bercermin adalah para wanita. Ini yang seringkali membuat
bapak-bapak rada jengkel kok merias diri di depan cermin bisa begitu lama. Jadi
tidak sabaran. Bercermin berarti melihat bayangan kita. Apa yang ditampilkan di
cermin adalah pantulan dari apa yang ada dalam diri kita. Kalau kulit kita
hitam akan terlihat hitam. Kalau ada jerawat, akan nampak jerawat pula. Semua
lekuk tubuh dan paras muka kita akan terlihat seperti adanya kita. Cermin itu
jujur. Menyatakan apa adanya.
Kita ingin menonjolkan hal-hal yang baik
menurut kita dan menutupi kekurangan kita. Demikian juga setelah bercermin,
orang tak akan begitu saja berlalu. Ada
saja yang dilakukan. Kalau rambutnya acak-acakan maka akan disisir. Kalau ada
jerawat dan ingin tetap tampil cantik maka akan ditutupi dengan polesan
kosmetik yang lebih tebal. Biar kelihatan lebih menawan dikasih pewarna pipinya,
bibirnya dikasih lipstik dan seterusnya.
Ada satu tindakan
nyata setelah bercermin. Tidak tinggal diam saja. Demikian juga setelah
mengoreksi diri maka akan ada perubahan yang seharusnya kita lakukan
selanjutnya.
Saya pernah menyampaikan renungan tentang
perubahan hidup Rasul Petrus dimana ia mau menerima koreksi dari Tuhan dan
dengan rendah hati belajar untuk menerima keadaan dirinya yang pernah gagal itu
sehingga dia mau menerima kembali kepercayaan dari Tuhan bahkan untuk
menggembalakan jemaat-Nya.
Rasul Petrus adalah seorang Sanguin,
seorang yang temperamennya meluap-luap dan sulit dikendalikan. Spontan. Lebih
menonjol daripada rasul-rasul yang lain. Namun demikian ketika dia menemukan
dirinya yang diperhadapkan Tuhan Yesus akan ingatan akan kesalahan masa
lalunya, ia tak berhenti meratapi kesalahannya itu tapi melangkah maju menerima
kepercayaan kembali dari Tuhan untuk sebuah tanggung jawab yang besar.
Bahkan di Surat Galatia, kita tahu Rasul Petrus
pernah melakukan kesalahan dosa kemunafikan dimana ia mengundurkan diri dari
persekutuan jemaat yang tidak bersunat setelah datang orang-orang yang
bersunat. Kesalahannya itu ditegur keras oleh Rasul Paulus di depan jemaat
disitu. Sebagai pemimpin jemaat, tentu tidaklah mudah ditegur di depan
jemaatnya. Tapi saya kira Rasul Petrus bukanlah seorang pendendam yang mudah
sakit hati ketika ada orang yang menegurnya. Ini terbukti di suratnya yang
terakhir sebelum kematiannya, ia memuji Rasul Paulus yang telah bekerja keras
bagi jemaat Kristen dan tulisan-tulisannya yang membangun jemaat.
Jadi melalui Rasul Petrus kita belajar
menjadi pribadi yang besar yang mau dikoreksi dan belajar dari masa lalu bukan
untuk diratapi tapi koreksi itu dipakai sebagai acuan agar tidak gagal lagi
pada kesalahan yang sama. Dengan satu harapan bahwa selalu ada kemungkinan yang
lebih baik di masa depan.
Masa depan ada dalam pandangan bahwa hidup
ini bukan hanya berhenti pada kematian saja tapi terus berlanjut pada kehidupan
kekal yang disediakan Allah bagi kita yang percaya pada Kristus. Dan apa yang
telah kita lakukan di dunia ini nantinya harus dipertanggungjawabkan kepada
Tuhan yang menghakimi dengan adil dan benar.
Seorang yang mau dikoreksi adalah pribadi
yang memandang hidup ini ada tujuannya dan tujuannya itu pasti dimana kehendak
Allah boleh terjadi dalam hidupnya. Hidup ini bukan sesuatu yang kosong tanpa arah
dimana berhenti pada kematian saja setelah itu ketiadaan. Bukan. Karena bila
itu yang menjadi acuan maka orang akan dengan seenaknya menjalani hidup ini
tanpa peduli aturan atau kepada sesamanya. Yang penting dirinya senang. Orang
yang demikian tentulah tidak mau dikoreksi, baginya, dirinyalah yang paling
benar.
Oleh karena itu, setelah kita melakukan
koreksi diri haruslah dilanjutkan dengan tindakan nyata sebuah perubahan
menjadi lebih baik.
Mari kita belajar bercermin diri dan
berubah.
Selamat menyambut tahun baru 2014!
Tuhan memberkati. Amin.
Septa Widodo Munadi,
Kebaktian Doa Pagi GKI Tegal -
31 Desember 2013
Pk. 06.00 s.d. 06.45
Pk. 06.00 s.d. 06.45
NKB 126:
Tuhan memanggilmu
1.
Tuhan memanggilmu, hai
dengarlah:
“Apapun yang
terbaik ya b’rikanlah!”
Dan jangan kau
kejar hormat semu,
muliakan saja
Yesus Tuhanmu.
Ref.
Tiap karya
diberkatiNya,
namun yang
terbaik dimintaNya.
Walaupun tak
besar talentamu,
b’ri yang
terbaik kepada Tuhanmu.
2.
Sanjungan dunia jauhkanlah
dan jangan
kaudengar godaannya.
Layani Tuhanmu
dalam jerih
dalam hidupmu
yang t’lah Kauberi.
NKB 122
KU INGIN BERPERANGAI
‘Ku ingin berperangai laksana Tuhanku,
lemah lembut dan ramah, dan manis budiku.
Tetapi sungguh sayang, ternyata ‘ku cemar.
Ya Tuhan, b’ri ku hati yang suci dan benar.
‘Ku ingin ikut Yesus, mencontoh kasihNya,
menghibur orang susah, menolong yang lemah.
Tetapi sungguh sayang ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ku hati yang suci dan benar.
Ya sungguh, Jurus’lamat, cemarlah hatiku,
dan hanya ‘Kau yang dapat menghapus dosaku,
Supaya k’lak di sorga kupandang wajah-Mu
dan aku jadi sama laksana diriMu.
Sabtu, 01 Juni 2013
Bukan Aku, Tapi Kristus
Bahan Renungan: Galatia 2: 15 - 21
Menjadi orang kedua tidaklah enak. Bukan
yang utama / pertama. Bukan orang yang
menonjol atau populer. Kita bisa saja begitu bekerja keras menyelesaikan
pekerjaan atau bagian kita tapi mungkin bisa jadi orang lain yang malah
mendapatkan penghormatan atas apa yang telah kita upayakan
/ selesaikan. Menjadi pribadi yang seakan terabaikan / terpinggirkan /
dilupakan.
Seorang Yohanes Pembaptis menjadi contoh
yang kita kenal sebagai perintis jalan bagi datangnya sang Mesias. Dia
berseru-seru pada semua orang untuk bertobat dan memberi diri dibaptis juga
mewartakan akan datangnya Mesias yaitu Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah.
Ketika pelayanan Yesus Kristus dan murid-muridNya makin besar. Dan banyak murid
Yohanes pembaptis yang berubah menjadi pengikut Yesus.
Namun, alih-alih merasa tersaingi malahan
Yohanes Pembaptis merasa
bangga karena memang demikianlah tujuan pelayanannya yaitu untuk mengarahkan
orang pada Kristus, itu adalah sukacitanya.
Berbesar hati ketika orang lain lebih
menonjol adalah sikap yang tidak mementingkan diri sendiri. Keegoisan mampu
dikalahkan oleh sikap kedewasaan yang mampu melihat kebaikan pada diri orang
lain. Ini tidaklah mudah. Kita dari kecil telah terbiasa dengan pengajaran untuk
meraih sesuatu, mencapai prestasi setinggi mungkin, mendapatkan lebih banyak
dari apa yang ada sekarang.
Sebagai orang tua seringkali juga hal itu
yang kita ajarkan pada anak-anak kita. Tuntutan yang begitu besar pada anak
untuk bersaing dengan teman-temannya dengan peraihan nilai yang lebih dari yang
lain. Jarang ada orang tua yang mengatakan:”Yach sudahlah, Nak, ga papa, kamu
ga sepeti dia kok. Kamu special. Terima kamu apa adanya.”
Inipun yang akhirnya bisa saya mengerti
kenapa ayah saya begitu kecewa pada saya yang gagal menyelesaikan kuliah.
“Masakan kamu ga bisa lulus kuliah padahal sering menjadi Juara Kelas??”
Prestasi, prestasi, dan prestasi. Itu yang
seringkali dituntut orang tua pada anak-anak. Tanpa peduli kalau anaknya itu
sedang kepayahan atau merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang dia kejar.
Bisa jadi seorang anak meraih prestasi dengan baik tapi itu mungkin itu adalah
wujud dari ketakutannya pada orang tuanya saja.
Dalam pelayanan maupun di sebuah perusahaan
seringkali tuntutan terbesar adalah prestasi, sebuah raihan atau pencapaian
atas target atau terlaksananya program. Apabila kita terperosok pada tuntutan
itu, maka kita hanya akan sekedar pada pelaksanaan program semata. Yang penting
jalan. Yang penting ada kegiatan. Tidak ada spirit / semangat yang hidup dalam
menjalani pelayanan atau bekerja di sebuah perusahaan. Kita bukanlah terdiri
dari angka-angka yang menjelaskan arti diri kita. Tapi kita adalah pribadi yang
berharga, yang unik di mata Tuhan.
Tuhan punya rencana yang unik bagi setiap
kita. Jikalau Tuhan menempatkan kita dalam sebuah persekutuan jemaat, itu
berarti kita diminta menyatakan makna hidup kita dalam persekutuan tersebut.
Pemberian diri dan hidup kita dengan segala
apa yang bisa kita berikan untuk pembangunan jemaat menjadi satu hal berarti
ketimbang kita dinilai hanya sebagai alat untuk pencapaian program atau sasaran
yang telah ditetapkan di dalam jemaat.
Inipun seringkali menjadi pergumulan saya
pribadi di GKI Tegal. Apakah ketika saya di sini, saya hanya akan dipandang
sekedar sebagai seorang pekerja saja? Apa kontribusi yang bisa saya berikan
untuk pembangunan jemaat? Apakah keterlibatan saya yang bisa memberikan andil
di jemaat bukan semata-mata hanya sekedar menyelesaikan pekerjaan saya saja,
itu cukup?
Ketika saya berada disini untuk memimpin
Kebaktian Doa Pagi ini bukanlah karena mengajukan diri. Tapi pada waktu itu,
saat kekurangan pemimpin KD pagi, mbak Prima mengajukan saya untuk juga
dijadwalkan. Ini menjadi problem tersendiri bagi saya ketika saya harus berbagi
iman dengan Bapak/Ibu disini karena umur saya masih jauh lebih muda
dibandingkan yang hadir disini. Tidak mudah bagi saya. Lebih mudah kalau
menyampaikan pelajaran Agama di SMU di Bogor
dimana siswa-siswi jauh lebih muda dari saya. Namun ketika disini, saya
menganggap Bapak/Ibu jauh memiliki pengalaman iman lebih daripada saya. Namun
bila kesempatan ini diberikan, itu berarti saya pahami sebagai panggilan Tuhan
untuk saya bisa memberikan kontribusi pada jemaat di sini.
Itulah kenapa juga saya tidak asal-asalan
untuk menyampaikan renungan. Renungan yang saya bawakan haruslah menjadi
perenungan atau pergumulan iman yang pernah saya alami bersama Tuhan. Bukan cuma
pengetahuan semata yang bisa kita dapatkan dari buku atau internet. Tinggal
membacakan.
Pernah suatu kali saya menghadapi masalah
serius menjelang akan membawakan renungan. Dan saya konsultasikan ke Bu Pris,
apakah saya lebih baik mengundurkan diri terlebih dahulu atau bagaimana? Beliau
memberikan saran yang menurut saya bijaksana yaitu tetap lanjutkan saja, karena
dengan berbagi pergumulan iman saya dalam menghadapi masalah itu akan menjadi
kesaksian yang bisa menguatkan jemaat.
Ya, saya mengamini hal itu. Firman itu
haruslah menjadi daging. Artinya apa yang Tuhan ajarkan pada kita haruslah
mendarah-daging dalam hidup kita. Kita gumuli, kita renungkan apakah
prisnsip-prinsip atau tingkah laku kita sudah sesuai dengan firman Tuhan atau
belum? Mengapa belum? Mengapa tidak sesuai? Itulah yang kita cari penyebabnya.
Kita bisa belajar dari orang lain. Kita bertanya. Kita mencari jawaban dan
jalan keluar.
Karena satu hal yang harus tetap menjadi
iman kita bersama bahwa kita harus mau mengubah diri dengan mengijinkan Roh
Kudus bekerja mengubahkan kita. Karena bukan lagi diri kita sendiri yang ada
tapi Hidup Kristus yang telah dianugerahkan kepada kita ketika kita percaya
kepada-Nya. Perubahan itu adalah sebuah proses dan terus berkelanjutan. Kadang
kita gagal hidup di dalam Tuhan. Kadang kita jatuh dalam dosa yang menjauhkan
kita dari hadirat Tuhan.
Namun anugerah Tuhan jauh lebih besar
daripada dosa-dosa kita. Anugerah-Nya penuh kuasa untuk menyelamatkan kita.
Hidup Kristus itu akan terus mendorong kita untuk ke arah yang lebih baik dan
meninggalkan kegelapan. Oleh karena itu, kita harus memberikan kesaksian yang
jujur, yang apa adanya, yang tidak bisa ditutup-tutupi. Karena memang hidup
Kristus itu seperti terang yang mengusir kegelapan.
Ini juga yang sering kali menjadi
penghiburan bagi saya ketika jatuh. Saat dimana seakan tidak ada pertolongan,
tidak ada harapan, tersesat. Dengan berseru kepada Tuhan, Dia tidak tinggal
diam. Ada
kekuatan yang bukan dari diri saya yang memampukan saya untuk bangkit dari
keterpurukan. Seperti suatu energi baru untuk memampukan melangkah bahkan mampu
mengatasi rasa bersalah yang melumpuhkan.
Kita mungkin akan lebih mendengarkan orang
luar yang tidak kenal-mengenal dengan kita daripada dengan orang yang
dekat dengan kita. Karena orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang
kita tahu dan kenal tingkah lakunya. Seringkali kita cepat menghakimi apa yang
disampaikannya atau mencibir “Akh, aku sudah tahu belangmu / kelemahanmu”. Tapi
cobalah orang luar tersebut kita ajak masuk dalam persekutuan kita. Apakah
nanti respon kita akan sama dengan
ketika pertama kali ia berbicara kepada kita? Saya tidak yakin akan sama.
Itu juga kenapa kita diminta untuk terus
mendoakan pemimpin-pemimpin kita agar tidak menjadi batu sandungan. Agar mereka
bisa memimpin dengan keteladanan yang baik yang menguatkan bukan malah
melemahkan. Kita telah belajar banyak tentang hal tersebut.
Ini juga yang mungkin menjadi alasan banyak
orang enggan untuk menjadi pemimpin. Tidak mau hidupnya disorot. Meminjam
istilah Bu Elizabeth
“Hidup di dalam rumah kaca”. Dipantau. Menjadi bahan omongan orang banyak.
Menjadi biasa-biasa saja jauh lebih nyaman.
Saya perhatikan itu juga menjadi alasan penolakan orang untuk terlibat dalam
pelayanan atau diminta untuk menjadi panitia. Akh, saya bukan orang yang
baik-baik, masih banyak yang lebih baik daripada saya. Tidak mau ambil resiko.
Padahal entah sebagai jemaat biasa atau
pemimpin jemaat, sama saja kita dipanggil untuk tetap menjadi saksi Kristus.
Kita diminta menyatakan Kristus dalam hidup kita. Entah dalam masa sulit atau
masa enak, entah waktu kita jatuh atau dalam kejayaan. Tuhan tetap dapat
bekerja dalam segala perkara dalam hidup kita entah kita sadari atau tidak.
Maukah kita tetap hidup di dalam Tuhan atau
menolak berproses bersama Dia?
Maukah kita dibentuk dalam Dia melalui
persekutuan, pelayanan dan kesaksian kita dalam jemaat di sini?
Biarlah itu menjadi perenungan kita
bersama. Amin.
Tegal, Septa Widodo Munadi
(disampaikan pada Kebaktian Doa Pagi @GKI Tegal - 22 Januari 2013)
Lagu: NKB 21:1,2
NKB 104:1,2
Langganan:
Postingan (Atom)









