Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Laman Utama

Tampilkan postingan dengan label Kebaktian Doa Pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebaktian Doa Pagi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2014

Kebenaran Kristus versus Kepalsuan Iblis



Bahan renungan: Yoh 18 : 33 - 40


“Apakah Kebenaran itu?”
Pertanyaan menggantung dari Pilatus pada Yesus itu dinyatakan  ketika ia mengadili Yesus setelah diserahkan oleh orang-orang Yahudi (Yoh 18:38a). Dia tak menunggu jawaban Yesus. Dia lanjutkan dengan tindakan sendiri yang menurutnya benar untuk berusaha ‘menyelamatkan’ Yesus yang tidak didapati melakukan satu kesalahan pun. Dia bertindak demikian seakan-akan dia berkuasa atas diri Yesus dengan menawarkan pilihan untuk ‘membebaskan’ Yesus. Namun ternyata apa yang dilakukannya itu malah ditolak oleh orang-orang Yahudi. Dan mereka lebih memilih Barabas, seorang penyamun yang nyata-nyata seorang penjahat. Mereka tidak mau menerima Yesus sebagai Raja dan menganggap-Nya sebagai penjahat yang ‘layak’ untuk disalibkan. 

Yesus telah banyak berbuat baik dan menunjukkan kasih-Nya pada orang-orang Yahudi dengan menyembuhkan orang-orang sakit dan mengusir setan-setan. Namun mereka tetap menolak-Nya. Yesus telah memberikan kesaksian yang baik melalui perkataan maupun perbuatan-Nya dan apa yang disaksikan-Nya itu adalah kebenaran. Dan orang-orang yang menerima-Nya adalah orang-orang yang mau percaya pada kebenaran yang disaksikan-Nya itu.

Menerima adalah kata kunci untuk percaya. Dengan menerima, kita mendapatkan apa yang diberikan oleh Yesus. Jika Yesus adalah Raja yang menyaksikan kebenaran (Yoh 18:37) maka apa yang kita terima adalah kuasa untuk hidup dalam kebenaran itu. Inilah yang membedakan Yesus dengan pemimpin agama lain. Tak ada seorang pun yang berani menjamin orang yang percaya pada suatu ajaran maka orang tersebut akan bisa hidup dengan sempurna dalam ajaran itu. Semuanya tergantung pada kemampuan manusia yang mempercayainya.
Hanya Yesus yang bukan saja mengajarkan kebenaran tapi juga memberikan kuasa bagi barangsiapa yang percaya kepada-Nya untuk bisa hidup dalam kebenaran-Nya.

Raja menunjukkan orang yang berkuasa. Dan pengikutnya adalah orang yang mengakui adanya kuasa raja itu. Kuasa itu dinyatakan dengan perantara kata-kata atau perintah. Siapa yang mendengarkan kata-kata raja dan melakukannya berarti dia telah ‘dikuasai’ oleh raja itu dan berada dalam pemerintahannya. Ini berarti pula siapa yang kita dengarkan akan menentukan sikap dan keputusan hidup kita? Apa yang kita dengarkan? Bagaimana kita mendengarkannya? Semua itu akan menentukan hakekat diri kita sebenarnya.

Satu contoh: kita mungkin ga habis pikir dengan orang yang mau mencari kembang tujuh rupa untuk satu syarat tertentu yang disebutkan oleh dukun yang dipercayainya. Namun, intinya bukan pada kembang/bunga itu apakah memiliki kuasa atau tidak, tapi pada penundukan diri pada kemauan si dukun tersebut. Kalau seseorang sudah tunduk pada kemauannya itu berarti orang tersebut telah berada dalam kuasa dukun itu dan roh yang menguasainya.

Mari perhatikan bagaimana ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Awalnya, Iblis –yang menyatakan diri sebagai ular- menyatakan kepalsuan yaitu dengan memutarbalikkan kebenaran firman Tuhan.  Firman Tuhan dalam Kej 2 : 16b telah nyata : “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,..” tapi ular itu memutarbalikkan dengan berkata : “Tentulah Allah berfirman : Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kej 3 : 1b. Iblis adalah Pendusta. Apapun yang dikatakannya dusta (Yoh 8 : 44).

Nah, kesalahan pertama Hawa waktu itu adalah mendengarkan perkataan itu dan menanggapinya tanpa pertimbangan suaminya, yang pertama kali menerima firman itu. Dia terperangkap untuk ikut mengaburkan dan menambahkan kata “meraba” ketika semakin dibujuk oleh ular itu. Hawa melihat, memikirkan dan mengamini apa yang dikatakan oleh ular itu sehingga bertindak sendiri -tanpa pertimbangan Adam, suaminya- untuk mengambil dan memakan buah terlarang itu. Dan bukan hanya berhenti menjadi pengikut ular itu tapi juga memberikan buah itu pada suaminya untuk melakukannya juga.

Menerima dan memberikan kepada orang lain. Itu artinya menyerahkan diri pada kuasa Iblis untuk bertindak dosa –melawan hukum Tuhan. Semenjak itu, Iblis berkuasa terhadap manusia karena mereka mendengarkan suara Iblis dan melakukannya, bukan menolaknya. Iblis ‘merajai’ manusia.

Penerimaan terhadap kepalsuan inilah yang membuat manusia berdosa tidak dapat menerima kebenaran. Karena keduanya bertentangan. Kepalsuan hanya memunculkan kebenaran diri sendiri bukan kebenaran Allah. Kebenaran Allah menyatakan hidup didalam-Nya dan dalam pengaturan-Nya.  Sedangkan kebenaran diri sendiri menyatakan kebebasan tak bertanggung jawab hanya menuruti kemauan, ukuran dan pemahaman sendiri. Kebenaran diri sendiri dinyatakan oleh Adam dan Hawa dalam menyikapi keadaan dirinya setelah tahu mereka telanjang. Mereka menutupi ketelanjangan mereka itu dengan hanya menyematkan daun pohon ara dan membuatnya cawat (Kej 3 : 7). 

Ini membuktikan kebodohan manusia berdosa. Mereka mengatasi masalah dengan pemahaman mereka sendiri. Tanpa tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu tidaklah sempurna. Bila daun pohon ara dijadikan cawat maka fungsinya hanya sementara karena cepat rusak. Mereka harus membuatnya kembali. Berarti tak sempurna. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Allah dengan membuat pakaian dari kulit binatang yang lebih awet dan sempurna menutupi ketelanjangan tubuh mereka tak sekedar hanya menutupi kemaluan mereka (Kej 3:21). Meskipun untuk itu, Allah harus menumpahkan darah binatang itu. Inilah mengisyaratkan makna penebusan sesungguhnya. Perlu penumpahan darah.
           
Dalam penebusan, Allah melakukan dengan sempurna – didalam Kristus Yesus. Sedangkan manusia mencari jalannya sendiri untuk menebus dosa mereka. Banyak hal yang mereka lakukan dengan cara mengandalkan ritual, tata cara ibadah, hukum ini dan itu serta aturan penyucian diri yang hanya nampak luarnya saja tanpa bisa menyelesaikan masalah sesungguhnya yaitu pemberontakan terhadap pemerintahan Allah. Bersikap mampu mengatasi segala sesuatu sendiri adalah bukti keberdosaan manusia. Egois. Begitu banyak orang merasa dirinya saleh dan benar sehingga tak memerlukan penebusan. Menolak karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Mereka lebih mendengarkan suara hati mereka dan suara Iblis dalam menjalankan kehidupan ini.

Padahal dengan pemberontakan itu, manusia menjadi takut dekat dengan Allah dan bersembunyi. Rasa bersalah membelenggu mereka. Mereka membela diri dengan mengesampingkan tanggung jawab atas keputusan yang telah mereka ambil dengan melemparkan kesalahan pada orang lain dan yang membujuknya berbuat dosa. Rasa bersalah –yang tidak diatasi- akan menjebak manusia untuk ‘menutupi’ dosa dengan dosa yang lain. Tanpa penyelesaian berarti dan tuntas. Tidak ada kebenaran dalam rasa bersalah yang melumpuhkan itu. Oleh karena itu Ia menghukum manusia yang berdosa itu supaya menyadari akan kesalahan-kesalahannya. Hukuman Allah pun dihubungkan dengan apa yang telah mereka lakukan itu.

Ketika mereka menerima dengan mudahnya dan menyerah atas bujukan Iblis, maka hukuman manusia adalah kesulitan dan kesukaran (Kej 3 : 16-19). Penderitaan akibat dosa terjadi karena manusia tidak sanggup menolak kepalsuan yang ditawarkan Iblis, malah menerimanya dan menjadi hamba dosa. Seorang hamba harus melakukan kemauan tuannya. Jika tuannya yang suka akan kepalsuan maka hamba-hambanya pun melakukan hal yang sama.
Itulah kenapa, Iblis selalu menawarkan pada manusia jalan yang mudah dan malah menuju ke kebinasaan. Dan jalan Yesus, Sang Mesias adalah jalan salib (jalan sempit). Jalan salib telah dilakukan-Nya sebagai bagian untuk penebusan manusia dalam keberdosaannya dengan menanggung akibat dari dosa-dosanya itu. 


Nah, kebenaran Allah dalam Kristus Yesus itulah yang ditawarkan pada kita untuk kita percayai. Dengan ketaatan penuh, Yesus mau dan rela menanggung derita demi kehendak Bapa, Allah-Nya, untuk mengatasi pemberontakan kita terhadap Allah dan itu hanya Dia saja yang sanggup melakukan dengan sempurna sebab dia Anak Allah. Kesanggupan-Nya menanggung salib untuk menebus dosa kita menyadarkan kita akan kemampuan-Nya untuk bisa hidup bagi Allah dan setelah Dia mati di atas kayu salib, Dia bangkit membuktikan pembenaran diri-Nya di hadapan Allah.

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”. Yoh 1:12. Menerima diri Yesus juga berarti menerima kuasa-Nya. Yesus yang sanggup mengatasi dosa dan pencobaan memberikan kuasa yang sama juga bagi mereka yang menerima-Nya. Itulah makna kebenaran Kristus. Darah Kristus bukan saja menebus manusia berdosa dari murka Allah tapi juga berkuasa untuk memampukan orang yang menerima-Nya hidup dalam kebenaran (1 Pet 1:18-19). Hidup Kristus menjadi hidup kita. Tidak lagi menuruti dan mendengarkan si jahat dengan segala kepalsuannya tapi hidup bagi Allah. Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku, Yoh 18:37c.

Apakah kebenaran itu? Pertanyaan Pilatus itu seperti pertanyaan kebanyakan orang. Kebenaran seperti apa yang harus didengarkan? Kesangsian akan kebenaran yang dinyatakan oleh Allah sendiri melalui Anak-Nya dikarenakan masih ada selubung yang menutupi mata hati seseorang. Dengan adanya selubung itu, orang terhalang untuk melihat kebenaran. Tanpa disingkapkan maka orang tak akan percaya dan menerima kebenaran. 

Seringkali kita putus asa terhadap orang-orang yang menentang Injil dan kebenarannya. Bagaimana mereka yang telah nyata-nyata menerima pemberitaan Injil dan kebenarannya itu tak mau percaya? Malah menentangnya. Hal itu karena selubung yang menutupi mata mereka. Selubung itu berupa ilah-ilah zaman ini. “Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan maka selubung itu diambil daripadanya.” 2 Kor 3 : 16.

Hanya Roh Kudus yang sanggup membukakan selubung itu. Roh kudus adalah Roh kebenaran bertentangan dengan roh antikristus yang menyesatkan. Barangsiapa yang mendengarkan Roh Kudus, ia percaya akan karya penyelamatan Yesus Kristus diatas kayu salib untuk menebus dosa kita. Dan hanya oleh Roh Kuduslah, kita mengaku Yesus itu Tuhan (1 Kor 12:3). Itulah kasih karunia dimana semua karena Allahlah yang bekerja di dalam kita untuk menyelamatkan kita. Bukan berdasarkan kebenaran diri sendiri. Oleh karena itu, apabila kita menghendaki seseorang diselamatkan dan menerima kebenaran-Nya maka kita harus berdoa pada Allah yang sanggup menyelamatkan orang-orang tersesat dalam dosa. Tanpa itu, sia-sialah kita berusaha menyatakan dengan segala pemahaman dan pengetahuan tentang Injil Kristus.

Pekerjaan Iblis menentang manusia untuk menerima kebenaran. Karena kebenaran itu memerdekakan mereka (bandingkan dengan Yoh 8 : 32). Kesanggupan kita menolak bujuk rayu / hasutan Iblis untuk menentang pemerintahan Allah karena pengendalian diri yang juga adalah buah Roh. Kita tidak boleh tunduk kepada Iblis tapi tunduk kepada Allah. Bila kita tahu apa itu kebenaran maka kita pun akan tahu bagaimana sifat kepalsuan itu. Karena kepalsuan itu selalu bertolak belakang dengan kebenaran.

Lihat apa yang ditawarkan Iblis selalu bertentangan dengan Firman Allah. Pelacuran / percabulan bertentangan dengan penebusan. Melacur itu berarti menjual diri sedangkan penebusan itu berarti telah dibeli dan dibayar lunas. Melacur membuat diri tak berharga tapi oleh penebusan Kristus, kita menjadi berharga. Hawa nafsu duniawi bertentangan dengan jalan salib penderitaan Kristus. Jadi kita tak perlu mempelajari seluk-beluk Iblis untuk dapat mengetahui kejahatan itu tapi cukup dengan mengenal kebenaran itu sendiri maka kita akan tahu seperti apa si jahat itu dan segala perbuatannya. Karena mereka bertentangan.

Karena itu bagaimana kita akan bisa hidup dalam kebenaran? Kita harus mau dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan pimpinan Roh Kudus, kita akan menghasilkan buah Roh yang nyata dan memampukan kita untuk menolak segala tipu daya Iblis. Apabila roh jahat yang mengendalikan diri seseorang maka merusak dirinya dan hidupnya. Mencuri apa yang Tuhan karuniakan padanya, membunuh pikiran, perasaan dan kehendak untuk melakukan perbuatan baik serta membinasakan jiwanya karena menerima hukuman yang akan datang. 

Seringkali proses penginjilan disertai dengan pengusiran setan-setan. Hal itu untuk mempersiapkan jalan bagi Roh Kudus membuka hati seseorang untuk percaya pada Kristus Tuhan. Dalam Kitab Injil Markus, malahan penginjilan dan pengusiran setan senantiasa beriringan dan dinyatakan sebagai apa yang Tuhan Yesus lakukan. Pemahamannya adalah ketika kebenaran itu datang maka yang palsu itu akan menyingkir.
Namun demikian dalam Injil Markus, Tuhan Yesus menolak kesaksian roh-roh jahat tentang diri-Nya dan memperintahkan mereka diam (Mark 1:24-25 ; 5:7-8). Tuhan Yesus tidak mau membiarkan pengakuan roh-roh jahat itu sebagai dasar iman orang percaya pada-Nya. Meskipun roh-roh jahat itu tahu siapa sebenarnya Yesus sebagai Anak Allah. Kepalsuan tidak akan mungkin menjadi dasar bagi kesaksian kebenaran.

Inilah kenapa Rasul Yohanes dalam suratnya yang pertama mengingatkan kita untuk hidup dalam terang bukan di dalam kegelapan. Maksudnya adalah supaya kita hidup dalam pengakuan diri, terus terang, keterbukaan dan tidak ada yang ditutup-tutupi di hadapan Allah. Karena memang tak ada yang mungkin di sembunyikan dihadapan-Nya. Pengakuan kita akan keadaan kita yang berdosa menjadi dasar untuk kita bisa menerima pengampunan yang diberikan Allah dalam Yesus Kristus. Tanpa itu, kita berdusta baik terhadap diri sendiri maupun terhadap Allah. Bila kita berdusta maka kebenaran tak ada di dalam kita.
Demikian juga dengan pengakuan itu pula hendak menyatakan sungguh Yesus mati bagi kita dan kita menerima-Nya. Oleh karena itu, pemberitaan Injil senantiasa akan menantang orang yang mendengarnya untuk mengakui keberdosaan dirinya dan membawa orang itu pada pertobatan. Sebab Allahlah yang dalam Yesus Kristus yang sanggup menyucikan orang itu dari segala dosa dan kejahatan (1 Yoh 1:5-10).

Kebenaran itu akan memerdekakan kita dari rasa takut akan penghukuman yang akan datang karena Yesus Kristus sendiri telah menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Kebenaran itu memerdekakan kita dari rasa cemas akan kehidupan masa depan sebab Yesus telah bangkit dari antara orang mati dan hidup selamanya serta senantiasa jadi perantara kita. Dia telah menyelamatkan kita maka kita akan diselamatkan-Nya lagi.
Dia sanggup karena Dia berkuasa. Setelah Dia bangkit, segala kuasa di bumi dan di sorga ada di tangan-Nya (Mat 28:18). Itu berarti manusia yang telah ‘dirajai’ oleh Iblis semenjak Adam menyerah pada tipu dayanya dibebaskan oleh Kristus. Segala kuasa di bumi ada di tangan-Nya itu berarti Iblis telah dikalahkan. Kejahatannya telah dipatahkan kuasanya. Kegelapan disingkapkan oleh terang kebangkitan Kristus.

Sekarang ini yang terjadi adalah peperangan antara kebenaran Kristus yang menang dengan kepalsuan Iblis yang berusaha terus membuat manusia jatuh lagi ke dalam dosa. Peperangan ini telah dimenangkan oleh Kristus dan akan dimenangkan-Nya lagi. Bagi orang-orang percaya, kita telah lebih daripada pemenang karena kemenangan Kristuslah yang dianugerahkan pada kita (Rom 8:37).
Cara pandang ini akan membawa kita pada kehidupan berkemenangan. Tidak takut lagi pada si jahat dan digentarkan oleh kuasanya. Mereka telah kalah. Masakan kita akan menyerah pada roh-roh yang lemah itu dan yang telah dikalahkan? Bila mereka seakan-akan berkuasa maka kita tahu kuasanya itu terbatas dan tidak untuk selamanya. Itu penghiburan kita akan peperangan melawan kejahatan. Kejahatan telah dikalahkan oleh kebaikan Kristus dan akan dikalahkan lagi. Tinggal kita mau menjadi bagian yang mana? Mau jadi hamba kebenaran atau hamba kejahatan?

Septa Widodo Munadi, 
Ditulis pertama kali di Godong 30 Oktober 2010 selesai pk. 07.00
Dan disampaikan kembali dalam renungan di Kebaktian Doa di GKI Tegal
30 Oktober 2012 (pk.06.00 s.d. 06.40)


Lagu:  NKB 87 :1,3
       NKB 12 : 1-3


JUNJUNGAN YANG KUPILIh ( NKB 87)


1.        Junjungan yang kupilih, Yesusku Penebus.   Yang bangkit dari mati berkuasa seterus.
      Kendati banyak orang mengejek, mencela,   kuikut suaraNya lembut mesra.

Ref.
Benar, benarlah hidup Yesusku. Bersamaku di jalanku suaraNya kudengar
Benar, benarlah hidup Yesusku. Dimana Dia kudengar? Di dalam hatiku.

2.       Dimana, kapan saja kasihNyapun jelas. Di saat ‘ku gelisah dihiburku lekas.
      Di hujan, angin ribut, dipimpin langkahku’   ‘ku yakin, kami nanti ‘kan bertemu.

3.                   Menyanyilah umatNya, memuji Tuhanmu!
Nyanyikan Haleluya, agungkan Rajamu.
Harapan bagi orang yang mau mencariNya,
sebab Yesusmu hidup selamaNya.

o Tuhanku, ‘kau datang ke dunia (NKB 12)

1.                    O Tuhanku, ‘kau datang ke dunia, untuk menghapus dosa umatMu.
Bagai seekor rusa yang dahaga, padaMu, Tuhanku, merindu hatiku.
 
Ref.
Aku berserah, ya Tuhan, padaMu,
ku b’rikan bagiMu seluruh hidupku.
 
2.                   ‘Ku bersedih kar’na tekanan dosa dan jiwaku terkungkung dalam g’lap.
Kini berikan damai dan sentosa, tahirkan diriku dan dosa pun lenyap.
 
3.                   O Roh Kudus, berikanlah karunia, hancurkan kuasa setan dalamku.
Jadilah pandu dan terang s’lamanya dan bagi Tuhanku siapkan hatiku.
 
4.                   Bila kelak berakhirlah dunia, di sisiMu ‘ku akan berteduh.
Dan kini bak peronda yang berjaga, begitu jiwaku menanti datangMu.

Senin, 30 Desember 2013

Bercermin adalah Upaya untuk Koreksi Diri





Bahan Renungan: Matius 6:22-23 ; 7:1-5
Lagu:  NKB 126:1,2
       NKB 122:1,2 & 3


PENAYANGAN VIDEO


Watch How Boy Takes Harassment Revenge with a Girl in a Public Bus

Kesan apa yang Bapak/Ibu lihat dari tayang video tadi?
Coba perhatikan dalam video tersebut: ada seorang pemuda India yang sedang dalam sebuah bus tiba-tiba menerima tamparan dari seorang gadis di sebelahnya karena merasa dilecehkan. Bahkan orang-orang yang duduk mendukung tindakan gadis itu dan mempersalahkan pemuda itu.
Sesaat kemudian, keadaan berbalik ketika pemuda bergeser tempat berdirinya (dimana ia hendak turun) berada di depan gadis itu. Gantian pemuda itu yang menampar gadis itu karena menyentuh pemuda itu. Sebetulnya apa yang terjadi?
Apa benar itu semata-mata karena kesalahan pemuda itu sehingga menyentuh gadis itu?
Tapi kalau kita perhatikan, pemuda itu menyentuh gadis itu gara-gara bus itu mendadak mengerem sehingga pemuda itu terdorong ke depan menyentuh gadis itu. Saya pikir, pemuda itu tak bermaksud melecehkan gadis itu. Tapi ternyata hal itu tak dipedulikan gadis itu dan begitu cepat langsung menamparnya. Ketika keadaan berbalik, tak ada gunanya gadis itu minta maaf.

Dari tayangan itu kita dapat belajar bahwa seringkali kita cepat-cepat menghakimi orang lain yang melakukan kesalahan tanpa mempedulikan kesalahan itu karena apa? Apa murni kesengajaan orang atau karena memang keadaan yang mengakibatkan kesalahan itu…
Disini kita diminta untuk bijaksana menilai sesuatu, tidak terburu-buru atau terbawa emosi semata. Kita harus melihat sebuah permasalahan dengan jernih, jujur dan tidak memihak. Bukan didasari oleh keinginan untuk merasa diri lebih baik / lebih benar daripada orang lain.

Menilai suatu kesalahan atau kita sebut mengoreksi harus dipahami sebagai upaya untuk membetulkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Tujuannya jelas yaitu memperbaiki kesalahan bukan untuk mencari-cari kesalahan. Koreksi yang baik bukan saja melibatkan orang dalam (orang yang terlibat) tapi juga orang luar. Melalui koreksi ini, kita bisa melakukan evaluasi dan instropeksi.

Dengan evaluasi dan instropeksi, kita diharapkan dapat menentukan langkah selanjutnya yang terbaik yang dapat kita lakukan. Oleh karena itu, bagaimana kita sebaiknya memahami koreksi dari saudara-saudara yang lain? Koreksi harus kita pahami sebagai bentuk kepedulian orang lain pada diri kita meskipun kita sadar kadang cara pandang orang tentang sesuatu hal terbatas bahkan sempit sehingga salah mengartikan sesuatu dengan benar seperti video tadi. Tapi tokh, kita semestinya mau membuka diri untuk mau dikritik, diberi masukan dan saran agar apa yang telah kita lakukan sebelumnya menjadi lebih baik lagi.

Sekali lagi, tanpa koreksi, kita tidak akan tahu apakah kita telah melakukan kesalahan atau tidak. Justru dengan koreksi kita terhindar dari kesalahan yang lebih fatal. Oleh karena itu, kita tidak boleh cepat-cepat tersinggung apabila ada orang yang mau mengkritik atau memberi masukan pada kita. Malahan jadi PERINGATAN BAGI KITA apabila kita tidak pernah dikritik oleh orang lain. Itu berarti kita tak dipedulikan lagi, entah melakukan ini dan itu atau orang mulai bosan pada kita yang tidak mau dikritik. Ini berbahaya bagi kita.

Namun bila kita berada pada pihak orang yang harus memberikan kritik, itu haruslah didasari oleh ketulusan dan kemauan untuk mengoreksi diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum mengkritik orang lain. Jangan sampai kita jadi batu sandungan dimana orang enggan mendengarkan kita karena kritikan kita tidak sebanding tindakan yang kita lakukan artinya kita juga melakukan kesalahan yang sama yang tidak bisa kita atasi tapi dengan mudahnya mengkritik orang lain.

Tadi saya katakan koreksi membuahkan evaluasi dan intropeksi. Biasanya akhir tahun adalah saat yang tepat untuk evaluasi dan intropeksi diri. Semua itu bisa kita lakukan dengan secara katif menanyakan pendapat orang lain terhadap diri kita atas apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun ini atau kita merefleksikan semua yang pernah terjadi selama setahun ini dan belajar jujur apa yang kurang, yang belum atau tidak kita lakukan. Istilah mudahnya kita bercermin diri.

Tentang cermin, kita pernah dengar cerita dongeng tentang cermin ajaib.
Seorang ratu yang cantik selalu bertanya pada cermin ajaib,”Wahai cermin ajaib, siapakah di seluruh negeri ini yang paling cantik?”
Jawab cermin ajaib itu kepadanya,”Tidak ada yang lebih cantik daripada sang ratu sendiri.” Mendengar itu, tentulah sang Ratu sangat bangga.
Sampai suatu kali dia bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama, namun jawaban cermin ajaib,”Tidak ada yang lebih cantik daripada Putri Salju.” Sang Ratu bukan saja terkejut tapi berubah jadi marah tidak disangkanya ada orang yang lebih cantik daripada dirinya.
Tapi pertanyaannya kenapa harus marah? Apa hak dia untuk marah?
Sang ratu tidak mau ada yang lebih cantik daripada dirinya. Dan kita tahu kisah selanjutnya bahwa Sang Ratu mengupayakan agar menyingkirkan Putri Salju dari negeri itu.


Semula diawali dengan bercermin. Yach, dengan bercermin kita melihat keadaan kita yang sebenarnya. Yang suka berlama-lama bercermin adalah para wanita. Ini yang seringkali membuat bapak-bapak rada jengkel kok merias diri di depan cermin bisa begitu lama. Jadi tidak sabaran. Bercermin berarti melihat bayangan kita. Apa yang ditampilkan di cermin adalah pantulan dari apa yang ada dalam diri kita. Kalau kulit kita hitam akan terlihat hitam. Kalau ada jerawat, akan nampak jerawat pula. Semua lekuk tubuh dan paras muka kita akan terlihat seperti adanya kita. Cermin itu jujur. Menyatakan apa adanya.

Kita ingin menonjolkan hal-hal yang baik menurut kita dan menutupi kekurangan kita. Demikian juga setelah bercermin, orang tak akan begitu saja berlalu. Ada saja yang dilakukan. Kalau rambutnya acak-acakan maka akan disisir. Kalau ada jerawat dan ingin tetap tampil cantik maka akan ditutupi dengan polesan kosmetik yang lebih tebal. Biar kelihatan lebih menawan dikasih pewarna pipinya, bibirnya dikasih lipstik dan seterusnya.

Ada satu tindakan nyata setelah bercermin. Tidak tinggal diam saja. Demikian juga setelah mengoreksi diri maka akan ada perubahan yang seharusnya kita lakukan selanjutnya.
Saya pernah menyampaikan renungan tentang perubahan hidup Rasul Petrus dimana ia mau menerima koreksi dari Tuhan dan dengan rendah hati belajar untuk menerima keadaan dirinya yang pernah gagal itu sehingga dia mau menerima kembali kepercayaan dari Tuhan bahkan untuk menggembalakan jemaat-Nya.

Rasul Petrus adalah seorang Sanguin, seorang yang temperamennya meluap-luap dan sulit dikendalikan. Spontan. Lebih menonjol daripada rasul-rasul yang lain. Namun demikian ketika dia menemukan dirinya yang diperhadapkan Tuhan Yesus akan ingatan akan kesalahan masa lalunya, ia tak berhenti meratapi kesalahannya itu tapi melangkah maju menerima kepercayaan kembali dari Tuhan untuk sebuah tanggung jawab yang besar.

Bahkan di Surat Galatia, kita tahu Rasul Petrus pernah melakukan kesalahan dosa kemunafikan dimana ia mengundurkan diri dari persekutuan jemaat yang tidak bersunat setelah datang orang-orang yang bersunat. Kesalahannya itu ditegur keras oleh Rasul Paulus di depan jemaat disitu. Sebagai pemimpin jemaat, tentu tidaklah mudah ditegur di depan jemaatnya. Tapi saya kira Rasul Petrus bukanlah seorang pendendam yang mudah sakit hati ketika ada orang yang menegurnya. Ini terbukti di suratnya yang terakhir sebelum kematiannya, ia memuji Rasul Paulus yang telah bekerja keras bagi jemaat Kristen dan tulisan-tulisannya yang membangun jemaat.

Jadi melalui Rasul Petrus kita belajar menjadi pribadi yang besar yang mau dikoreksi dan belajar dari masa lalu bukan untuk diratapi tapi koreksi itu dipakai sebagai acuan agar tidak gagal lagi pada kesalahan yang sama. Dengan satu harapan bahwa selalu ada kemungkinan yang lebih baik di masa depan.
Masa depan ada dalam pandangan bahwa hidup ini bukan hanya berhenti pada kematian saja tapi terus berlanjut pada kehidupan kekal yang disediakan Allah bagi kita yang percaya pada Kristus. Dan apa yang telah kita lakukan di dunia ini nantinya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang menghakimi dengan adil dan benar.

Seorang yang mau dikoreksi adalah pribadi yang memandang hidup ini ada tujuannya dan tujuannya itu pasti dimana kehendak Allah boleh terjadi dalam hidupnya. Hidup ini bukan sesuatu yang kosong tanpa arah dimana berhenti pada kematian saja setelah itu ketiadaan. Bukan. Karena bila itu yang menjadi acuan maka orang akan dengan seenaknya menjalani hidup ini tanpa peduli aturan atau kepada sesamanya. Yang penting dirinya senang. Orang yang demikian tentulah tidak mau dikoreksi, baginya, dirinyalah yang paling benar.
Oleh karena itu, setelah kita melakukan koreksi diri haruslah dilanjutkan dengan tindakan nyata sebuah perubahan menjadi lebih baik.
Mari kita belajar bercermin diri dan berubah.
Selamat menyambut tahun baru 2014!
Tuhan memberkati. Amin.

Septa Widodo Munadi,
Kebaktian Doa Pagi GKI Tegal - 31 Desember 2013
Pk. 06.00 s.d. 06.45


NKB 126:

Tuhan memanggilmu

1.                Tuhan memanggilmu, hai dengarlah:
“Apapun yang terbaik ya b’rikanlah!”
Dan jangan kau kejar hormat semu,
muliakan saja Yesus Tuhanmu.

Ref.
Tiap karya diberkatiNya,
namun yang terbaik dimintaNya.
Walaupun tak besar talentamu,
b’ri yang terbaik kepada Tuhanmu.

2.                Sanjungan dunia jauhkanlah
dan jangan kaudengar godaannya.
Layani Tuhanmu dalam jerih
dalam hidupmu yang t’lah Kauberi.



NKB 122
                     KU INGIN BERPERANGAI

‘Ku ingin berperangai laksana Tuhanku,
lemah lembut dan ramah, dan manis budiku.
Tetapi sungguh sayang, ternyata ‘ku cemar.
Ya Tuhan, b’ri ku hati yang suci dan benar.

‘Ku ingin ikut Yesus, mencontoh kasihNya,
menghibur orang susah, menolong yang lemah.
Tetapi sungguh sayang ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ku hati yang suci dan benar.

Ya sungguh, Jurus’lamat, cemarlah hatiku,
dan hanya ‘Kau yang dapat menghapus dosaku,
Supaya k’lak di sorga kupandang wajah-Mu
dan aku jadi sama laksana diriMu.
 



Sabtu, 01 Juni 2013

Bukan Aku, Tapi Kristus





Bahan Renungan: Galatia 2: 15 - 21

Menjadi orang kedua tidaklah enak. Bukan yang utama / pertama. Bukan orang yang  menonjol atau populer. Kita bisa saja begitu bekerja keras menyelesaikan pekerjaan atau bagian kita tapi mungkin bisa jadi orang lain yang malah mendapatkan penghormatan atas apa yang telah kita upayakan / selesaikan. Menjadi pribadi yang seakan terabaikan / terpinggirkan / dilupakan.

Seorang Yohanes Pembaptis menjadi contoh yang kita kenal sebagai perintis jalan bagi datangnya sang Mesias. Dia berseru-seru pada semua orang untuk bertobat dan memberi diri dibaptis juga mewartakan akan datangnya Mesias yaitu Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah. Ketika pelayanan Yesus Kristus dan murid-muridNya makin besar. Dan banyak murid Yohanes pembaptis yang berubah menjadi pengikut Yesus.
Namun, alih-alih merasa tersaingi malahan Yohanes Pembaptis merasa bangga karena memang demikianlah tujuan pelayanannya yaitu untuk mengarahkan orang pada Kristus, itu adalah sukacitanya.

Berbesar hati ketika orang lain lebih menonjol adalah sikap yang tidak mementingkan diri sendiri. Keegoisan mampu dikalahkan oleh sikap kedewasaan yang mampu melihat kebaikan pada diri orang lain. Ini tidaklah mudah. Kita dari kecil telah terbiasa dengan pengajaran untuk meraih sesuatu, mencapai prestasi setinggi mungkin, mendapatkan lebih banyak dari apa yang ada sekarang.

Sebagai orang tua seringkali juga hal itu yang kita ajarkan pada anak-anak kita. Tuntutan yang begitu besar pada anak untuk bersaing dengan teman-temannya dengan peraihan nilai yang lebih dari yang lain. Jarang ada orang tua yang mengatakan:”Yach sudahlah, Nak, ga papa, kamu ga sepeti dia kok. Kamu special. Terima kamu apa adanya.”

Inipun yang akhirnya bisa saya mengerti kenapa ayah saya begitu kecewa pada saya yang gagal menyelesaikan kuliah. “Masakan kamu ga bisa lulus kuliah padahal sering menjadi Juara Kelas??”
Prestasi, prestasi, dan prestasi. Itu yang seringkali dituntut orang tua pada anak-anak. Tanpa peduli kalau anaknya itu sedang kepayahan atau merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang dia kejar. Bisa jadi seorang anak meraih prestasi dengan baik tapi itu mungkin itu adalah wujud dari ketakutannya pada orang tuanya saja.

Dalam pelayanan maupun di sebuah perusahaan seringkali tuntutan terbesar adalah prestasi, sebuah raihan atau pencapaian atas target atau terlaksananya program. Apabila kita terperosok pada tuntutan itu, maka kita hanya akan sekedar pada pelaksanaan program semata. Yang penting jalan. Yang penting ada kegiatan. Tidak ada spirit / semangat yang hidup dalam menjalani pelayanan atau bekerja di sebuah perusahaan. Kita bukanlah terdiri dari angka-angka yang menjelaskan arti diri kita. Tapi kita adalah pribadi yang berharga, yang unik di mata Tuhan.

Tuhan punya rencana yang unik bagi setiap kita. Jikalau Tuhan menempatkan kita dalam sebuah persekutuan jemaat, itu berarti kita diminta menyatakan makna hidup kita dalam persekutuan tersebut.
Pemberian diri dan hidup kita dengan segala apa yang bisa kita berikan untuk pembangunan jemaat menjadi satu hal berarti ketimbang kita dinilai hanya sebagai alat untuk pencapaian program atau sasaran yang telah ditetapkan di dalam jemaat.

Inipun seringkali menjadi pergumulan saya pribadi di GKI Tegal. Apakah ketika saya di sini, saya hanya akan dipandang sekedar sebagai seorang pekerja saja? Apa kontribusi yang bisa saya berikan untuk pembangunan jemaat? Apakah keterlibatan saya yang bisa memberikan andil di jemaat bukan semata-mata hanya sekedar menyelesaikan pekerjaan saya saja, itu cukup?


Ketika saya berada disini untuk memimpin Kebaktian Doa Pagi ini bukanlah karena mengajukan diri. Tapi pada waktu itu, saat kekurangan pemimpin KD pagi, mbak Prima mengajukan saya untuk juga dijadwalkan. Ini menjadi problem tersendiri bagi saya ketika saya harus berbagi iman dengan Bapak/Ibu disini karena umur saya masih jauh lebih muda dibandingkan yang hadir disini. Tidak mudah bagi saya. Lebih mudah kalau menyampaikan pelajaran Agama di SMU di Bogor dimana siswa-siswi jauh lebih muda dari saya. Namun ketika disini, saya menganggap Bapak/Ibu jauh memiliki pengalaman iman lebih daripada saya. Namun bila kesempatan ini diberikan, itu berarti saya pahami sebagai panggilan Tuhan untuk saya bisa memberikan kontribusi pada jemaat di sini.

Itulah kenapa juga saya tidak asal-asalan untuk menyampaikan renungan. Renungan yang saya bawakan haruslah menjadi perenungan atau pergumulan iman yang pernah saya alami bersama Tuhan. Bukan cuma pengetahuan semata yang bisa kita dapatkan dari buku atau internet. Tinggal membacakan.
Pernah suatu kali saya menghadapi masalah serius menjelang akan membawakan renungan. Dan saya konsultasikan ke Bu Pris, apakah saya lebih baik mengundurkan diri terlebih dahulu atau bagaimana? Beliau memberikan saran yang menurut saya bijaksana yaitu tetap lanjutkan saja, karena dengan berbagi pergumulan iman saya dalam menghadapi masalah itu akan menjadi kesaksian yang bisa menguatkan jemaat.

Ya, saya mengamini hal itu. Firman itu haruslah menjadi daging. Artinya apa yang Tuhan ajarkan pada kita haruslah mendarah-daging dalam hidup kita. Kita gumuli, kita renungkan apakah prisnsip-prinsip atau tingkah laku kita sudah sesuai dengan firman Tuhan atau belum? Mengapa belum? Mengapa tidak sesuai? Itulah yang kita cari penyebabnya. Kita bisa belajar dari orang lain. Kita bertanya. Kita mencari jawaban dan jalan keluar.

Karena satu hal yang harus tetap menjadi iman kita bersama bahwa kita harus mau mengubah diri dengan mengijinkan Roh Kudus bekerja mengubahkan kita. Karena bukan lagi diri kita sendiri yang ada tapi Hidup Kristus yang telah dianugerahkan kepada kita ketika kita percaya kepada-Nya. Perubahan itu adalah sebuah proses dan terus berkelanjutan. Kadang kita gagal hidup di dalam Tuhan. Kadang kita jatuh dalam dosa yang menjauhkan kita dari hadirat Tuhan.

Namun anugerah Tuhan jauh lebih besar daripada dosa-dosa kita. Anugerah-Nya penuh kuasa untuk menyelamatkan kita. Hidup Kristus itu akan terus mendorong kita untuk ke arah yang lebih baik dan meninggalkan kegelapan. Oleh karena itu, kita harus memberikan kesaksian yang jujur, yang apa adanya, yang tidak bisa ditutup-tutupi. Karena memang hidup Kristus itu seperti terang yang mengusir kegelapan.

Ini juga yang sering kali menjadi penghiburan bagi saya ketika jatuh. Saat dimana seakan tidak ada pertolongan, tidak ada harapan, tersesat. Dengan berseru kepada Tuhan, Dia tidak tinggal diam. Ada kekuatan yang bukan dari diri saya yang memampukan saya untuk bangkit dari keterpurukan. Seperti suatu energi baru untuk memampukan melangkah bahkan mampu mengatasi rasa bersalah yang melumpuhkan.

Kita mungkin akan lebih mendengarkan orang luar yang tidak kenal-mengenal dengan kita daripada dengan orang yang dekat dengan kita. Karena orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang kita tahu dan kenal tingkah lakunya. Seringkali kita cepat menghakimi apa yang disampaikannya atau mencibir “Akh, aku sudah tahu belangmu / kelemahanmu”. Tapi cobalah orang luar tersebut kita ajak masuk dalam persekutuan kita. Apakah nanti  respon kita akan sama dengan ketika pertama kali ia berbicara kepada kita? Saya tidak yakin akan sama.

Itu juga kenapa kita diminta untuk terus mendoakan pemimpin-pemimpin kita agar tidak menjadi batu sandungan. Agar mereka bisa memimpin dengan keteladanan yang baik yang menguatkan bukan malah melemahkan. Kita telah belajar banyak tentang hal tersebut.

Ini juga yang mungkin menjadi alasan banyak orang enggan untuk menjadi pemimpin. Tidak mau hidupnya disorot. Meminjam istilah Bu Elizabeth “Hidup di dalam rumah kaca”. Dipantau. Menjadi bahan omongan orang banyak.
Menjadi biasa-biasa saja jauh lebih nyaman. Saya perhatikan itu juga menjadi alasan penolakan orang untuk terlibat dalam pelayanan atau diminta untuk menjadi panitia. Akh, saya bukan orang yang baik-baik, masih banyak yang lebih baik daripada saya. Tidak mau ambil resiko.

Padahal entah sebagai jemaat biasa atau pemimpin jemaat, sama saja kita dipanggil untuk tetap menjadi saksi Kristus. Kita diminta menyatakan Kristus dalam hidup kita. Entah dalam masa sulit atau masa enak, entah waktu kita jatuh atau dalam kejayaan. Tuhan tetap dapat bekerja dalam segala perkara dalam hidup kita entah kita sadari atau tidak.

Maukah kita tetap hidup di dalam Tuhan atau menolak berproses bersama Dia?
Maukah kita dibentuk dalam Dia melalui persekutuan, pelayanan dan kesaksian kita dalam jemaat di sini?
Biarlah itu menjadi perenungan kita bersama. Amin.

Tegal, Septa Widodo Munadi
(disampaikan pada Kebaktian Doa Pagi @GKI Tegal - 22 Januari 2013)


Lagu:  NKB 21:1,2
       NKB 104:1,2


Ads Inside Post