Welcome to Widodo's Blog

Membaca untuk mengambil hikmat
Merenung agar bisa lebih bijak
Memahami supaya tak salah menerima

Laman Utama

Sabtu, 01 Juni 2013

Bukan Aku, Tapi Kristus





Bahan Renungan: Galatia 2: 15 - 21

Menjadi orang kedua tidaklah enak. Bukan yang utama / pertama. Bukan orang yang  menonjol atau populer. Kita bisa saja begitu bekerja keras menyelesaikan pekerjaan atau bagian kita tapi mungkin bisa jadi orang lain yang malah mendapatkan penghormatan atas apa yang telah kita upayakan / selesaikan. Menjadi pribadi yang seakan terabaikan / terpinggirkan / dilupakan.

Seorang Yohanes Pembaptis menjadi contoh yang kita kenal sebagai perintis jalan bagi datangnya sang Mesias. Dia berseru-seru pada semua orang untuk bertobat dan memberi diri dibaptis juga mewartakan akan datangnya Mesias yaitu Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah. Ketika pelayanan Yesus Kristus dan murid-muridNya makin besar. Dan banyak murid Yohanes pembaptis yang berubah menjadi pengikut Yesus.
Namun, alih-alih merasa tersaingi malahan Yohanes Pembaptis merasa bangga karena memang demikianlah tujuan pelayanannya yaitu untuk mengarahkan orang pada Kristus, itu adalah sukacitanya.

Berbesar hati ketika orang lain lebih menonjol adalah sikap yang tidak mementingkan diri sendiri. Keegoisan mampu dikalahkan oleh sikap kedewasaan yang mampu melihat kebaikan pada diri orang lain. Ini tidaklah mudah. Kita dari kecil telah terbiasa dengan pengajaran untuk meraih sesuatu, mencapai prestasi setinggi mungkin, mendapatkan lebih banyak dari apa yang ada sekarang.

Sebagai orang tua seringkali juga hal itu yang kita ajarkan pada anak-anak kita. Tuntutan yang begitu besar pada anak untuk bersaing dengan teman-temannya dengan peraihan nilai yang lebih dari yang lain. Jarang ada orang tua yang mengatakan:”Yach sudahlah, Nak, ga papa, kamu ga sepeti dia kok. Kamu special. Terima kamu apa adanya.”

Inipun yang akhirnya bisa saya mengerti kenapa ayah saya begitu kecewa pada saya yang gagal menyelesaikan kuliah. “Masakan kamu ga bisa lulus kuliah padahal sering menjadi Juara Kelas??”
Prestasi, prestasi, dan prestasi. Itu yang seringkali dituntut orang tua pada anak-anak. Tanpa peduli kalau anaknya itu sedang kepayahan atau merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang dia kejar. Bisa jadi seorang anak meraih prestasi dengan baik tapi itu mungkin itu adalah wujud dari ketakutannya pada orang tuanya saja.

Dalam pelayanan maupun di sebuah perusahaan seringkali tuntutan terbesar adalah prestasi, sebuah raihan atau pencapaian atas target atau terlaksananya program. Apabila kita terperosok pada tuntutan itu, maka kita hanya akan sekedar pada pelaksanaan program semata. Yang penting jalan. Yang penting ada kegiatan. Tidak ada spirit / semangat yang hidup dalam menjalani pelayanan atau bekerja di sebuah perusahaan. Kita bukanlah terdiri dari angka-angka yang menjelaskan arti diri kita. Tapi kita adalah pribadi yang berharga, yang unik di mata Tuhan.

Tuhan punya rencana yang unik bagi setiap kita. Jikalau Tuhan menempatkan kita dalam sebuah persekutuan jemaat, itu berarti kita diminta menyatakan makna hidup kita dalam persekutuan tersebut.
Pemberian diri dan hidup kita dengan segala apa yang bisa kita berikan untuk pembangunan jemaat menjadi satu hal berarti ketimbang kita dinilai hanya sebagai alat untuk pencapaian program atau sasaran yang telah ditetapkan di dalam jemaat.

Inipun seringkali menjadi pergumulan saya pribadi di GKI Tegal. Apakah ketika saya di sini, saya hanya akan dipandang sekedar sebagai seorang pekerja saja? Apa kontribusi yang bisa saya berikan untuk pembangunan jemaat? Apakah keterlibatan saya yang bisa memberikan andil di jemaat bukan semata-mata hanya sekedar menyelesaikan pekerjaan saya saja, itu cukup?


Ketika saya berada disini untuk memimpin Kebaktian Doa Pagi ini bukanlah karena mengajukan diri. Tapi pada waktu itu, saat kekurangan pemimpin KD pagi, mbak Prima mengajukan saya untuk juga dijadwalkan. Ini menjadi problem tersendiri bagi saya ketika saya harus berbagi iman dengan Bapak/Ibu disini karena umur saya masih jauh lebih muda dibandingkan yang hadir disini. Tidak mudah bagi saya. Lebih mudah kalau menyampaikan pelajaran Agama di SMU di Bogor dimana siswa-siswi jauh lebih muda dari saya. Namun ketika disini, saya menganggap Bapak/Ibu jauh memiliki pengalaman iman lebih daripada saya. Namun bila kesempatan ini diberikan, itu berarti saya pahami sebagai panggilan Tuhan untuk saya bisa memberikan kontribusi pada jemaat di sini.

Itulah kenapa juga saya tidak asal-asalan untuk menyampaikan renungan. Renungan yang saya bawakan haruslah menjadi perenungan atau pergumulan iman yang pernah saya alami bersama Tuhan. Bukan cuma pengetahuan semata yang bisa kita dapatkan dari buku atau internet. Tinggal membacakan.
Pernah suatu kali saya menghadapi masalah serius menjelang akan membawakan renungan. Dan saya konsultasikan ke Bu Pris, apakah saya lebih baik mengundurkan diri terlebih dahulu atau bagaimana? Beliau memberikan saran yang menurut saya bijaksana yaitu tetap lanjutkan saja, karena dengan berbagi pergumulan iman saya dalam menghadapi masalah itu akan menjadi kesaksian yang bisa menguatkan jemaat.

Ya, saya mengamini hal itu. Firman itu haruslah menjadi daging. Artinya apa yang Tuhan ajarkan pada kita haruslah mendarah-daging dalam hidup kita. Kita gumuli, kita renungkan apakah prisnsip-prinsip atau tingkah laku kita sudah sesuai dengan firman Tuhan atau belum? Mengapa belum? Mengapa tidak sesuai? Itulah yang kita cari penyebabnya. Kita bisa belajar dari orang lain. Kita bertanya. Kita mencari jawaban dan jalan keluar.

Karena satu hal yang harus tetap menjadi iman kita bersama bahwa kita harus mau mengubah diri dengan mengijinkan Roh Kudus bekerja mengubahkan kita. Karena bukan lagi diri kita sendiri yang ada tapi Hidup Kristus yang telah dianugerahkan kepada kita ketika kita percaya kepada-Nya. Perubahan itu adalah sebuah proses dan terus berkelanjutan. Kadang kita gagal hidup di dalam Tuhan. Kadang kita jatuh dalam dosa yang menjauhkan kita dari hadirat Tuhan.

Namun anugerah Tuhan jauh lebih besar daripada dosa-dosa kita. Anugerah-Nya penuh kuasa untuk menyelamatkan kita. Hidup Kristus itu akan terus mendorong kita untuk ke arah yang lebih baik dan meninggalkan kegelapan. Oleh karena itu, kita harus memberikan kesaksian yang jujur, yang apa adanya, yang tidak bisa ditutup-tutupi. Karena memang hidup Kristus itu seperti terang yang mengusir kegelapan.

Ini juga yang sering kali menjadi penghiburan bagi saya ketika jatuh. Saat dimana seakan tidak ada pertolongan, tidak ada harapan, tersesat. Dengan berseru kepada Tuhan, Dia tidak tinggal diam. Ada kekuatan yang bukan dari diri saya yang memampukan saya untuk bangkit dari keterpurukan. Seperti suatu energi baru untuk memampukan melangkah bahkan mampu mengatasi rasa bersalah yang melumpuhkan.

Kita mungkin akan lebih mendengarkan orang luar yang tidak kenal-mengenal dengan kita daripada dengan orang yang dekat dengan kita. Karena orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang kita tahu dan kenal tingkah lakunya. Seringkali kita cepat menghakimi apa yang disampaikannya atau mencibir “Akh, aku sudah tahu belangmu / kelemahanmu”. Tapi cobalah orang luar tersebut kita ajak masuk dalam persekutuan kita. Apakah nanti  respon kita akan sama dengan ketika pertama kali ia berbicara kepada kita? Saya tidak yakin akan sama.

Itu juga kenapa kita diminta untuk terus mendoakan pemimpin-pemimpin kita agar tidak menjadi batu sandungan. Agar mereka bisa memimpin dengan keteladanan yang baik yang menguatkan bukan malah melemahkan. Kita telah belajar banyak tentang hal tersebut.

Ini juga yang mungkin menjadi alasan banyak orang enggan untuk menjadi pemimpin. Tidak mau hidupnya disorot. Meminjam istilah Bu Elizabeth “Hidup di dalam rumah kaca”. Dipantau. Menjadi bahan omongan orang banyak.
Menjadi biasa-biasa saja jauh lebih nyaman. Saya perhatikan itu juga menjadi alasan penolakan orang untuk terlibat dalam pelayanan atau diminta untuk menjadi panitia. Akh, saya bukan orang yang baik-baik, masih banyak yang lebih baik daripada saya. Tidak mau ambil resiko.

Padahal entah sebagai jemaat biasa atau pemimpin jemaat, sama saja kita dipanggil untuk tetap menjadi saksi Kristus. Kita diminta menyatakan Kristus dalam hidup kita. Entah dalam masa sulit atau masa enak, entah waktu kita jatuh atau dalam kejayaan. Tuhan tetap dapat bekerja dalam segala perkara dalam hidup kita entah kita sadari atau tidak.

Maukah kita tetap hidup di dalam Tuhan atau menolak berproses bersama Dia?
Maukah kita dibentuk dalam Dia melalui persekutuan, pelayanan dan kesaksian kita dalam jemaat di sini?
Biarlah itu menjadi perenungan kita bersama. Amin.

Tegal, Septa Widodo Munadi
(disampaikan pada Kebaktian Doa Pagi @GKI Tegal - 22 Januari 2013)


Lagu:  NKB 21:1,2
       NKB 104:1,2


Selasa, 16 April 2013

Kebenaran Kristus versus Kepalsuan Iblis



 Bahan Renungan: Yoh 18 : 33 - 40


“Apakah Kebenaran itu?”
Pertanyaan menggantung dari Pilatus pada Yesus itu dinyatakan  ketika ia mengadili Yesus setelah diserahkan oleh orang-orang Yahudi (Yoh 18:38a). Dia tak menunggu jawaban Yesus. Dia lanjutkan dengan tindakan sendiri yang menurutnya benar untuk berusaha ‘menyelamatkan’ Yesus yang tidak didapati melakukan satu kesalahan pun. Dia bertindak demikian seakan-akan dia berkuasa atas diri Yesus dengan menawarkan pilihan untuk ‘membebaskan’ Yesus. Namun ternyata apa yang dilakukannya itu malah ditolak oleh orang-orang Yahudi. Dan mereka lebih memilih Barabas, seorang penyamun yang nyata-nyata seorang penjahat. Mereka tidak mau menerima Yesus sebagai Raja dan menganggap-Nya sebagai penjahat yang ‘layak’ untuk disalibkan. 

Yesus telah banyak berbuat baik dan menunjukkan kasih-Nya pada orang-orang Yahudi dengan menyembuhkan orang-orang sakit dan mengusir setan-setan. Namun mereka tetap menolak-Nya. Yesus telah memberikan kesaksian yang baik melalui perkataan maupun perbuatan-Nya dan apa yang disaksikan-Nya itu adalah kebenaran. Dan orang-orang yang menerima-Nya adalah orang-orang yang mau percaya pada kebenaran yang disaksikan-Nya itu.



Menerima adalah kata kunci untuk percaya. Dengan menerima, kita mendapatkan apa yang diberikan oleh Yesus. Jika Yesus adalah Raja yang menyaksikan kebenaran (Yoh 18:37) maka apa yang kita terima adalah kuasa untuk hidup dalam kebenaran itu. Inilah yang membedakan Yesus dengan pemimpin agama lain. Tak ada seorang pun yang berani menjamin orang yang percaya pada suatu ajaran maka orang tersebut akan bisa hidup dengan sempurna dalam ajaran itu. Semuanya tergantung pada kemampuan manusia yang mempercayainya.
Hanya Yesus yang bukan saja mengajarkan kebenaran tapi juga memberikan kuasa bagi barangsiapa yang percaya kepada-Nya untuk bisa hidup dalam kebenaran-Nya.

Raja menunjukkan orang yang berkuasa. Dan pengikutnya adalah orang yang mengakui adanya kuasa raja itu. Kuasa itu dinyatakan dengan perantara kata-kata atau perintah. Siapa yang mendengarkan kata-kata raja dan melakukannya berarti dia telah ‘dikuasai’ oleh raja itu dan berada dalam pemerintahannya. Ini berarti pula siapa yang kita dengarkan akan menentukan sikap dan keputusan hidup kita? Apa yang kita dengarkan? Bagaimana kita mendengarkannya? Semua itu akan menentukan hakekat diri kita sebenarnya.
Satu contoh: kita mungkin ga habis pikir dengan orang yang mau mencari kembang tujuh rupa untuk satu syarat tertentu yang disebutkan oleh dukun yang dipercayainya. Namun, intinya bukan pada kembang/bunga itu apakah memiliki kuasa atau tidak, tapi pada penundukan diri pada kemauan si dukun tersebut. Kalau seseorang sudah tunduk pada kemauannya itu berarti orang tersebut telah berada dalam kuasa dukun itu dan roh yang menguasainya.

Mari perhatikan bagaimana ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Awalnya, Iblis –yang menyatakan diri sebagai ular- menyatakan kepalsuan yaitu dengan memutarbalikkan kebenaran firman Tuhan.  Firman Tuhan dalam Kej 2 : 16b telah nyata : “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,..” tapi ular itu memutarbalikkan dengan berkata : “Tentulah Allah berfirman : Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kej 3 : 1b. Iblis adalah Pendusta. Apapun yang dikatakannya dusta (Yoh 8 : 44).

Nah, kesalahan pertama Hawa waktu itu adalah mendengarkan perkataan itu dan menanggapinya tanpa pertimbangan suaminya, yang pertama kali menerima firman itu. Dia terperangkap untuk ikut mengaburkan dan menambahkan kata “meraba” ketika semakin dibujuk oleh ular itu. Hawa melihat, memikirkan dan mengamini apa yang dikatakan oleh ular itu sehingga bertindak sendiri -tanpa pertimbangan Adam, suaminya- untuk mengambil dan memakan buah terlarang itu. Dan bukan hanya berhenti menjadi pengikut ular itu tapi juga memberikan buah itu pada suaminya untuk melakukannya juga.

Menerima dan memberikan kepada orang lain. Itu artinya menyerahkan diri pada kuasa Iblis untuk bertindak dosa –melawan hukum Tuhan. Semenjak itu Iblis berkuasa terhadap manusia karena mereka mendengarkan suara Iblis dan melakukannya, bukan menolaknya. Iblis ‘merajai’ manusia.
Penerimaan terhadap kepalsuan inilah yang membuat manusia berdosa tidak dapat menerima kebenaran. Karena keduanya bertentangan. Kepalsuan hanya memunculkan kebenaran diri sendiri bukan kebenaran Allah. Kebenaran Allah menyatakan hidup didalam-Nya dan dalam pengaturan-Nya.  Sedangkan kebenaran diri sendiri menyatakan kebebasan tak bertanggung jawab hanya menuruti kemauan, ukuran dan pemahaman sendiri. Kebenaran diri sendiri dinyatakan oleh Adam dan Hawa dalam menyikapi keadaan dirinya setelah tahu mereka telanjang. Mereka menutupi ketelanjangan mereka itu dengan hanya menyematkan daun pohon ara dan membuatnya cawat (Kej 3 : 7). 

Ini membuktikan kebodohan manusia berdosa. Mereka mengatasi masalah dengan pemahaman mereka sendiri. Tanpa tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu tidaklah sempurna. Bila daun pohon ara dijadikan cawat maka fungsinya hanya sementara karena cepat rusak. Mereka harus membuatnya kembali. Berarti tak sempurna. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Allah dengan membuat pakaian dari kulit binatang yang lebih awet dan sempurna menutupi ketelanjangan tubuh mereka tak sekedar hanya menutupi kemaluan mereka (Kej 3:21). Meskipun untuk itu, Allah harus menumpahkan darah binatang itu. Inilah mengisyaratkan makna penebusan sesungguhnya. Perlu penumpahan darah.
           
Dalam penebusan, Allah melakukan dengan sempurna – didalam Kristus Yesus. Sedangkan manusia mencari jalannya sendiri untuk menebus dosa mereka. Banyak hal yang mereka lakukan dengan cara mengandalkan ritual, tata cara ibadah, hukum ini dan itu serta aturan penyucian diri yang hanya nampak luarnya saja tanpa bisa menyelesaikan masalah sesungguhnya yaitu pemberontakan terhadap pemerintahan Allah. Bersikap mampu mengatasi segala sesuatu sendiri adalah bukti keberdosaan manusia. Egois. Begitu banyak orang merasa dirinya saleh dan benar sehingga tak memerlukan penebusan. Menolak karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Mereka lebih mendengarkan suara hati mereka dan suara Iblis dalam menjalankan kehidupan ini.

Padahal dengan pemberontakan itu, manusia menjadi takut dekat dengan Allah dan bersembunyi. Rasa bersalah membelenggu mereka. Mereka membela diri dengan mengesampingkan tanggung jawab atas keputusan yang telah mereka ambil dengan melemparkan kesalahan pada orang lain dan yang membujuknya berbuat dosa. Rasa bersalah –yang tidak diatasi- akan menjebak manusia untuk ‘menutupi’ dosa dengan dosa yang lain. Tanpa penyelesaian berarti dan tuntas. Tidak ada kebenaran dalam rasa bersalah yang melumpuhkan itu. Oleh karena itu Ia menghukum manusia yang berdosa itu supaya menyadari akan kesalahan-kesalahannya. Hukuman Allah pun dihubungkan dengan apa yang telah mereka lakukan itu.

Ketika mereka menerima dengan mudahnya dan menyerah atas bujukan Iblis, maka hukuman manusia adalah kesulitan dan kesukaran (Kej 3 : 16-19). Penderitaan akibat dosa terjadi karena manusia tidak sanggup menolak kepalsuan yang ditawarkan Iblis, malah menerimanya dan menjadi hamba dosa. Seorang hamba harus melakukan kemauan tuannya. Jika tuannya yang suka akan kepalsuan maka hamba-hambanya pun melakukan hal yang sama.
Itulah kenapa, Iblis selalu menawarkan pada manusia jalan yang mudah dan malah menuju ke kebinasaan. Dan jalan Yesus, Sang Mesias adalah jalan salib (jalan sempit). Jalan salib telah dilakukan-Nya sebagai bagian untuk penebusan manusia dalam keberdosaannya dengan menanggung akibat dari dosa-dosanya itu. 

Nah, kebenaran Allah dalam Kristus Yesus itulah yang ditawarkan pada kita untuk kita percayai. Dengan ketaatan penuh, Yesus mau dan rela menanggung derita demi kehendak Bapa, Allah-Nya, untuk mengatasi pemberontakan kita terhadap Allah dan itu hanya Dia saja yang sanggup melakukan dengan sempurna sebab dia Anak Allah. Kesanggupan-Nya menanggung salib untuk menebus dosa kita menyadarkan kita akan kemampuan-Nya untuk bisa hidup bagi Allah dan setelah Dia mati di atas kayu salib, Dia bangkit membuktikan pembenaran diri-Nya di hadapan Allah.

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”. Yoh 1:12. Menerima diri Yesus juga berarti menerima kuasa-Nya. Yesus yang sanggup mengatasi dosa dan pencobaan memberikan kuasa yang sama juga bagi mereka yang menerima-Nya. Itulah makna kebenaran Kristus. Darah Kristus bukan saja menebus manusia berdosa dari murka Allah tapi juga berkuasa untuk memampukan orang yang menerima-Nya hidup dalam kebenaran (1 Pet 1:18-19). Hidup Kristus menjadi hidup kita. Tidak lagi menuruti dan mendengarkan si jahat dengan segala kepalsuannya tapi hidup bagi Allah. Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku, Yoh 18:37c

Apakah kebenaran itu? Pertanyaan Pilatus itu seperti pertanyaan kebanyakan orang. Kebenaran seperti apa yang harus didengarkan? Kesangsian akan kebenaran yang dinyatakan oleh Allah sendiri melalui Anak-Nya dikarenakan masih ada selubung yang menutupi mata hati seseorang. Dengan adanya selubung itu, orang terhalang untuk melihat kebenaran. Tanpa disingkapkan maka orang tak akan percaya dan menerima kebenaran.
Seringkali kita putus asa terhadap orang-orang yang menentang Injil dan kebenarannya. Bagaimana mereka yang telah nyata-nyata menerima pemberitaan Injil dan kebenarannya itu tak mau percaya? Malah menentangnya. Hal itu karena selubung yang menutupi mata mereka. Selubung itu berupa ilah-ilah zaman ini. “Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan maka selubung itu diambil daripadanya.” 2 Kor 3 : 16.

Hanya Roh Kudus yang sanggup membukakan selubung itu. Roh kudus adalah Roh kebenaran bertentangan dengan roh antikristus yang menyesatkan. Barangsiapa yang mendengarkan Roh Kudus, ia percaya akan karya penyelamatan Yesus Kristus diatas kayu salib untuk menebus dosa kita. Dan hanya oleh Roh Kuduslah, kita mengaku Yesus itu Tuhan (1 Kor 12:3). Itulah kasih karunia dimana semua karena Allahlah yang bekerja di dalam kita untuk menyelamatkan kita. Bukan berdasarkan kebenaran diri sendiri. Oleh karena itu, apabila kita menghendaki seseorang diselamatkan dan menerima kebenaran-Nya maka kita harus berdoa pada Allah yang sanggup menyelamatkan orang-orang tersesat dalam dosa. Tanpa itu, sia-sialah kita berusaha menyatakan dengan segala pemahaman dan pengetahuan tentang Injil Kristus.

Pekerjaan Iblis menentang manusia untuk menerima kebenaran. Karena kebenaran itu memerdekakan mereka (bandingkan dengan Yoh 8 : 32). Kesanggupan kita menolak bujuk rayu / hasutan Iblis untuk menentang pemerintahan Allah karena pengendalian diri yang juga adalah buah Roh. Kita tidak boleh tunduk kepada Iblis tapi tunduk kepada Allah. Bila kita tahu apa itu kebenaran maka kita pun akan tahu bagaimana sifat kepalsuan itu. Karena kepalsuan itu selalu bertolak belakang dengan kebenaran.

Lihat apa yang ditawarkan Iblis selalu bertentangan dengan Firman Allah. Pelacuran / percabulan bertentangan dengan penebusan. Melacur itu berarti menjual diri sedangkan penebusan itu berarti telah dibeli dan dibayar lunas. Melacur membuat diri tak berharga tapi oleh penebusan Kristus, kita menjadi berharga. Hawa nafsu duniawi bertentangan dengan jalan salib penderitaan Kristus. Jadi kita tak perlu mempelajari seluk-beluk Iblis untuk dapat mengetahui kejahatan itu tapi cukup dengan mengenal kebenaran itu sendiri maka kita akan tahu seperti apa si jahat itu dan segala perbuatannya. Karena mereka bertentangan.

Karena itu bagaimana kita akan bisa hidup dalam kebenaran? Kita harus mau dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan pimpinan Roh Kudus, kita akan menghasilkan buah Roh yang nyata dan memampukan kita untuk menolak segala tipu daya Iblis. Apabila roh jahat yang mengendalikan diri seseorang maka merusak dirinya dan hidupnya. Mencuri apa yang Tuhan karuniakan padanya, membunuh pikiran, perasaan dan kehendak untuk melakukan perbuatan baik serta membinasakan jiwanya karena menerima hukuman yang akan datang.
Seringkali proses penginjilan disertai dengan pengusiran setan-setan. Hal itu untuk mempersiapkan jalan bagi Roh Kudus membuka hati seseorang untuk percaya pada Kristus Tuhan. Dalam Kitab Injil Markus, malahan penginjilan dan pengusiran setan senantiasa beriringan dan dinyatakan sebagai apa yang Tuhan Yesus lakukan. Pemahamannya adalah ketika kebenaran itu datang maka yang palsu itu akan menyingkir.
Namun demikian dalam Injil Markus, Tuhan Yesus menolak kesaksian roh-roh jahat tentang diri-Nya dan memperintahkan mereka diam (Mark 1:24-25 ; 5:7-8). Tuhan Yesus tidak mau membiarkan pengakuan roh-roh jahat itu sebagai dasar iman orang percaya pada-Nya. Meskipun roh-roh jahat itu tahu siapa sebenarnya Yesus sebagai Anak Allah. Kepalsuan tidak akan mungkin menjadi dasar bagi kesaksian kebenaran.

Inilah kenapa Rasul Yohanes dalam suratnya yang pertama mengingatkan kita untuk hidup dalam terang bukan di dalam kegelapan. Maksudnya adalah supaya kita hidup dalam pengakuan diri, terus terang, keterbukaan dan tidak ada yang ditutup-tutupi di hadapan Allah. Karena memang tak ada yang mungkin di sembunyikan dihadapan-Nya. Pengakuan kita akan keadaan kita yang berdosa menjadi dasar untuk kita bisa menerima pengampunan yang diberikan Allah dalam Yesus Kristus. Tanpa itu, kita berdusta baik terhadap diri sendiri maupun terhadap Allah. Bila kita berdusta maka kebenaran tak ada di dalam kita.
Demikian juga dengan pengakuan itu pula hendak menyatakan sungguh Yesus mati bagi kita dan kita menerima-Nya. Oleh karena itu, pemberitaan Injil senantiasa akan menantang orang yang mendengarnya untuk mengakui keberdosaan dirinya dan membawa orang itu pada pertobatan. Sebab Allahlah yang dalam Yesus Kristus yang sanggup menyucikan orang itu dari segala dosa dan kejahatan (1 Yoh 1:5-10).

Kebenaran itu akan memerdekakan kita dari rasa takut akan penghukuman yang akan datang karena Yesus Kristus sendiri telah menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Kebenaran itu memerdekakan kita dari rasa cemas akan kehidupan masa depan sebab Yesus telah bangkit dari antara orang mati dan hidup selamanya serta senantiasa jadi perantara kita. Dia telah menyelamatkan kita maka kita akan diselamatkan-Nya lagi.
Dia sanggup karena Dia berkuasa. Setelah Dia bangkit, segala kuasa di bumi dan di sorga ada di tangan-Nya (Mat 28:18). Itu berarti manusia yang telah ‘dirajai’ oleh Iblis semenjak Adam menyerah pada tipu dayanya dibebaskan oleh Kristus. Segala kuasa di bumi ada di tangan-Nya itu berarti Iblis telah dikalahkan. Kejahatannya telah dipatahkan kuasanya. Kegelapan disingkapkan oleh terang kebangkitan Kristus.

Sekarang ini yang terjadi adalah peperangan antara kebenaran Kristus yang menang dengan kepalsuan Iblis yang berusaha terus membuat manusia jatuh lagi ke dalam dosa. Peperangan ini telah dimenangkan oleh Kristus dan akan dimenangkan-Nya lagi. Bagi orang-orang percaya, kita telah lebih daripada pemenang karena kemenangan Kristuslah yang dianugerahkan pada kita (Rom 8:37).
Cara pandang ini akan membawa kita pada kehidupan berkemenangan. Tidak takut lagi pada si jahat dan digentarkan oleh kuasanya. Mereka telah kalah. Masakan kita akan menyerah pada roh-roh yang lemah itu dan yang telah dikalahkan? Bila mereka seakan-akan berkuasa maka kita tahu kuasanya itu terbatas dan tidak untuk selamanya. Itu penghiburan kita akan peperangan melawan kejahatan. Kejahatan telah dikalahkan oleh kebaikan Kristus dan akan dikalahkan lagi. Tinggal kita mau menjadi bagian yang mana? Mau jadi hamba kebenaran atau hamba kejahatan?

Septa Widodo Munadi
ditulis pertama kali di Godong pada 30 Oktober 2010 selesai pk. 07.00
Diedit ulang & disampaikan pada Kebaktian Doa Pagi di GKI Tegal
30 Oktober 2012 pk. 06.00 - 06.40



Lagu:  NKB 87 :1,3
       NKB 12 : 1-3

JUNJUNGAN YANG KUPILIh ( NKB 87)


1.        Junjungan yang kupilih, Yesusku Penebus.   Yang bangkit dari mati berkuasa seterus.
      Kendati banyak orang mengejek, mencela,   kuikut suaraNya lembut mesra.

Ref.
Benar, benarlah hidup Yesusku. Bersamaku di jalanku suaraNya kudengar
Benar, benarlah hidup Yesusku. Dimana Dia kudengar? Di dalam hatiku.

2.       Dimana, kapan saja kasihNyapun jelas. Di saat ‘ku gelisah dihiburku lekas.
      Di hujan, angin ribut, dipimpin langkahku’   ‘ku yakin, kami nanti ‘kan bertemu.

3.                   Menyanyilah umatNya, memuji Tuhanmu!
Nyanyikan Haleluya, agungkan Rajamu.
Harapan bagi orang yang mau mencariNya,
sebab Yesusmu hidup selamaNya.

o Tuhanku, ‘kau datang ke dunia (NKB 12)

1.                    O Tuhanku, ‘kau datang ke dunia, untuk menghapus dosa umatMu.
Bagai seekor rusa yang dahaga, padaMu, Tuhanku, merindu hatiku.
 
Ref.
Aku berserah, ya Tuhan, padaMu,
ku b’rikan bagiMu seluruh hidupku.
 
2.                   ‘Ku bersedih kar’na tekanan dosa dan jiwaku terkungkung dalam g’lap.
Kini berikan damai dan sentosa, tahirkan diriku dan dosa pun lenyap.
 
3.                   O Roh Kudus, berikanlah karunia, hancurkan kuasa setan dalamku.
Jadilah pandu dan terang s’lamanya dan bagi Tuhanku siapkan hatiku.
 
4.                   Bila kelak berakhirlah dunia, di sisiMu ‘ku akan berteduh.
Dan kini bak peronda yang berjaga, begitu jiwaku menanti datangMu.


Rabu, 07 November 2012

Bahaya Kesepian dalam Persekutuan

Bahan Renungan : Kejadian 4:6-16 dan 2 Korintus 2:5-11

Namanya Vicenzo Riccardi, ditemukan sudah mati selama 13 bulan di Southampton, New york. Tubuhnya tersandar di kursi di depan TV dan TVnya masih hidup.


Bagaimana mungkin orang yang hilang lebih dari setahun dan tidak ada seorang pun yang merasa kehilangan?

Dimanakah keluarganya? Mengapa listriknya masih hidup di rumahnya?
Ternyata, Riccardi adalah seorang yang buta, sehingga dia tidak pernah benar-benar menonton TV, sehingga ia hanya membutuhkan realitas maya itu untuk mengisi kebutuhan nyata akan teman.
Itulah kenyataannya. Ia menjadi pribadi yang kesepian. Terasing.

Selain keadaan yang memang benar-benar sendiri, kesepian bisa diakibatkan oleh beberapa hal seperti:
Pertama, dosa/kesalahan yang pernah dilakukan namun tidak dibereskan yang membuat diri merasa bersalah dan tidak layak sehingga yang ada adalah penolakan diri/menutup diri, contohnya: Kain setelah membunuh adiknya, Habel.
Kedua, Penderitaan/malapetaka yang sedang menimpa seseorang, contohnya : Ayub yang saleh namun kehilangan harta kekayaan dan anak-anaknya bahkan ia terjangkiti sakit borok yang memilukan. Kesepiannya bertambah dengan tuduhan dari sahabat-sahabatnya supaya dia bertobat karena menurut mereka ada dosa yang mungkin ia lakukan sehingga ia tertimpa musibah.
Ketiga, Tekanan hidup yang dialami tanpa dukungan orang lain, contohnya: Elia ketika melarikan diri ke Gunung Horeb setelah diancam akan dibunuh oleh Izebel karena 450 nabi palsunya telah dikalahkan Elia. Elia merasa kesepian karena ia menganggap hanya tinggal dirinya yang menyembah Tuhan Allah di Israel.

Kesepian tersebut membuat orang menjadi kosong/hampa. Seseorang yang kosong tidak akan dapat mampu mengisi makna hidup bagi orang lain. Yang ada hanya upaya dirinya untuk terus diperhatikan, dipedulikan dan dilayani. Seperti vacuum cleaner / penyedot debu demikian pula orang tersebut di tengah-tengah persekutuan. Apa saja akan ditariknya untuk memuaskan hasrat dalam dirinya yang tak terpuaskan.

Kesepian menimbulkan kekosongan dalam jiwa seseorang. Contohnya: seorang perempuan Samaria dalam Yohanes pasal 4 yang pernah bersuamikan 5  orang harus menimba air di sumur Yakub di tengah hari karena ingin menghindari perjumpaan dengan orang-orang yang biasa mengambil air di pagi atau sore hari. Namun Tuhan Yesus mau menjumpai dan bahkan menyapanya serta meminta air kepadanya. Dialog terjadi. Komunikasi dimulai oleh Yesus, seorang Yahudi. Perempuan itu mau mengakui bahwa ia adalah orang yang selalu kehausan, sehingga Ia meminta Tuhan Yesus memberikan Air Hidup yang akan memberikan kepuasan kekal.

Seorang yang kesepian akan terus mencari cinta bagi dirinya supaya bisa mengisi kekosongan jiwanya itu. Tapi apa yang terjadi bukanlah hubungan cinta kasih yang sejati tapi hubungan yang timpang – saling tergantung atau kodependensi. Relasi dengan orang lain tidak terjalin dengan sehat. Seperti contoh: Seorang yang kesepian bisa jadi akan menjadi aktifis gereja meskipun ia adalah seorang isteri seorang pemabuk. Dalam hati kecilnya ia ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia orang yang baik-baik saja meskipun bersuamikan seorang pemabuk. Tapi kenyataannya, ia marah akan keadaan yang tidak bisa ia ubahkan itu. Dirinya menjadi sangat tergantung dengan keberadaan suaminya yang pemabuk agar ia tetap terlihat “lebih saleh”.
Bisa jadi ia menjadi orang pertama yang akan sangat marah apabila suaminya itu bertobat dan berhenti mabuk. Ia marah karena semuanya telah dirusak oleh suaminya dan ia menjadi terbiasa dengan keadaan yang rusak itu.

Saya mau katakan bahwa kekosongan jiwa akibat kesepian tidaklah dapat ditutupi dengan tindakan-tindakan yang hanya terlihat / terkesan baik saja. Tapi harus ada perubahan dari dalam diri kita untuk sungguh mengakui bahwa kita sangat membutuhkan Pribadi yang penuh cinta kasih yang sanggup mengisi kekosongan jiwa kita itu. Pribadi yang mau menjadi sahabat kita, pribadi yang mau menerima kita apa adanya dan mengenal kita dengan baik. Itulah Kristus yang mau tinggal tetap dalam hati kita untuk menjadi sahabat kita.
Janganlah seperti Kain yang tidak mau menjadi sahabat bagi adiknya, Habel tapi malah membunuhnya. Sebagai akibatnya, ia malah terasing dan dibuang jauh dari hadirat Tuhan. Bahkan ketakutannya muncul ketika harus berelasi lagi dengan orang lain yang mungkin akan bertemu dengannya sehingga ia meminta tanda perlindungan dari Tuhan. Tanda itu memang diberikan tapi sayang ia tetap menjadi terasing. Kesepian.

Kristus pernah mengalami kesepian yang sangat amat lebih daripada kesepian yang pernah kita rasakan. Ia tergantung di salib untuk menebus dosa-dosa kita, namun demikian pada saat itu malahan murid-murid-Nya meninggalkan-Nya dan bahkan ada yang menyangkali-Nya dan  mengkhianati-Nya. Orang-orang yang mengelu-elukan Ia waktu masuk ke Yerusalem menjadi massa yang sama yang menyerukan “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”
Orang Farisi dan imam-imam kepala mengolok-olok Dia untuk turun dari salib supaya mereka menjadi percaya. Dan Bapa-Nya sesaat lamanya meninggalkan-Nya karena Ia harus menangggung dosa manusia.
 
Oleh karena itu, Yesus tahu akan keadaan kita bila kita kesepian, entah itu karena dosa, penderitaan atau tekanan hidup.
Ia ada bersama-sama kita saat kita berseru-seru dalam doa. Ia ada sebagai sahabat kita mendengar keluh kesah kita. Juga sebagai Tuhan yang sanggup memberikan jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita hadapi.

Bisa jadi orang yang kesepian adalah orang yang begitu kritis akan sesuatu hal yang ada dalam sebuah persekutuan. Tapi kekritisannya itu tidak dibarengi oleh kerelaan untuk mau menerima juga kritikan dari orang lain. Mau mengkritik tapi tidak mau dikritik. Apa yang dilakukannya itu hanyalah untuk menunjukkan eksistensi atau keberadaan dirinya semata. Semestinya kepedulian kepada orang lain haruslah didasari oleh kasih supaya juga membangun bukan sebagai upaya untuk merasa diri benar.

Orang yang kesepian dalam sebuah persekutuan bisa jadi juga adalah seorang aktifis yang sibuk dengan berbagai macam kegiatan dan peran. Kesibukan yang dilakukan tidak bisa menutupi kesepian seseorang. Kesibukan itu dilakukan hanyalah untuk mengisi kekosongan yang ada dalam dirinya. Dipikirnya dengan banyaknya peran dan aktifitas itu akan membuat orang lain peduli padanya dan membutuhkannya. Tanpa dia, orang lain tak berarti. Seakan-akan mau bilang”Aku ini orang penting”.

Sekarang, bagaimana kita sebagai gereja yang merupakan persekutuan orang-orang beriman menanggapi kesepian yang mungkin dialami oleh anggota jemaat?
Pertama, Gereja haruslah menjadi gereja yang “mengobati”
Kesepian itu berarti kehilangan makna hidup. Gereja harus mampu memberi jawab bagi anggotanya bahwa setiap orang itu memiliki peran masing-masing yang penting bagi pembangunan tubuh Kristus. Gereja perlu menunjukkan arah pembentukan pribadi yang sesuai dengan maksud dan kehendak Allah. Sehingga anggota jemaat mampu memaknai hidupnya dengan hal-hal yang berarti bukan malah terjerumus pada kekosongan hidup yang sia-sia seperti kehidupan dalam keterikatan kecanduan.

Kedua, Menciptakan persekutuan Kristen yang sejati.
Kita bisa saja mengadakan kegiatan-kegiatan yang mendorong orang untuk lebih akrab satu dengan yang lain seperti Minggu keakraban, Kebaktian Doa, Wisata/Piknik, Kebaktian Padang, Retreat, Jalan Santai, dll. Namun persekutuan sejati timbul dari dalam hati yang tulus yang mau saling menerima satu dengan yang lain. Jangan sampai kita menjadi asing di tengah kerumunan orang dalam persekutuan karena kesepian kita yang belum kita atasi. Oleh karena itu, dalam persekutuan Kristen perlu ditandai dengan saling mengasihi, saling memikirkan kesejahteraan yang lain dan saling menasehati dan menghibur. Itu pasti akan menguatkan persekutuan kita dalam Kristus.

Ketiga, Gereja haruslah menjadi persekutuan yang mengampuni.
Gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Orang-orang dipersatukan dalam iman kepada Kristus yang telah menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Orang-orang berdosa yang dibenarkan dalam Kristus itu tidak lagi bisa bermegah akan kesalehan pribadinya sebagai dasar menerima orang lain, namun hanya karena kasih karunia Allah.
Oleh karena itu, apabila dalam jemaat ada orang yang jatuh dalam dosa (yang bisa berakibat orang tersebut seperti Kain) maka gereja dipanggil untuk bisa mengampuni dan merangkul kembali dalam cinta kasih Kristus.
Bukan malah menjadikannya bahan gunjingan atau olok-olokan. Karena kita pun harus menyadari bahwa kita bukanlah orang yang sempurna dan rentan akan kelemahan. Mari kita baca surat Rasul Paulus:
2 Korintus 2: 5-11
Amin.

Tegal,
Septa Widodo Munadi
(disampaikan di Kebaktian Doa di GKI Tegal - Jumat, 24 Agustus 2012)

Lagu pujian :  
NKB  49 :1,3
NKB 201  :1,2

Tuhan yang pegang (NKB 49)


1.                  Tak kutahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya kuharapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ku gelisah akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus. Maka hatiku tenang.

Ref.
Banyak hal tak kufahami  dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.

2.                 Makin t’ranglah perjalanan, makin tinggi aku naik.
Dan bebanku makin ringan, makin nampaklah yang baik.
Di sanalah t’rang abadi, tiada tangis dan keluh;
Di neg’ri seb’rang pelangi, kita k’lak ’kan bertemu.

3.                 Tak kutahu ‘kan hari esok, mungkin langit ‘kan gelap.
Tapi Dia yang berkasihan melindungi ‘ku tetap.
Meski susah perjalanan, g’lombang dunia menderu.
DipimpinNya ‘ku bertahan sampai akhir langkahku.

di jalan hidupku (NKB 201)


1.                 Di hidupku ‘ku ada sobat yang setia,
yang s’nantiasa berjalan sertaku;
masa gelap dibuatNya terang ceria,
itulah Yesus, Jurus’lamatku.

Ref.
‘Ku tak cemas ‘kan jalan yang naik turun,
lewat lembah dan gunung yang terjal;
sebab Tuhan berjalanlah di sampingku,
memimpin ‘ku ke Neg’ri yang kekal.

2.                 O kasihNya besarlah tiada taranya
dengan rela Dia mati bagiku;
kepadaNya kus’rahkan jiwa dan raga,
sejak itu Dia bimbing ‘ku s’lalu.

Selasa, 25 September 2012

Beritakanlah !!!


Hymne “Amazing Grace” digubah oleh John Newton sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang dia terima sehingga mengubahnya dari seorang penjual budak menjadi pejuang pembebas perbudakan. Orang yang dulunya tidak menghargai seorang manusia menjadi orang yang mencintai kemanusiaan. Lagu “Amazing Grace” telah menginspirasi banyak orang akan besarnya kasih Allah pada orang berdosa. Tak peduli seberapa buruk masa lalu kita, Kristus mencintai kita dan menginginkan kita menerima kasih-Nya untuk dipakai menjadi pewarta kasih-Nya.
Rahab (pelacur yang menyelamatkan 2 pengintai di Yerikho), Rut (perempuan Moab), dan Batsyeba (istri Uria yang pernah berzinah dengan Daud) pada Matius 1 : 5-6 disebutkan sebagai perempuan-perempuan yang tercatat dalam silsilah Yesus Kristus, sang Juru Selamat. Masa lalu mereka suram. Tapi mereka dipakai Tuhan menjadi bagian dalam rencana keselamatan manusia. Perempuan Samaria di pinggir sumur Yakub –yang kita tidak tahu namanya- telah menjadi pemberita Injil di kotanya karena pertemuannya dengan Yesus. Sukacitanya bertemu Mesias pendorong untuk memberitakan-Nya  membuat dia lupa akan keadaan dirinya yang tercela telah bersuamikan 5 orang (Yoh 4:1-42).
Status dan keadaan masa lalu seringkali jadi penghalang bagi kita untuk memberitakan Injil. Kita cenderung takut kalau orang malah berbalik mencela saat melihat keadaan kita. Kita jadi rendah diri. Intimadasi dari si jahat seakan menekan kita jika kita ingin memberitakan kabar baik dari Allah dengan menunjukkan kelemahan kita itu. Penghalang itu harus disingkirkan agar kita punya keberanian memberitakan Injil pada orang lain. Kasih karunia Allah harus pertama-tama kita terima dan alami sendiri telah mengubahkan hidup kita sebelum kita melangkah untuk menjadi pewarta kasih-Nya dalam Kristus Yesus.

(Pernah diterbitkan sebagai bahan Pendewasaan Iman Warta Jemaat GKI Tegal)

Ads Inside Post