Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Laman Utama

Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2015

Minta Dilayani Karena Melayani


#sebuahcatatankonyol

Seperti Kristus yang merendahkan diri dari surga mulia
menjadi manusia biasa untuk melayani manusia berdosa

demikian pula hendaknya kamu tahu
karena aku melayani...

Maka akupun harus terlebih dulu mulia untuk LAYAK melayani:
punya jabatan..
pekerjaan tetap yang pretisius..
paling tidak seorang dokter atau pengusaha
yang bukan karyawan biasa yang ecek-ecek
paling tidak punya rumah megah dan mobil mentereng
jadi PAS seperti Kristus yang mulia itu
RELA melayani yang rendahan seperti kamu...

Seperti Kristus yang rela berkurban bahkan diri-Nya sendiri
bagi orang-orang berdosa dengan merelakan nyawaNya
menjadi tebusan banyak orang..

demikian pula hendaknya kamu tahu
karena aku melayani...

Maka kamupun harus paham betapa besar PENGURBANAN
waktu, tenaga, uang, kesempatan, talenta,
yang tentunya tidak sedikit
Kamu pun harus MENGHARGAI pengurbananku itu
dan tidak menganggap enteng apa yang sudah kuberikan

Seperti bayi Kristus yang menerima mas, kemenyan dan mur
sebagai persembahan orang-orang majusi

demikian pula hendaknya kamu tahu
karena aku melayani...

Maka kamupun harus menyerahkan harta, pujian dan kemuliaan
untuk diriku yang susah payah melayanimu
karena itu memang hakku, dan karena untuk semua itu aku MAU
melayanimu...

Jumat, 21 November 2014

Kelayakan untuk Melayani Tuhan




"Samuel belum mengenal Tuhan ; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya." (1 Sam 3:10)
Terlibat pelayanan tapi belum tentu mengenal Tuhan dengan baik. Aneh ini. Tinggal di Bait Allah tapi tak mengenal Tuhan.
Tapi itu nyata terjadi pada kebanyakan orang Kristen. Itupun terjadi pada diriku. Sudah 4 tahun, Tapi bukannya aku malah jadi dekat dengan Tuhan malahan aku makin jauh dari Tuhan. Kerohanianku jadi kering. Spiritualitasku hambar. Nilai persekutuan dalam hidupku hanyalah sebagai ilusi.
Tak lagi kubisa mendengar suaraNya yang lembut menuntunku.
Tak mampu aku mendapatkan pencerahan hikmatNya yang menghiburku.
Entahlah, apakah karena aku berada pada posisi dimana aku melihat kenyataan yang tidak semestinya aku saksikan. Sesuatu yang ideal adalah hal yang hanya meluncur di atas mimbar tapi menjadi barang yang langka di tanah tempat firman itu berpijak. Jabatan dan status menjadi jauh lebih penting daripada karunia Tuhan itu sendiri. Uang telah membutakan banyak orang sehingga orang pun dinilai keberadaannya sesuai uang yang ada padanya. Memang uang adalah penukar suatu nilai.  Tapi masalah terjadi apabila menilai orang dengan uang itu.
Yang beruang itulah yang dilayani lebih. Yang tak beruang dijadikan obyek penderita penerima 'kasih' yang wajib bagi mereka. Yang beruang dijadikan subyek pemberi kasih, sedangkan yang tak beruang dijadikan obyek kasih. Hubungan yang demikian terjalin lama dan seakan sudah urat-mengurat. Tak ada itikad untuk memutus mata rantai itu malahan seperti dibudayakan.
Bahkan seseorang layak atau tidak untuk melayani itu tergantung seberapa dekat ia dengan nilai uang itu. Kalau kaya atau paling tidak pengusaha atau memiliki jabatan pretisius pastilah jabatan untuk melayani adalah sebuah 'kelayakan' baginya. Tak peduli ia bisa atau tidak. Ia dikarunia atau tidak. Ia mau atau terpaksa. Itu bukan soal yang utama. Intinya dan menjadi senjata pengancam:"Kamu telah diberkati Tuhan maka kamu pun harus melayani Tuhan".
Sungguh mengerikan memang. Tapi itulah yang terjadi. Sukacita kebersamaan adalah sebuah ilusi yang dibikin yang akhirnya dirasakan hambar. Karena ditaruh diatas pondasi yang rapuh. Mudah terbakar. Mudah hancur. Ide, kreatifitas, kepemimpinan, kelembutan, kecakapan, kebisaan, petunjuk dan keputusan adalah milik yang empunya kebijakan. Bagi mereka yang diberikan wewenang tak memiliki kebebasan untuk mempersembahkan karunia yang dimiliki dengan maksimal. Semua itu ada dalam takaran dan standar yang sudah ditentukan. Jadi bagi barang siapa yang melampaui standar itu berarti siap-siap didepak atau tak digunakan lagi. Karena tidak mau tunduk pada 'aturan' baku yang telah ditetapkan oleh sang empunya.
Situasi yang telah menjadi sistem yang mengikat itu menjadikan tata nilai tak berlaku.Yang berlaku adalah suka atau tidak suka. Pas atau tidak.
Selama 4 tahun ini pulalah aku tidak mengambil bagian dalam satu pelayanan pun. Aku hanya berkutat pada pekerjaan rutinku. Berada dalam kepanitiaan adalah keniscayaan yang tak perlu diimpikan lagi. Karena sikapku yang vokal dan tak mau tinggal diam melihat ketidakberesan membuat hal itu sebuah ketidaknyamanan bagi empunya. Padahal aku pernah melayani di Sekolah Minggu dan Remaja. Pun aku pernah mengajar agama di sekolah. Dan pengalaman pelayanan itu pun tak membuat seorangpun memintaku untuk melayani. Tokh juga aku belum berniat karena melihat ketimpangan yang ada. Mungkin tahun depan. Aku mau coba masuk dalam pelayanan Sekolah Minggu untuk Tunas Remaja. Sebetulnya aku mau masuk kembali di dunia Remaja, tapi kurasakan ada "sekat' yang begitu tebal yang sulit bagiku ku tembus.
Hari-hari ini, biarlah menjadi persiapanku untuk masuk dalam pelayanan. Aku tak mau talenta yang Tuhan karunia kepadaku terpendam di tanah dan menjadi bau. Tak berguna.
Meski aku tahu itu tak mudah melihat kenyataan yang ada. Aku harus berani mengambil sikap. Sikap yang tak mau hanyut pada kekecewaan melihat kenyataan yang ada. Bagaimana pun dan dimana pun pasti ada halangan untuk kita jalani hidup yang Tuhan kehendaki. Tapi semua itu tergantung kita. Apakah kita mau hanyut dan tenggelam dalam kepahitan ataukah bangkit dan melangkah untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi orang lain dan diri sendiri. Dan semua itu untuk kemuliaan Tuhan semata.

Kamis, 13 November 2014

Jangan Memandang Muka

 Aku banyak belajar banyak beberapa hari terakhir ini.
Kebiasaan tak serta merta sebagai hal yang biasa semata. Tapi itu hasil dari keputusan demi keputusan yang diambil. Meski keputusan itu seakan kecil tapi bisa berakibat besar.
Sikap sesorang bisa terlihat dari bagaimana ia mengambil keputusan. Menentukan ini boleh ada, yang itu tak boleh ada. Apakah yang ingin orang lihat dari keputusan demi keputusan itu akan mempengaruhi gambaran besar tentang siapa sebenarnya orang itu. Apakah orang akan melihatnya sebagai sosok yang baik-baik saja atau seorang pribadi yang apa adanya tanpa polesan atau pencitraan.

Kembali pada pembelajaran di atas. Memang mudah menyatakan kamu harus begini, kamu harus begitu. Tapi seringkali apa yang kita nyatakan itu dalam kenyataan sehari-hari bertolak-belakang. Tidak seperti adanya. Kita mudah mengajari orang untuk hidup mau peduli pada orang lain tapi kalau kenyataannya sendiri kita tak peduli atau tak mau memberikan waktu kita untuk peduli maka semua itu sama saja dengan omong kosong belaka.

Aku terhenyak ketika mendengar kesaksian seorang Ibu yang sudah 14 tahun hidup dalam kebersamaan di suatu komunitas tapi ternyata selama itu pula ia tak pernah dikunjungi ke rumahnya sekedar bertanya kabarnya. Kunjungan ke rumahnya ketika ada maksud untuk memberikan sesuatu kepadanya paling tidak 2 kali dalam setahun. Dia malah bertanya sebetulnya kapan saja ia seharusnya dikunjungi. Kalau Ibu itu bukan orang tak mampu dan "harus" mendapatkan "berkah" itu maka ia pun sama sekali tak akan dikunjungi. Tapi apakah "syarat"nya adalah karena kumpulan 'berkah' itu sebagai alasan?

Ah, aku melihat diriku sendiri. Aku pun berkunjung karena ada alasan. Ada sesuatu yang kubawa yang harus kusampaikan ke mereka. Aku tak pandai basa-basi ngobrol membuka pembicaraan. Mungkin pada orang-orang yang dekatku, barulah aku bisa ngobrol santai. Tapi bagi mereka yang mengharapkan sentuhan dari seseorang yang rohani tentu saja mereka mengharapkan sentuhan kejiwaan melalui lawatan. Itu artinya mereka dianggap berarti bukan karena mereka telah melakukan banyak hal atau karena mereka sebagai "obyek penerima berkah".

Ketika aku menilai orang lain tak mampu melawat, berarti juga aku pun sebetulnya juga tak mampu. Memang itu bukan pekerjaan mudah. Seringkali kita "melawat" orang yang berkecukupan atau mapan hidupnya. Kalau kita bersama mereka itu berarti pula status kita pun terangkat. Kalau cara pikir kita seperti itu maka apalah arti kasih Kristus yang kita kenal sebagai pendobrak batas yang memisahkan dua pihak. Yesus pun telah menghancurkan tembok itu, mengapa kita malah mendirikan tembok itu?

Kita bisa mudah mengajarkan kasih Kristus yang tak memandang muka tapi kalau kita sendiri memandang muka apalah artinya pengajaran kita itu?

Ads Inside Post